Menyambut Revitalisasi Peran Pendidikan Dalam Keluarga
foto ilustrasi google.com
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama. Dalam keluargalah mula-mula seorang anak mengenali dunia barunya. Dasar-dasar pengetahuan dan nilai dikenali oleh anak semenjak ia berinteraksi dengan anggota keluarganya. Disinilah seorang anak merasakan sentuhan nilai kasih sayang untuk pertama kalinya. Sebuah nilai utama yang wajib dimiliki oleh seorang manusia. Tiadanya nilai kasih sayang bagi seorang manusia merupakan awal kegagalan dalam memanusiakan dirinya sendiri dan orang lain. Konfirmasi kasus kejahatan yang pelakunya anak-anak, sering kali karena faktor tidak terpenuhinya kasih sayang dalam keluarganya.
Bentuk kasih sayang orang tua dan kelurga terhadap anak sebenarnya tidak terbatas pada pemenuhan kebutuhan lahiriahnya semata. Tetapi tak kalah pentingnya adalah dekapan kasih sayang, sentuhan batin (emosi), suasana yang menyenangkan, serta pengembangan nilai spiritualitas sesuai dengan tingkat usianya. Sudah menjadi fitrah bagi manusia bahwa ia membutuhkan pemenuhan kebutuhan jasmani dan ruhaninya.
Pendidikan dalam keluarga seharusnya menjadi pendidikan yang penuh kasih sayang. Alangkah indahnya jika dekapan paling hangat orang tua kepada anaknya dilakukan saat mereka sedang belajar bersama.
-------------------
Tersadar, bahwa tugas guru itu sulit dan berat
Masa kedaruratan pandemi covid 19 telah berhasil mengembalikan anak pada alamat lembaga pendidikan pertama dan utamanya, yaitu keluarga. Dua puluh empat jam anak-anak berada di rumah. Penuh waktu bagi orang tua untuk mendidik sendiri anak-anaknya. Situasi ini sekaligus menjadi ujian bagi orang tua. Apakah tugas utama memberikan pendidikan kepada anak dalam keluarga telah dilaksanakan dengan baik dan benar ? Apakah suasana belajar bersama di rumah telah menjadi sarana orang tua menumpahkan kasih sayang kepada anak-anaknya ?
Pertanyaan di atas, sebagian telah terjawab. Bulan pertama (Juli) masuk tahun ajaran baru 2020/2021, media massa diwarnai berbagai berita kekerasan yang dilakukan orang tua saat mendampingi anak-anaknya belajar. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak perkara yang harus ditata dan persiapkan dari lembaga pendidikan yang satu ini (keluarga). Pertanyaannya, siapakah yang berwenang menata ? Mungkinkah intervensi pemerintah dapat menjangkau lembaga ini, dengan membawa program revitalisasi peran pendidikan dalam keluarga ? Dari mana memulainya ? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini, bagaikan pertanyaan yang muncul di tengah suatu perjalanan. Rasanya terlambat, tapi tetap penting untuk di pertanyakan.
------------------
Menyambut momentum revitalisasi peran pendidikan keluarga, akhir-akhir ini mulai terlihat adanya gerakan-gerakan pendahuluan. Secara samar-samar dan tanpa disadari mulai muncul perilaku di masyarakat yang menggambarkan sebuah cara berfikir baru bahwa bukan hanya sekolah yang berperan penting terhadap pembentukan pengetahuan, sikap dan ketrampilan anak. Sejalan dengan itu masyarakat juga mulai menyadari betapa banyak kerugian bagi anak jika beberapa hari bahkan bulan tidak masuk sekolah. Yang terakhir ini, menggambarkan bahwa keluarga belum siap menggantikan "sebagian" dari tradisi sekolah.
Kesenjangan dan Keberuntungan
Kita tentu belum lupa, beberapa tahun yang lalu lembaga pendidikan kebanjiran kritik dari masyarakat. Isu komersialisasi pendidikan, sekolah favorit, RSBI (rintisan sekolah berstandar internasional) dan lain-lain. Para pengkritik menuduh bahwa pemerintah melaui lembaga pendidikan telah membangun diskriminasi. Dikawatirkan kebijakan itu akan melanggengkan kesenjangan kelas sosial ekonomi masyarakat. Karena sekolah negeri yang berbiaya mahal hanya bisa di akses oleh kelompok masyarakat terbatas. Karena itu kebijakan tersebut harus dievaluasi. Walaupun disayangkan oleh Menteri Pendidikan kala itu, Mahkamah Konstitusi (MA) tak ragu membubarkan program RSBI pada tahun 2013.
Saat ini, ketika peran keluarga sebagai lembaga pendidikan direvitalisasi, kesenjangan pendidikan di sektor informal (keluarga) pun dipastikan akan semakin nyata. Faktor yang mendukung kesenjangan pendidikan dalam keluarga diantaranya ; keadaan sumberdaya tenaga pendidik (orang tua) dan ketersediaan sarana dan prasarana belajar di rumah. Dengan membayangkan dua komponen tersebut sangat mudah untuk menemukan fakta bahwa kwalitas pendidikan keluarga satu dan lainnya akan sangat berbeda.
Orang tua merupakan tokoh kunci pelaksanaan pendidikan dalam keluarga. Peran dan fungsi orang tua sangat vital dalam sukses dan tidaknya pendidikan dalam keluarga. Sebagai kepala sekolah sekaligus guru, kesadaran orang tua sangat menentukan terbangunnya swasana belajar dan upaya membelajarkan anak . Disinilah kemudian awal pembeda antara keluarga satu dengan yang lainnya. Ada orang tua yang sangat memahami teori mendidik, ada orang tua yang jadi inspirator bagi anaknya, ada orang tua yang pandai/mampu memilihkan lembaga pendidikan, ada orang tua yang awam teori pendidikan, orang tua yang tidak punya waktu mendampingi anaknya belajar, ada anak yang hidup bersama kakek/neneknya karena ditinggal kerja orang tuanya di luar kota/luar negeri. Walhasil pendidikan dalam keluarga akan lebih beragam model dan kwalitasnya sesuai dengan latar belakang kehidupan orang tuanya.
Tidak sulit menemukan anak yang berprestasi di sekolah, yang sebenarnya keluargalah faktor pendukung utamanya. Anak tersebut mempunyai orang tua yang sangat peduli. Mampu mengetahui dimana kelemahan (ketidak tuntasan) belajar anak nya dan berupaya mencari jalan menuntaskannya. Orang tua model satu ini, jika tidak mampu secara langsung membantu belajar anaknya maka ia akan mencarikan guru bantu dan atau memasukkan anaknya ke lembaga bimbingan belajar.
Bagi orang tua yang peduli dengan pentingnya swasana belajar dalam keluarga, ia akan memiliki berbagai teknik membelajarkan anak nya. Misalnya, selalu bertanya jawab dengan anaknya menjelang tidur, membuat tata-tertib belajar di rumah, membuat jadwal Qur'an time, memanfaatkan sampah kertas untuk membuat kuis, membiasakan berbahasa yang baik dan sopan, mengajak anaknya sholat berjama'ah, berdo'a sebelum melakukan aktifitas tertentu bersama anak, mengingatkan dan mengecek tugas, pandai memberi reward atas kemajuan anak, sekali waktu mengajak anak jalan-jalan ke toko buku, menyediakan media dan alat belajar, dan lain-lain. Bangunan swasana belajar sebagaimana contoh-contoh tersebut merupakan bagian dari hidden currikulum. Yaitu upaya terselubung yang dapat mendidik si-anak memiliki sikap perilaku yang di harapkan.
Tidak sampai hati sebenarnya untuk mengatakan bahwa begitu banyak anak yang kurang beruntung mendapatkan pendidikan dalam keluarga. Mungkin kehidupan keluarganya baik-baik saja, tetapi swasana belajar dan pendidikan anak tidak menjadi perhatian utama. Misalnya televisi tetap menyala saat anak sedang belajar, orang tua meyuruh anak belajar bukan mengajak anak belajar, orang tua menyuruh anak sembahyang bukan mengajak mereka sembahyang bersama, lebih mendahulukan keinginan lain dari pada memenuhi kebutuhan belajar anak. Tidak ada managemen waktu membelajarkan anak, dan tidak ada alat pendukung belajar yang disediakan. Bila anak berada di lingkungan keluarga yang seperti ini, mungkin bisa dikategorikan kurang beruntung.
Belajar dari Bojo Galak dan Mars Partai Perindo
Bojo galak dan mars partai perindo yang saya maksud adalah lagu yang cukup populer di tahun 2019. Keduanya setiap hari tersaji di layar televisi. Bojo galak selalu dinyanyikan di kontes dangdut yang acaranya dimulai sejak sore sampai hampir dini hari. Diiringi musik dangdut koplo, sarat dengan rangsangan bergoyang. Semua telinga menyukainya, mulai anak-anak sampai manula. Lagu yang liriknya mengolok-olok orang tua yang harusnya dihormati dalam keluarga itu sangat dihafal oleh anak-anak saat itu.
Demikian juga dengan lagu marsnya partai perindo. Satu tahun lebih tepatnya sebelum pemilu 2019 berlangsung, mars partai perindo selalu tayang setiap beberapa menit sekali. Mungkin belum ada dalam sejarah manapun mars lagu sebuah partai yang ditayangkan di televisi sesering itu. Diiringi dengan vedio heroik berbendera Indonesia dan lambang partai, berkibar-kibar indah sekali. Hingga lagunya pun melekat di otak masyarakat pemirsa televisi melebihi lagu kebangsaan dan lagu perjuangan. Bertenggernya mars lagu partai perindo di tiap menit layar televisi konon karena bos nya stasiun televisi adalah yang punya partai tersebut. Mau-tidak mau semua penonton televisi terkhusus anak-anak kala itu hafal di luar kepala.
Pelajaran yang bisa di ambil dari lagu bojo galak dan mars partai perindo bagi pendidikan dalam keluarga adalah strategi repetisi atau pengulangan. Suatu informasi yang terus menerus (berulang-ulang) diberikan kepada anak akan sangat efektif diterima dan merubah perilaku anak. Anak-anak se usia TK yang notabene belum bisa membaca tulisan sekalipun, ia mampu dengan fasih menyanyikan lagu bojo galak dan mars partai perindo. Belajar dari fenomena ini, maka rumah sebagai tempat dimana anak paling banyak menghabiskan waktunya, dapat dikelola sedemikian rupa hingga pendengaran dan penglihatan anak selalu kemasukan ilmu dan pengetahuan yang semestinya.
Mengevaluasi jam kerja
Jika pemerintah merasa penting untuk terlibat menguatkan program revitalisasi peran pendidikan keluarga, maka langkah-langkah nyata perlu dilakukan. Diantaranya adalah mengevaluasi jam kerja. Selama ini ASN bekerja 7.5 per hari selama lima hari kerja, atau 37.5 jam per pekan. Masuk kerja jam 7.30 dan pulang jam 16.00. Jika mereka punya anak yang masih sekolah di TK dan Tingkat Dasar (SD), maka waktu mendampingi anak belajar sangatlah kurang. Misalnya si anak menerima tugas dari gurunya pukul 08.00, orang tua sudah berangkat kerja, padahal tugas tersebut harus dikumpulkan pada pagi hari atau sore hari.
Pengurangan jam kerja bagi ASN bukan semata-mata demi menambah waktu orang tua mendampingi belajar anak. Tetapi karena ASN saat ini melaksanakan tugas dan fungsinya berbasis kinerja, bukan berbasis waktu secara kaku. Bila kebijakan ini dilakukan oleh pemerintah, maka lembaga swasta tertentu tidak menutup kemungkinan akan mengikutinya.
Belajar Ilmu dasar mendidik
Sebagaimana dijelaskan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan swasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana menunjukkan bahwa pendidikan adalah suatu proses yang disengaja dan dipikirkan secara matang (penuh kepedulian dan tanggungjawab). Walaupun definisi tersebut merujuk pada lembaga pendidikan sekolah. Dalam konteks lembaga pendidikan keluarga, pada tataran sederhana idealnya juga merujuk pada spirit tersebut. Setidaknya kesadaran akan pentingnya membangun swasana belajar di rumah dimiliki oleh setiap orang tua. Berangkat dari kesadaran inilah akan memunculkan aksi-aksi persiapan, pengadaan, serta pembentukan lingkungan keluarga yang kondusif untuk belajar.
Suasana belajar di rumah, tentu sangat berbeda dengan sekolah, yang kegiatannya sangat terprogram, terencana dan terukur merujuk Standar Nasional Pendidikan (SNP). Proses pembelajaran dan pendidikan dalam keluarga berjalan secara hidden (tersembunyi) melekat pada kebiasaan yang ada dalam suatu keluarga. Dengan demikian jika kesadaran keluarga (orang tua) telah tumbuh, pembiasaan dan pengadatan tersebut dapat dibuat dan dikondisikan sejalan dengan agenda pembelajaran dan pendidikan.
Orang tua perlu mengenal istilah-istilah yang populer dalam pendidikan. Pengetahuan ini penting untuk memandu munculnya strategi yang akan dibangun oleh orang tua. Dari segi anak terdapat ilmu tentang modalitas atau gaya belajar anak. Ada anak yang mudah memahami sesuatu jika diperdengarkan (auditory), ada yang gampang memahami jika diperlihatkan (visual) dan ada yang gemar belajar sambil bermain (kinestetik). Jika hal ini difahami dengan baik oleh orang tua, maka kegiatan pembelajaran akan berjalan lancar, menyenangkan dan efektif.
Dari aspek strategi yang digunakan; orang tua perlu memahami berbagai metode pembelajaran. Misalnya; appersepsi, tanya jawab, diskusi/debat, penugasan (resitasi), pembiasaan, demonstrasi, presentasi/bercerita, peta konsep (mind mapping) dan seterusnya. Metode ini bisa dipilih dan digunakan orang tua membelajarkan anaknya. Diperkenalkan istilah tersebut, bagi orang tua yang belum memiliki pengetahuan pasti akan bertanya bagaimana caranya ? Disilah kemudian diperlukan upaya (program) mendidik kompetensi paedagogik bagi orang tua. Program ini sungguh tidak berlebihan. Karena Undang Undang Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003 membagi jenis pendidikan menjadi; pendidikan formal, non formal dan informal. Dalam Bagian Enam pasal 27 disebutkan bahwa kegiatan pendidikan informal yang diselenggarakan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegaiatan secara mandiri. Maknanya adalah, jika pemerintah meluncurkan program pembekalan ilmu dasar mendidik kepada orang tua maka program tersebut telah sejalan dengan amanat undang-undang.
Memperluas orientasi pelayanan pendidikan anak
Jika pemerintah berorientasi pada peserta didik dalam mendapatkan pendampingan dan pelayanan pendidikan, maka program pendidikan nasional harus diperluas. Tidak hanya terfokus pada pendidikan formal dan non formal seperti saat ini. Program pemerintah (Kemendikbud) harus juga memasuki aspek-aspek strategis yang bersentuhan langsung dengan dunia anak. Keintiman hubungan anak dan orang tua di rumah harus dilihat sebagai modal dalam membantu suksesnya program pendidikan dan pembelajaran. Pendidikan dalam keluarga perlu mendapatkan sentuhan perhatian yang nyata. Peran penting dan tanggungjawab pendidikan keluarga begitu sering disebut-sebut, tapi hanya berhenti pada tataran disebut saja (teoritis). Karena itu perlu adanya formulasi sentuhan praktisnya.
Akhir-akhir ini banyak lembaga pendidikan yang secara mandiri menghidupkan kelas orang tua (wali murid). Kemasan kegiatannya seperti parenting, paguyuban wali murid, family gathering dan lain-lain. Misi yang di usung dalam kelas wali murid ini adalah menselaraskan program sekolah dan kegiatan anak di rumah. Jika pemerintah terlibat dalam kegiatan ini, maka dipastikan dampaknya akan semakin luas. Membelajarkan orang tua, merupakan bagian dari upaya revitalisasi peran pendidikan keluarga. {...}
Alhamdulillah.. Siap menunggu kelanjutannya.. .. .
ReplyDeleteAq demen tulisan Jenengan
ReplyDeleteSepakat dengan pak badi',. Orang tua sudah merasakan sendiri bagaimana repotnya mengurus anak,. Dan itu anaknya sendiri,. Bagaimana jika ada banyak anak\siswa yang dididik,. Kerepotan bisa bertambah lagi.
ReplyDeleteSampun terbukti nggih tadz..betapa tugas guru itu ternyata berat. Tanpa situasi ini mreka tak mungkin menyadari
Deletecurhatan ini juga dilontarkan ibu2 seperti saya.. karena malah anak tidak punya waktu belajar sama orang tuanya. belajar di rumah sendiri, tanpa didampingi orang tua.
ReplyDeleteMantabb...siap menunggu kelanjutannya
ReplyDeleteKelanjutan dipun rantis yi
ReplyDeleteEdisi lengkap yang mencerahkan
ReplyDelete