Begitulah Kampung Kelahiranku Kawan
Hanya penyesalan dan permohonan maaf yang bisa ku katakan. Saat seorang teman (sahabati-Etik) yang mewakili teman-teman lainnya menghubungiku. Untuk membersamai mereka pergi ke kampung halamanku, Munjungan.
Aku sempat dilema memutuskan. Antara menolak atau meng-iyakan ajakannya. Karena secara "kepantasan", sepantasnya aku bersama mereka dalam agenda itu. Hajad berbelasungkawa ke rumah teman -kami- yang kebetulan satu kampang halaman dengan tanah kelahiranku. Kang Haji Nurul Amin dan Kang Ubaidillah. Semoga Arwah Ibunda diterima dengan Ridho-Nya di Surga-Nya Alloh SWT. Aamiin.
Beribu maaf kusampaikan. Aku tidak bisa bergabung. Karena sore itu ada suatu janji dan malamnya ada rapat cheking terakhir. Menyiapkan acara santunan yatim dan dhu'afa esok paginya.
Terbersit perasaan tak tega membiarkan mereka memasuki kampung halamanku, sedang mereka masih awam daerah Munjungan. Waktu sudah terlalu sore, kendaraan apa yang mereka gunakan?, drivernya bagaimana?. Itulah yang sempat melintas dalam angan-anganku.
Sambil mengurusi ini dan itu, akupun memantau perjalanan mereka. Sambil sesekali memberikan sedikit saran. Syukur ku... saat mengetahui dua jam kemudian mereka telah tiba di rumah duka dengan selamat.
Sudah pasti dan sudah ku duga. Dramatisnya perjalanan memasuki kawasan Munjungan Trenggalek menjadi cerita horor tersendiri. Bagi mereka yang masih kali pertama pergi ke sana. Rata-rata akan berucap "baru kali ini aku merasakan perjalanan se-ekstrim ini" . Perjalanan yang membuat senam jantung, bibir tak henti berkomat-kamit kalimah dzikir. Bahkan ada yang berucap janji "tak kan sudi kesini lagi", kapok (trauma).
Padahal kualitas jalan saat ini sudah cap "aspal korea" nan halus. Bayangkan empat tahun lalu dan sebelum-sebelumnya. Badan jalan mengelupas, penuh lubang, bebatuan koral berserakan, jurang menganga disamping kiri/kanan. Kerusakan itu, hampir di sepanjang jalan yang naik dan turun dalam kecuraman. Tiap hari laporan miris, berdarah-darah para pengendara mewarnai berita seputar jalan Munjungan.
Masyarakat dan komunitas sopir tak terhitung berapa kali ber-unjuk rasa di depan kantor bupati, kala itu. Berharap pimpinan daerah melihat langsung penderitaan orang munjungan melewati jalan satu-satunya ini. Jalan yang membuka akses isolasi mereka. Jalan yang jika rusak (tak bisa dilalui), berhentilah roda kegiatan dan ekonomi mereka. Karena akses menuju daerah luar terhambat.
Sebagai daerah pesisir pantai, wajar jika para pengunjung pemula spontan mengagumi. Setidaknya hamparan pantai itu menjadi obat pedihnya perjalanan yang baru ditempuh.
Kawasan tepian selatan pulau jawa memang cukup eksotis. Lautnya dalam, pasirnya bersih, ikannya cukup melimpah, gunung gemunungnya kokoh menjadi pembatas kawasan pantai. Beberapa lokasi telah mudah di jangkau oleh tujuan wisata. Misalnya pantai Sine, Popoh, Gemah, Prigi, dan lain-lain. Tapi khusus daerah Munjungan, saat ini masih belum menjadi kawasan yang mudah di akses. Jalanan menuju Munjungan masih menyimpan resiko terutama bagi orang luar daerah.
Pada akhirnya ada beribu kisah tentang kampung terisolir yang satu ini. Mulai dari medan perjalanannya, budayanya, kulinernya serta hasil bumi dan lautnya.
Ada banyak jenis tumbuhan darat dan laut yang tidak di takdirkan tumbuh di tempat lain. Cukuplah orang Munjungan saja yang punya dan menikmatinya. Sebut saja leminti dan cirang. Sudah pasti telinga orang luar Munjungan tak mendeteksi kosa kata itu. Apalagi lidahnya, pasti belum ter-instal di indra perasa. Dua jenis makanan itu hanya disediakan oleh Tuhan khusus sebagai hadiah bagi manusia Munjungan.
Kami mewakili rakyat munjungan mengucapkan selamat kepada bu Etik beserta rombongan yang telah sukses menginjakkan kaki di tlatah Munjungan. Terimakasih atas kunjungannya, semoga tidak kapok dan berkenan mengulangi di lain kesempatan. [...]
Sejak awal tahun 90 an aku sudah ke munjungan...
ReplyDeleteJalannya memang menantang.
Menantang maut..
Menantang kapok
Menantang untuk mengulangi...
Kita agendakan ke munjungan bersama Pak Nur
Monggo abah dg senang hati... Kersane pirso sak niki modele pripun..
DeleteWiihh.... Tulisannya sangat keren....
ReplyDeleteMengalir dan seakan mewakili perasaan saya saat perjalanan ke sana. Apalagi pulang tengah malam. Betul2 luar biasa...
Saya berharap di undang kesana oleh tuan rumah munjungan
Siap nda... Monggo kapan2..touring de mjgn..pas musim cirang
DeleteSdh banyak cerita tentang ekstrimnya jalur munjungan.. Menjadi penasaran. Seperti apa ya rasanya berkunjung ke kampung jenengan.
ReplyDeleteMugi2 konco2 sami kompak saget dolan ngriko p pri.. Kulo siap menyambut sak cekap ipun..
DeleteSuami dari adik saya menikah dengan orang dari kecamatan Bendungan Trenggalek, beberapa x berkunjung ke kec. Bendungan saya merasa jalannya sudah sangat ekstrim, tp katanya masih kalah ekstrim dengan jalan menuju Munjungan... Ooohh...
ReplyDeleteMungkin nggihb dina
Delete