Spirit Kemerdekaan

 

Jauh dari kebiasaan setiap tahunnya selama tujuh puluh empat tahun setiap setiap bulan Agustus. Perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Bangsa Indonesia yang ke 75 tahun ini (2020) pasti akan di kenang sebagai perayaan yang sepi dan penuh keprihatinan. Semangat kemerdekaan disambungkan kepada anak-anak sejak dini. Tahun lalu anak-anak Taman Kanak-kanak (TK) memenuhi jalan-jalan gemerincing menabuh drumband, menghias diri laksana presiden, menteri, polisi, tentara, pilot, dokter, berbaju adat dan sebagainya. Berkarnaval, berjalan di bawah terik matahari, kepanasan tanpa dirasa. Demikian juga siswa SD, SMP dan SMA. Semua dalam rangka menanamkan sikap nasionalisme di peringatan hari kemerdekaan. Menunjukkan tanda bukti kepada para pahlawan bahwa putra putri bangsa ini siap mempertahankan dan mengisi kemerdekaan yang telah dihadiahkan oleh Alloh SWT melalui perjuangan para syuhada pahlawan bangsa . 

Spirit kemerdekaan adalah kebebasan untuk berfikir, berpendapat dan berkaya untuk membangun bangsa yang mandiri dan sejahtera. Bebas dari belenggu penjajahan yang membodohkan, memiskinkan, penuh kedholiman dan penindasan. Penjajahan harus dihapuskan dari atas bumi karena berlawanan dengan peri kemanusiaan. Bangsa ini berkeyakinan bahwa kemajuan hanya akan diperoleh melalui kemerdekaan ; kebebasan dan kemandirian.  Kebebasan dan kemandirian merupakan sebuah harga yang mahal, yang wajib diperjuangkan walaupun harus bermandi darah, berkorban jiwa dan raga.

Kini (17 Agustus 2020) hadiah kemerdekaan itu telah berusia 75 tahun. Pertanyaan adalah, sejauh mana spirit kemerdekaan bangsa ini terwarisi dan telah bertumbuh dalam jiwa generasi bangsa ini? Adakah di dada para generasi bangsa ini sebuah getaran yang mamacu mereka bergerak bukan untuk diri mereka sendiri tapi untuk bersama-sama memberikan sesuatu pada bangsanya? Sejauh mana bangsa ini telah berjalan menuju kemandirian ?  

Pertanyaan-pertanyaan reflektif di atas patut kita angkat pada momentum HUT kemerdekaan yang kita rayakan di bulan Agustus seperti  saat ini. Perayaan tahun ini memang minim seremonial, keramaian dan hura-hura di tempat-tempat umum. Tetapi justru suasani ini sangat baik untuk mendalamkan perenungan warga bangsa ini guna mengetahui jawaban atas pertanyaan reflektif di atas. 

Perayaan dengan kegiatan pesta dan keramaian tak jarang malah mengaburkan tujuan yang sebenarnya. Situasi keprihatinan seperti saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyerap energi (kekuatan) bathin. Energi mental spiritual tidak kalah pentingnya untuk memulai hadirnya spirit baru.  Karena apapun yang akan kita lakukan hari ini dan esok sejatinya berawal dari niat yang sungguh-sungguh, dan hal itu terletak di dalam alam batin (spiritualitas) kita.    

Menjawab pertanyaan dimanakah posisi spirit generasi bangsa kita hari ini ? Maka bisa ditelusuri dari pengetahuan apa saja yang selama ini telah mereka internalisasi dalam pikiran dan jiwanya. Karena sikap dan pilihan seseorang sangat di tentukan oleh ilmu dan pengetahuan yang ia miliki.  

Tidak ada pilihan lain ; pendidikanlah yang mempunyai tugas untuk membantu generasi bangsa ini memiliki sikap, perilaku yang menunjukkan rasa cinta pada bangsanya. Karena itu pendidikan tidak boleh lemah, pendidikan harus dikuatkan. Mengingat tugas pendidikan itu sungguh berat. Menyangkut kelangsungan bangsa ini di hari depan, memenangkan kompetisi dan tantangan yang tidak kalah dari menghadapi penjajah. 

Proyek penguatan pendidikan berbanding lurus dengan penguatan penyangga berdirinya bangsa ini. Karena tidak ada artinya kejayaan hari ini jika hari esoknya tak dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Kejayaan hari ini beleh dirayakan dan dibanggakan jika persiapan kemenangan hari esok telah disiapkan dengan sempurna. 

Penguatan pendidikan tak bisa dipisahkan dari kerelaan memberikan porsi anggaran yang memadahi. Karena masalah pendidikan yang utama hari ini bukan semata soal isi kurikulum, tetapi kekurangan tenaga kependidikan yang profesional, kekurangan  kelas sekolah yang representatif, kekurangan sarana prasarana pendukung pembelajaran, kesenjangan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan, kesenjangan pemerataan kualitas pendidikan, dan sebagainya. Sayangnya hal-hal tersebut belum menjadi perhatian utama pemerintah. Utak-atik kurikulum rupanya lebih menjadi perhatian paling utama beberapa tahun ini.  

Jika pendidikan lemah, masalahnya menumpuk maka produk yang dihasilkannya pasti tidak bermutu, tak mampu bergerak dan menggerakkan generasi bangsa ini menuju puncak kemajuan. Bicara generasi bangsa pilihannya hanya dua, mereka bergerak memajukan atau justru menjadi beban. Jika generasi bangsa ini menjadi beban, maka pendidikanlah yang paling bertanggungjawab. Pendidikan yang baik dan kuat, akan sukses mencetak generasi yang tangguh. Menguatkan pendidikan sama dengan menguatkan negara itu sendiri.

HUT  kemerdekaan hendaknya dijadikan sebagai momentum refleksi dan proyeksi. Merenungi yang telah dicapai ; sudah dekat ataukah masih jauh dari harapan. Seraya memantapkan langkah melesat maju jauh ke depan. 

Wahai generasi muda, untuk apa saja hari-harimu kini kau habiskan? Sejauh mana pandanganmu menatap zaman? Sebanyak apa dirimu menyiapkan masa depan diri dan bangsamu? Didepan sana pilihanmu hanya dua mengendalikan ataukah dikendalikan oleh mereka yang tak tampak di depan mata. Memanen ataukah dipanen ?  Mengatur ataukah diatur? Mempengaruhi atau membuntuti ? Merdeka atau, .... ? 


Comments

  1. momentum untuk kembali adanya suatu pelajaran khusus untuk membangkitka jiwa kepahlawan, nasionalisme dan patriotisme seperti PSPB waktu dulu, sementara generasi sekarang mengenal cerita kepahlawanan dari tokoh spiderman, superman, batman yg sering mereka tonton

    ReplyDelete
  2. Kebagian Angus pas panjat pinang 🙋🙋🙋

    ReplyDelete

  3. Kemerdekaan harus selalu disyukuri. Merdeka...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia