Melukis Mimpi di Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 merupakan sebuah peristiwa mutakhir di abad 21 ini, yang tak terkira sebelumnya. Adalah sebuah fakta tak terbantah oleh nalar yang waras. Bahwa suatu masa dengan segala peristiwanya bukanlah milik manusia. Sama sekali bukan. 

Jangankan suatu waktu yang jauh di depan. Esok hari saja, kita tak pernah tahu pasti apa yang akan terjadi. Hari ini kita berencana tentang aktifitas hari esok. Seakan hari esok pasti kita miliki. Ternyata manusia hanya bisa dan berpunya rencana. Esok hari belum tentu sesuai dengan yang kita kira.

Matahari akan selalu terbit pada waktu dan tempat yang sama dengan kemarin. Tetapi arak-arakan awan dan mendung belum tentu sama seperti sehari yang lalu. Kapan hadirnya panas dan hujan pun juga bukan kuasa manusia. Untuk berfikir yang sesederhana itu manusia sering lupa. 

Sebagai penduduk bumi manusia harusnya sadar diri. Bahwa adanya karena diadakan, hadirnya karena dihadirkan, hidupnya karena dihidupkan, tumbuh dan kembangnya karena ditumbuh dan dikembangkan. 

Di atas ketidak kuasaan itu semua, manusia diberi kuasa untuk memimpin diri dan lingkungannya (kholifah). Berbekal karunia Tuhan berupa nafsu, akal dan petunjuk hidup dari Sang Pencipta. 

Dengan nafsu; rasa lapar menggerakkan untuk makan. Dari situ manusia bertahan hidup. Dengan akal manusia berkreasi hingga mampu mengatasi hambatan dan persoalan hidupnya. Dengan petunjuk-Nya derajad manusia meninggi, karena terbimbing menemukan perilaku mulia sebagai pembeda dengan mahkluk lain di sekitarnya. 

Dengan modalitas nafsu, akal dan spirit Ketuhanan manusia melukis mimpi. Mimpi mampu menyelesaikan yang sulit menjadi mudah, yang jauh menjadi dekat (terjangkau), yang berat menjadi ringan. Bahkan memimpikan keindahan, kebermanfaatan, kemuliaan, dan kebahagiaan, serta keabadian. 

Untuk memperindah lukisan itu, latar kehidupan ini tersaji dengan sangat dinamis. Adakalanya terang adakalanya gelap. Terkadang panas, terkadang dingin dan hujan. Adakalanya gersang, dan adakalanya subur bertabur warna-warni bunga. 

Siapa sangka kehidupan yang berjalan dengan baik-baik saja, tiba-tiba terjadi pandemi  Covid-19? Sebarannya yang cepat memaksa manusia melakukan social distancing. Hingga melambatlah denyut ekonomi, pendidikan serta semua urusan? 

Masa pandemi adalah masa yang pahit. Situasi sulit ini bukan untuk diratapi, tetapi untuk menguji siapa yang mampu mengendalikan, dan membuat lompatan perubahan. Mengawalinya dari melukis mimpi, dan bersikap optimis serta yakin bahwa akan selalu ada  kenaikan dari setiap ujian. 

Bukankah tampak gagahnya seorang pelaut adalah ketika ia berada di atas perahu disaat ombak dan badai sedang menyatru? Dan heroisme dalam memenangkan pertarungan itu kemudian menjadi karya seni lukis yang indah, meggetarkan dan abadi. 

Melukis mimpi di masa sulit adalah menumbuhkan sikap optimis. Meneguhkan keyakinan bahwa manusia dengan segala perangkat pemberian Tuhan, diberikan kemampuan untuk menjadi makhluk terbaik. Makhluk yang selalu belajar, berubah menjadi semakin maju dan kreatif.

Perilaku melukis mimpi bagi seorang pelajar adalah menetapkan cita-cita tinggi dan mulia. Kemudian dengan penuh kesadaran memantaskan diri untuk menggapainya. 

Melukis mimpi bagi orang berilmu adalah, semakin haus mendalami ilmu  dan menuliskannya. Menuliskan pengalaman hidup, gagasan dan hasil perenungannya untuk menyuburkan budaya keilmuan dari masa ke masa. 

Maka teruslah melukis mimpi, bahkan sekalipun di masa pandemi. Temukan kebiasaan baik baru dan terus menulislah. Karena berbuat baik dan menulis tentang kehidupan ini, ibarat pena dan tinta yang berkolaborasi menghasilkan sebuah lukisan indah nan memesona sepanjang masa. [...]

Comments

  1. Semoga lukisan yang dibuat akan selalu indah dan membawa keceriaan

    ReplyDelete
  2. Kan kulukis mimpi-mimpi itu
    Dalam ,dalam mulus dan terjal,dalam tangis dan tawa...luarbisa ustdz...

    ReplyDelete
  3. Tiada henti untuk melukis mimpi dan mewujudkannya,
    Sangat menikmati bahasa kata dan kalimat yang tersusun

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia