Literasi, Spirit Baru di Masa Sulit
Belum juga ada tanda-tanda usai. Semenjak Maret sampai November 2020 situasi pandemik Covid-19 masih stabil menghantui keseharian manusia, termasuk Indonesia. Semua urusan menjadi dilematis, terlebih urusan ekonomi dan pendidikan.
Jika kegiatan ekonomi dibebaskan tanpa pengetatan untuk mengurangi kerumunan massa, klaster baru pasti muncul. Demikian juga dengan pendidikan. Jika sekolah dibuka kembali, anak-anak rawan menjadi korban.
Beraktifitas adalah nafas kehidupan. Berlama-lama berhenti beraktifitas, bukan tambah enak di badan. Badan makin berat, pikiran makin penat. Inilah yang biasanya menghantui orang-orang yang purna tugas, post power sindrum.
Karena itulah istilah "roda" dan "kehidupan" sering dilekatkan. Hidup itu mesti bergerak. Kreatifitas manusia lah yang membuat terjadinya gerakan.
Makin kreatif seseorang, makin encer pikirannya dan makin lancar peredaran darahnya. Supaya kondisi ini terjaga dalam diri seseorang, maka ia butuh kesibukan dan tantangan.
Perilaku kreatif manusia, antara lain karena munculnya upaya manusia mencari solusi atas hambatan yang dihadapi. Dengan tangan, manusia tak mampu memotong kain, maka dengan kreativitasnya manusia mencipta gunting. Dan seterusnya.
Hambatan, kesulitan, bahkan bencana sekalipun merupakan pelajaran yang menggerakkan daya kreatif manusia untuk mengatasinya. Maka lahirlah produk-produk kreatif, hasil karya manusia. Baik yang sederhana maupun yang rumit (high technology).
Banyak kalangan menyikapi masa pandemi dengan spirit baru. Komunitas guru misalnya, ramai-ramai belajar literasi. Mereka membentuk kelompok-kelompok munulis bersama. Menulis menjadi kebiasaan baru. Mereka mengaku bahwa baru kali ini benar-benar melakukan praktik menulis.
Banyak tulisan dan buku terbit, bak jamur di musim penghujan. Terbitnya tulisan dan buku-buku baru ternyata membawa kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri. Baik bagi penulis, komunitas maupun pemerintah. Karena geliat literasi pertanda baik bagi dinamika keilmuan. Yang juga berarti ada upaya menyongsong kemajuan peradaban.
Produktifitas para penulis pemula sungguh luar biasa. Belum pernah ada sebelum pandemi ini terjadi. Di tengah kecemasan adanya wabah, hingga banyak orang berada di rumah, spirit literasi meledak begitu dahsyad. Bukan hanya pelatihan, seminar dan webinar, mereka juga membentuk komunitas-komunitas menulis di media sosial.
Literasi menjadi spirit baru di masa sulit. Massif nya euforia berliterasi di masa pandemi bahkan mengalahkan Gerakan Literasi Nasional yang telah dilaunching Kemendikbud pada tahun 2015 yang lalu. Yang disokong oleh Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015.
Pertanyaannya kemudian adalah, apakah semangat literasi yang membaik ini, akan terus lestari? Ataukah akan pasang dan surut seiring dengan perubahan situasi?
Penting bagi kaum intelektual, yang bergerak dalam bidang keilmuan menggelorakan spirit literasi. Karena literasi sejatinya adalah aktifitas menanam, merawat dan melestarikan keilmuan. Dan sejarah telah membuktikan bahwa, aktifitas literasi segaris lurus dengan upaya manusia membangun peradaban melalui aktualisasi kualitas diri. [...]
Akan ada seleksi alamiah yang menguji konsistensi menulis, dan semoga kita tetap eksis....
ReplyDeleteAamiin...
DeleteBagus ustdz,,,
ReplyDeleteKita yang dewasa diberi kesempatan untuk aktualisasi diri,
Kami gr tingkat dasar dg pandemi ini...ga mentala sm ank ank ...