Koper Suci Mbah Imam Safari

 


Ada suatu pertanyaan penting yang menyelimuti pikiranku sejak aku masih bocah. Di masa kecilku, aku hidup bersama orangtuaku di rumah mbahku, bersama mbah putri (nenek), dan pamanku (adiknya bapak). Pertanyaan yang ku simpan itu urung kuungkapkan karena sebenarnya aku menunggu mbah putriku atau bapakku dan atau pamanku yang menceritakanya kepadaku tanpa harus kuminta. Ternyata sampai aku dewasa, justru kesempatan bersambung rasa itu makin langka saja. Perjalanan kehidupan membuat kami tak selalu bisa bertemu. 

Pertanyaan itu tentang mbah kakung (kakek), Imam Safari namanya. Nama itu sering disebut-sebut oleh sesepuh kampungku sebagai pendiri musola pertama di dusunku ini.  Secuil informasi itu sangat berharga bagiku yang menyenangi dunia santri. Hanya sedikit cerita tetapi itu cukup membanggakan dan mendorongku mencari tahu kisah-kisah lain tentang kehidupannya. 

Yang kutahu dari keluarga besarku adalah kakekku telah meninggal semenjak anak bungsunya masih di gendongan ibunya (nenek). Sementara empat kakaknya juga masih kecil. Belum banyak tau cerita kehidupan terutama kehidupan bapaknya. 

Tanggal 6 Juni 2019, dua hari setelah hari raya Idul Fitri 1440 H, pamanku (69 tahun) bersilaturrahim ke rumah bapakku (72 tahun). Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Setelah cukup membicarakan berbagai hal, aku ingin mereka berdua bersama-sama-di depanku menceriterakan kisah orang tuanya (kakek). Hal ini kurasa penting untuk menyambungkan pemahaman dan spirit keluarga dari generasi ke generasi terhadap kisah hidup leluhurnya. 

Mereka saling berpandangan saat aku mengajukan sebuah pertanyaan. Tapi mereka sepakat bahwa menyambungkan kisah seperti ini sungguh penting. Dan untuk membantu memulai, aku memancingnya dengan beberapa pertanyaan. Begini di antara  pertanyaanku saat itu, Apa saja yang panjenengan ingat dari sosok Imam Safari? Apa saja upaya dakwah yang telah beliau lakukan semasa hidupnya?

Bapakku mengawali ceritanya. Beliau, almarhum Imam Safari adalah orang yang sangat kuat agamanya, dan sangat bersemangat mengajari putranya untuk bisa mengaji. Saat aku (bapak) masih berusia enam tahunan, setiap sebelum Subuh dibangunkan dari tidur lalu disunggi (digendong di atas pundak) menuju ke kali/sungai (200 meter sebelah barat rumah). Tujuannya untuk diajak buang hajat, membersihkan diri dan berwudhu. Kemudian kembali, menuju musolanya untuk solat subuh berjamaah. 

Musola tersebut adalah bangunan sederhana, berlantai tanah, beralas kloso (anyaman daun pandan), dindingnya dari gedhek (anyaman bambu). Penerangannya adalah lampu ublik (lampu minyak) yang dibawa dari rumah setiap akan solat di dalamnya. 

Setelah jamaah Subuh selesai, Imam Safari mengajari anaknya mengaji (membaca Al-Quran). Kegiatan mengaji yang sungguh luar biasa, sebuah lampu ublik di taruh di dekat Al-Quran, sehingga tulisan Al-Quran yang remang-remang itu bisa terlihat dan bisa dibaca. 

Bapak menambahkan, sambil menghela nafas penyesalan, "Sayang beberapa tahun kemudian aku (bapak kecil) kejatuhan buah kelapa cumplung (kelapa yang dibolong tupai) tepat di kepalanya, hingga cumplung-nya pecah. Sudah pasti sakitnya tak terkira. Peristiwa itulah yang menyebabkan pendengaran dan penglihatan bapak berkurang. Karena peristiwa itu kegiatan belajar dan mengajinya kemudian menuai hambatan fisik. 

Dari lima bersaudara, bapakku adalah anak ke tiga. Sedangkan paman adalah anak keempat. Paman kemudian menambahkan cerita tentang surau yang pernah didirikan oleh Imam Safari.  Katanya, posisi surau itu di sudut/pojok pekarangan rumah sebelah barat daya (sebelah kiri jika menghadap ke barat). Terdapat banyak santri yang ngaji di surau itu. Beberapa orang (sekarang sudah meninggal), pernah bercerita tentang pengalaman menjadi santri yang mengaji di surau sederhana mbah Imam Safari. 

Dari cerita pamanku, beliau juga punya sebuah pengalaman. Saat usia tiga tahunan pernah disunggi kakek. Disunggi untuk diajak ziarah ke makam orang tuanya di Dusun Nggalih yang jauhnya sekitar tiga kilometer dari rumah. Hanya itu pengalaman yang paling diingat oleh pamanku tentang bapaknya. Hanya itu saja, dari anak usia tiga tahun tentang sosok bapaknya. Bahkan untuk menggambarkan ciri-ciri fisiknya pun ia tak mampu mengingatnya. Karena setelah ziarah itu, tak lama kemudian Imam Safari meninggal dunia. 

Kisah yang paling aku sukai adalah cerita tentang pengalaman Imam Safari mencari ilmu di pondok pesantren. Ternyata beliau mondok sangat jauh dari rumah. Lebih kurang lima ratus kilometer dari Trenggalek, yaitu di Banyawangi. Ia mondok sangat lama, kur-kuran tahun (di atas dua puluh tahun). Pada waktu itu sekitar tahun 1920-an Imam Safari berangkat mondok bersama temannya. Seorang remaja dari Dusun Mijen Munjungan, dengan berjalan kaki. Bekal yang dibawa nasi karak (sisa nasi yang dikeringkan). 

Saat mondok di pesantren yang pertama, beliau nyambi (kerja sampingan) menjual daun sirih dengan memikulnya keliling kampung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal itu dilakukan hampir setiap hari selama bertahun-tahun. Suatu hari saat perjalanan menjual daun sirih, seseorang menawarkan mengajaknya untuk mondok dan bekerja di tempatnya. Dan ternyata, Imam Safari menyetujui tawaran itu. Ia pun pindah ke pondok pesantren yang baru. Entah bagaimana ceritanya kepindahannya ini, tak sepengetahuan temannya yang dulu berangkat mondok bersama. Waktu terus berjalan, bertahun-tahun. 

Singkat cerita, teman yang dulu berangkat mondok bersama, pulang. Maka ditanyalah ia oleh orang tua Imam Safari, Di manakah temanmu, si Imam Safari, kok tidak ikut pulang? Orangtua Imam Safari terkejut mendengar jawabannya. Ternyata mereka telah bertahun-tahun berpisah dengan Imam Safari. Ia sendiri juga tidak tahu kabar temannya itu. Dan bahkan ia mengira bahwa Imam Safari sudah pulang ke Munjungan lebih dulu, ketimbang dirinya. Tentu saja setelah kejadian ini semua jadi mengkhawatirkan keadaan Imam Safari. 

Maka setelah beberapa tahun menunggu kabar, dan tak kunjung ada berita datang, keluarga memutuskan untuk nylameti ‘kirim doa selamatan untuk orang yang telah meninggal’ si Imam Safari.  Keluarga menganggap Imam Safari telah meninggalkan dunia. Keluarga mendoakan dan mengikhlaskannya supaya arwahnya tenang di sisi-Nya. Dan seandainya ternyata masih hidup, keluarga berharap ia segera pulang. 

Atas izin Allah SWT, setelah ritual slametan itu, suatu hari Imam Safari di pondoknya tak henti-henti glegeken (bersendawa). Anehnya, saat bersendawa tersebut, ia merasakan dan membau makanan apem di mulutnya, padahal ia tak pernah memakan makanan itu sebelumnya. 

Kejadian sendawa berasa dan beraroma apem ini segera diceritakan kepada kyai pondoknya. Mendengar cerita itu Sang Kyai berkata, Awakmu dikangeni keluargamu, ndang toto-toto, lan ndang balio!” (Kamu dirindukan keluargamu, segera berkemas dan segeralah pulang!) Perintah kyai pun langsung dilaksanakan. Setelah berkemas, Imam Safari berpamitan dan bergegas pulang. 

Tak bisa dibayangkan harunya keluarga saat Imam Safari yang disangka telah almarhum itu ternyata masih sehat walafiyat. Setelah menata kehidupan di kampung kelahirannya, Imam Safari pun menikah. Menyunting seorang gadis ingusan bernama Kadijah yang usianya masih belasan tahun. Sementara Imam Safari saat itu telah berusia hampir 50 tahun.  Masa muda Imam Safari dihabiskan di pesantren Banyuwangi. 

Singkat cerita, saat usia kurang lebih 56 tahun beliau dipanggil menghadap Sang Kholiq. Meninggalkan lima anak yang masih kecil-kecil dan belum ada yang bersekolah. Anak pertama dan kedua adalah perempuan, anak ketiga dan keempat laki-laki. Sedangkan anak terakhir adalah perempuan yang saat Iman Safari meninggal, ia masih dalam gendongan ibunya, Kadijah. 

Terharu dan trenyuh. Betapa Kadijah beserta anak-anaknya yang belum mampu apa-apa, berjuang menghidupi keluarganya. Seorang perempuan sebatang kara, di zaman itu, di kampung terpencil, di tepi laut dan pinggiran hutan. 

Di waktu paman telah praremaja, ia pernah menemukan sebuah koper besi di kamar bapaknya (almarhum Imam Safari). Kemudian koper itu dibuka isinya lembaran-lembaran kitab kuning dan buku-buku pondok pesantren. Karena belum tahu arti pentingnya benda-benda itu, koper itupun tak dirawat sebagaimana mestinya, sehingga mungkin hilang terbawa banjir bandang. Sekarang, baru terbayangkan, bukankah benda-benda dalam koper besi  itu adalah oleh-oleh mbah Imam Safari yang sangat berharga? Bukankah kitab-kitab itulah yang membuat Imam Safari berpuluh-puluh tahun sampai menua, nyantri, mondok di Banyuwangi?

Seandainya Imam Safari saat ini bisa berbicara kepada kami para dzurriyahnya, beliau akan mengatakan, Tugas kalian semua adalah menemukan koper itu, jika tidak ketemu, maka lembaran-lembaran isi koper itu sebenarnya tidaklah hilang. Tapi berada di madrasah-madrasah, pondok-pondok, sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Teruslah kalian cari dan cari. Itulah cahaya yang dulu aku perjuangkan mencarinya sampai menua. Janganlah berhenti belajar, bahkan sekalipun telah menjadi pengajar. [...]



Comments

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia