Angpao Jadul Era 80 an




Angpao Apasih sebenarnya angpao itu? Hasil penelusuran saya, angpao berasal dari bahasa pinyin ; hong bao yang artinya amplop merah berisi sejumlah uang sebagai hadiah menyambut tahun baru imlek. 

Istilah  angpao saat ini telah mafhum digunakan masyarakat kita secara umum. Penggunaan istilah ini mungkin mengacu pada esensinya yaitu hadiah lebaran untuk anak-anak. 

Seingat saya yang original jawa, pada tahun 80 saat saya masih anak-anak (SD), hadiah hari raya itu di sebut sangu. Sebenarnya sampai kini istilah sangu juga masih biasa digunakan. 

Biasanya istilah yang dipakai orang jawa dalam menyebutkan sesuatu mengandung makna dan filosofi. Hal ini rasanya perlu di cari tahu, misalnya di tanyakan pada sesepuh yang masih hidup. Sebelum  sangu tergusur oleh istilah yang baru. Semoga hal ini tidak terjadi. 

Istilah sangu sebenarnya sampai saat ini masih sangat mapan di tengah gramatikal jawa. Dan maknanya tidak sekedar hadiah uang dalam amplop. Misalnya ungkapan ; "sori aku muk iso nyangoni dongo" (maaf saya hanya bisa memberi bekal hadiah do'a). Terkadang ada ungkapan " wes taksangoni slamet ae" (saya bekali do'a keselamatan saja). 

Sangu atau angpao (pupuler sekarang) dalam bentuk uang, dari waktu ke waktu terus berubah nominalnya. Tentu hal ini menyesuaikan nilai uang dari zaman ke zaman. Secara nilai memang beda jumlah nya. Tapi secara kebahagiaan batin bagi penerima (anak-anak) saya pastikan sama. 

Pengalaman pribadi saya di era tahun 80 an, saat berangkat silaturrahmi hari raya (ba'dan), ke rumah si-mbah dan saudara lainnya, mungkin tak jauh beda dengan para pembaca yang budiman. Khususnya yang dari pedesaan. 

Berangkat ba'dan, membawa botol remason (wadah minyak oles yang panas membakar kulit). Barang ini sepertinya sekarang sudah jarang atau mungkin sudah ber-mutasi. Atau masih ada, tapi hanya dikalangan orang-orang sepuh desa yang masih menggunakannya. 

Mengapa membawa botol remason/balsem ? Banyak alasan tentunya, saat itu anak-anak belum punya dompet tempat menyimpan uang, aman,  ada tutupnya, dan mudah di bawa. Dan uang koin identik dengan uang nya anak-anak, karena uang kertas relatif besar nominalnya.  Alasan penting berikutnya, kapasitasnya sudah di sesuaikan dengan estimasi calon isinya. 

Awal tahun 80 an, nominal tertinggi uang nya anak-anak (logam) adalah 100 rupiah.  Saat itu, uang logam yang beredar di pasaran mulai dari 5, 10, 25, 50 dan 100 rupiah. Pada tahun ini, seingat saya sangu/angpao yang biasa saya terima 25, 50 dan 100 rupiah. Bila menerima yang terakhir bisa dibilang madu. Manis sekali alias senang bukan kepalang. 

Nominal sangu/angpao yang kita terima saat itu bisa kita lihat secara langsung (cash) karena tanpa amplop seperti sekarang. Sehingga saya langsung tahu si-mbah sini dan sana  nyangoninya berapa dan berapa. 

Nominal sangu di desa saya saat itu (mungkin sampai sekarang)  sangat situasional. Desa saya murni kampung petani masyarakatnya hidup dari bertani di sawah dan ladang/kebun. Sehingga kelas sosial ekonomi di tentukan oleh luasan sawah dan ladang yang dimiliki. Siapa yang sawah ladang nya luas, dialah yang disebut kaya.

Situasi yang paling happy bagi anak-anak tahun itu adalah jika hari raya jatuh di musim panen cengkeh dan panen padi. Besar peluangnya menarima sangu koin 100 rupiahan. 

Ada yang sampai sekarang ku tak bisa melupakan. Mungkin saat itu diriku kelas 3 MI. Ada si-mbah yang memberi sangu dua keping logam, 100 + 50 = 150 perak.

Senangnya tak terkira, karena saat itu sangu terbesar adalah 100 rupiah. Diluar dugaan dan kebiasaan, dua keping saya terima dari satu orang. 

Rupanya si-mbah ini sedang panen kebun cengkehnya.  Rejekinya sedang melimpah. Hingga bisa memberi hadiah sangu lebih dari biasanya. Situasi seperti ini mestinya  tak jauh beda dengan sekarang. Semacam sudah menjadi hukum ekonomi persanguanperangpaoan.  Dimana stok melimpah, disitulah sedekah makin mudah dan murah.

Angpau dan sangu yang sudah mentradisi pasti mempunyai misi. Misi sederhananya bisa ditelusuri secara histori (kesejarahan). 

Bahwa dulu kegiatan anjang sana / silaturrahmi / ba'dan,  dilakukan oleh suatu keluarga dengan berjalan kaki. Berpindah-pindah dari rumah-ke rumah sesepuh, dan  sanak saudara yang  jauh lokasinya. 

Bagi anak-anak ini perkara yang membosankan. Hingga setidaknya sangu atau angpao  sebagai hiburan dan nutrisi hati. Untuk membayar lelah menempuh perjalanan silaturrahmi. (...)


KangNoer, Puri Jepun, 25 Mei 2020

Comments

  1. Mantap. Anda telah menancapkan Catatan Sejarang penting

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhhhhh... Pentingnipun teng pundi nggih yii.. ?

      Delete
  2. Hung pao gandengane biasane khong xi fa chai hung pao nha lai

    ReplyDelete
  3. Dan jika, ingin merasakan manfaat hukuman perekonomian itu. Jangan menunggu panen cengkeh dulu, kita harus melangkah sedikit lebih maju... Lampauhi.... Kwkkwkwkw

    ReplyDelete
  4. Ingin rasanya kembali ke masa itu...dapat sangu

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia