Blendrang Akan Datang, Selera Sarapanku Lenyap

 

Suatu pagi di hari ahad. Seperti biasa memulai aktifitas dengan mengunjungi lapak sayur di dekat rumah.  Lapak sayur langganan ku ini sangat rekomended. Walaupun bukan toko sayur yang besar, tapi  isinya sangat lengkap. Saking lengkapnya, rencana belanja yang telah tersusun dari rumah, sering berubah total saat berada di toko sayur tersebut. Toko sayur ini berada di bagian depan rumah, dan baru saja selesai direnovasi. Lantainya dari keramik, bersih dan penataannya menarik. Managemen penjualannya pun cukup modern. Pembeli bisa memilih sendiri (swalayan) belanjaan yang diinginkan. Setelah dirasa cukup, penjualnya menghitung total harganya. Proses belanja sayur yang menyenangkan. 

Kegiatan berikutnya adalah masak bareng keluarga. Berbagi tugas dengan istri dan anak-anak. Kurang lebih satu jam proses memasakpun selesai. Tibalah saatnya persiapan sarapan bersama. Dimulai dengan mengambil nasi dari rice cooker, untuk didinginkan. Sewaktu menunggu nasinya dingin, tiba-tiba handphone ku bergetar-getar. Menandakan ada pesan baru yang masuk. Setelah ku buka ternyata adik perempuan yang beberapa hari lalu libur kuliah mengabarkan sedang perjalanan dari Munjungan Trenggalek kembali menuju Tulungagung (ma'had IAIN). Kalimat keduanya mengabarkan bahwa ia nanti akan mampir ke rumahku untuk menurunkan 'titipan dari emak". 

Pesan WA dari adik tersebut, seraya menghentikan aktifitas ku di dapur. Aku duduk terdiam dan membeku, sambil memandangi tulisan "titipan emak". Hati ku tercekat, pikiran melayang, wajah perempuan itu (ibu) memenuhi pikiranku. Pasti semalam tadi beliau mengisikan beras ke dalam karung, menggoreng ikan laut, menghangatkan sayur lodeh campur kembang cirang yang telah ia masak kemarin (blendrang). Yang terakhir inilah yang paling istimewa. Blendrang ; masakan sayur lodeh hari kemarin yang dihangatkan dan dihangatkan lagi. Khasiatnya (bumbunya) makin merasuk masuk, aroma cabe dan rasa pedasnya memadu menjadi satu.  Saling menyempurnakan. 

Ibuku adalah perempuan desa. Tak tahu manahu ilmunya orang sekolahan. Sehari-harinya jika tidak ada di rumah pasti sedang di sawah, atau di  tegalan (kebun) atau di gunung (kebun cengkeh). Anehnya, walaupun tak pernah berinteraksi dengan orang sekolahan, tekad menyekolahkan anak-anaknya sungguh mengagumkan. Kenapa ? karena ia tak pernah perduli bahwa ketika anaknya sekolah/kuliah penderitaan hidupnya akan bertambah berat. Harus memutar otak, berkeliling tetangga, dan membanting tulang menyaipkan anggaran biaya nya. 

Walaupun jauh dari kegiatan baca dan tulis layaknya intektual. Tapi dalam hal merekayasa cara membahagiakan anak nya (kususnya diriku) ibuku adalah ahlinya. Sangat tahu apa yang saya pikirkan. Bahkan tahu persis makanan kesukaan ku yang lama tidak ku makan.  Dan bukan sekedar tahu, tapi selalu berupaya apa yang menjadi kesenangan ku itu bisa sampai kepadaku. Saat memasak masakan kesukaan ku "blendrang" lodeh kembang cirang (kecombrang) sudah pasti beliau berfikir dan berdo'a "semoga  ada orang yang bisa membawakan (bisa dititipi) ke Tulungagung". Semata-mata demi  membuat anaknya senang. Inilah bentuk penerjemahan cinta sejati seorang ibu. Bahagianya jika bisa membahagiakan.   

Blendrang lodeh cirang pedas. Menu satu ini sungguh special. Karena cirang/kecombrang sebagai bumbu sekaligus bahan membuat blendrang lodeh hanya ada di musim tertentu. Karena itulah ibuku selalu mem-blendrangkan sayur lodeh nya yang satu ini sambil menunggu barangkali ada saudara datang dan dapat membawakannya ke rumah ku.  Anehnya dengan bahan yang sama, bumbu juga tak jauh berbeda percobaan saya membuat blendrang sendiri selalu gagal. Rasanya tetap jauh dari racikan ibuku. 

Kabar akan datangnya blendrang titipan emak di atas, membuat selera sarapanku pagi itu lenyap. Seleraku serta merta berpindah ke "bledrang" yang kurindukan dan masih dalam perjalanan. Tak ada lagi minat sarapan hasil masakanku sendiri. Karena sudah pasti tak sebanding dengan blendrang maha karya perempuan desa itu. Ibuku. 

Ibuku memang punya bakat meracik rasa masakan. Selain membantu bapak bertani, ia sering ditunjuk tetangga sekampungnya menjadi juru masak besar saat sedang ada hajatan. Para tetangga mengakui hal ini, sampai ada yang mengatakan "bumbunya sama, tapi beda tangan beda rasa". Yang dimaksud adalah  tangan sakti ibuku. 

Kawan...., nasi hangat bertabur sayur blendrang kembang cirang adalah pemandangan terindah pagi itu. Pemandangan yang bukan saja membelalakkan mata, tetapi juga menggoyang lidah dan membuat banjir keringat. Puncak dari menikmati sarapan pagi bersama blrendrang lodeh cirang pedas  yang kurindukan

Adaikan makanan nikmat di dunia ini jumlahnya ada seratus, maka blendrang cirang pedas produk ibuku ini kupastikan masuk di deretan lima besar.  Teksturnya saja yang tidak se menarik jenis makanan lainnya. Tetapi jika sudah bersekutu dengan nasi putih hangat di dalam mulut maka bisa "merem melek", tanda ter-amat nikmat.  Tulisan ini sekaligus kumaksudkan sebagai sertifikasi yang mengabadikan sejarah ditemukannya resep masakan ajaib "blendrang lodeh cirang pedas" maha karya perempuan desa nan-mulia. Ibuku.  

Dan,.... aku yakin demikian juga dengan ibu kita semua.  Sang juru memasak ter-enak, sepanjang masa. Blendrang adalah salah satu diantara buktinya. 

The power of blendrang. [...]

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia