Setiap muslim yang terus berusaha taqorrub kepada Alloh, perlu selalu berusaha mengenali diri sejauh mana perjalanan hidupnya telah sejalan dengan kehendakNya. Menetapi kehendakNya, bukanlah perkara yang mudah. Diperlukan perjuangan dan melatih diri dengan penuh kesungguhan. Menjadikan upaya meraih cintaNya sebagai hal utama dalam hidup.
Seperti halnya, "Alloh mencintai hamba-hambaNya yang bertaubat dan membersihkan diri (QS. Al-Baqoroh:222). Ayat ini mengisyaratkan sebuah perintah bagi orang beriman untuk bertaubat dan membersihkan diri. Sudah pasti setiap perkara yang dicintaiNya adalah perkara yang penting bagi seorang hamba. Untuk memenuhinya dibutuhkan suatu ilmu, hingga seorang hamba mampu mewujudkannya sesuai kehendak pemberi perintah yaitu Alloh SWT.
Taubat, sebagai akhlaq utama di dalam Syari'at Islam penting terus menurus dipahami hingga menetap dalam hati seorang muslim. Hujjatul Islam, Imam Alghozali menyebutkan bahwa menuju hamba yang bertaubat perlu menahami tiga unsur;
Pertama; Ilmu, dengan ilmu seseorang menjadi tahu bahwa maksiyat merupakan hijab antara hamba dengan Tuhannya. Dengan demikian dapat dipahami bahwa, jika hubungan seorang hamba terhijab dan terputus dengan Tuhannya maka hal itu merupakan kerugian yang tiada terkira.
Ilmu merupakan terapi kognitif yang mesti dilalui oleh seorang yang ingin menyempurnakan diri sebagai orang yang telah bertaubat. Tanpa ilmu yang benar tak mungkin dapat memeroleh nilai taubat yang sempurna.
Kedua, Keadaan batin atau terapi rasa. Pada tahap ini, seorang yang ingin menggapai derajat taubatannasuha merasakan adanya penyesalan batin. Menyesali kesalahan dan kemaksiatan yang telah diperbuat. Penyesalan yang membuatnya, bersikap berbalik 180 derajat atas kesalahan di masa lalunya. Kemaksiyatan kecil dan bahkan besar yang pernah dilakukannya dengan kesenangan dan nafsu berubah menjadi dibenci setengah mati. Mengingatnya adalah ketersiksaan karena rasa bersalah yang telah menetap dalam jiwanya.
Apabila, mengingat dan diingatnya suatu kemaksiatan masa lalu, tapi belum muncul perubahan rasa dari senang menjadi benci, rasa suka menjadi kecewa, rasa bangga menjadi malu, rasa benar menjadi bersalah. Maka belumlah seseorang disebut taubat yang sebenarnya.
Comments
Post a Comment