Me And The Child Are Enought

 

Foto Ilustrasi : google.com

Revitalisasi pembelajaran dalam keluarga telah benar-benar menemukan momentumnya. Terlebih bagi keluarga yang mempunyai anak usia sekolah dasar. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) barbasis aplikasi online ternyata banyak syaratnya. Syarat utamanya adalah kedua belah pihak ; guru dan murid harus sama-sama dalam kesiapan perangkat daring/online. Disinilah munculnya persoalan pembelajaran daring. Dimana tidak semua murid siap dengan perangkat daring. Juga sulitnya mengkondisikan terjadinya interaksi tatap layar/maya dalam satu waktu. Hingga pada akhirnya yang lebih dominan adalah guru meluncurkan tugas. Tugas belajar dari sekolah/guru bagi murid tingkat dasar membutuhkan pendampingan orang tuanya di rumah. 

Kesiapan orang tua di rumah dalam mendampingi proses pembelajaran menjadi penentu efektifitas hasil belajar. Bicara kesiapan orang tua ternyata bukan perkara yang sederhana. Beberapa masalah yang mempengaruhi kesiapan orang tua misalnya : 1) kesibukan kerja kantor 2) kompetensi, 3) ketersediaan waktu saat tugas diberikan oleh guru di jam tertentu, 4) pekerjaan rumah yang menumpuk (mencuci, memasak, menyetrika, membersihkan rumah) 5) dan lain-lain

Banyaknya agenda yang melekat pada keseharian orang tua menjadikan proses pendampingan belajar anak di rumah berjalan tidak khusyu'. Bahkan tak jarang membuat orang tua dirundung stres, anak sering menjadi korban dari meningginya emosi orang tua. Hal seperi ini biasanya terjadi saat orang tua menghadapi banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, sementara anak tak mudah diajak menyelesaikan tugas yang telah diberikan sekolah/guru nya. Terjadi dua situasi yang saling berlawanan. Orang tua ingin segera mengerjakan tugasnya sendiri sementara anak tak memahami situasi orang tuanya. Anak tetap pada kodratnya, yaitu mengerjakan apapun sambil bermain. 

Proses pendampingan belajar anak memang perlu situasi yang khusyu'. Khusyu' yang dimaksud disini adalah terbebasnya seorang pendamping (orang tua) dari semua urusan. Pikirannya tidak sedang berada di luar kegiatan belajar. Tidak memikirkan cucian yang menggunung, tidak memikirkan masakan, tidak ingin segera mengerjakan ini dan itu, tidak ingin segera pergi berbelanja, dan lain sebagainya. 

Sama halnya dengan khusyu' nya mengerjakan ibadah sholat. Menghentikan pikiran dan urusan apapun untuk hanya semata-mata membangun keintiman dengan Alloh SWT. Khusyu' dalam sholat digambarkan sebagai "me and God is enought", yaitu cukuplah hanya ada aku dan Alloh saja tak ada siapapun dan urusan apapun selama mengerjakan sholat mulai dari takbirotul ihrom sampai salam. 

Terjadinya "konflik" antara orang tua dan anak saat belajar bersama disebabkan karena hadirnya urusan lain di luar kegiatan belajar. Berjubelnya agenda rutin dan urusan yang belum terselesaikan, memenuhi pikiran hingga pendampingan kegiatan belajar tidak bisa khusyu'. Oleh karena itu, syarat pertama dan utama yang harus dimiliki oleh guru di rumah (orang tua) saat mendapingi belajar anaknya adalah sikap "me and the child are enought". Berangkat belajar dengan menegaskan di dalam hati dan pikiran suatu sikap bahwa "satu jam ini tak ada urusan yang lebih penting, kecuali mendampingi anak belajar".  

Bila sikap "me and the child are enought"  benar-benar dipraktikkan maka dipastikan proses pembelajaran (orang tua bersama anak) akan berlangsung penuh keintiman, menyenangkan dan efektif. Anak juga akan merasa nyaman (tidak terancam) saat belajar dengan orag tuanya. Tidak ada lagi banjir air mata, dan teriakan-teriakan penuh ancaman dari di ruang belajar rumah kita. [...] 


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia