Makan Siang Istimewa Bersama Makhluk Langka


Makan siang ter-istimewa. Bisa dikatakan sebagai makan siang berpiring emas. Bukan karena jenis makanannya. Tetapi suasana dimana makanan itu digelar. Itulah yang membuat ritual makan siang hari ini (05/08/2020) sayang untuk dilupakan. 

Hidangan istimewa di tengah  makhluk-makhluk langka. Makhluk yang tak banyak jumlahnya di sebuah negeri yang sarjananya berjajar mengantri. Ia adalah pegiat literasi. Yang berniat untuk terus menggerakkan pena nya, mengabadikan ide dan gagasan melalui tulisan. 

Hanya untuk mampu mendawamkan lima paragraf sehari, butuh perjuangan yang sungguh berat. Lebih berat dari mendaki gunung yang tinggi yang menguras peluh keringat dan energi. Duduk berdiam dan menulis hanya perlu penopang secangkir kopi. Tapi untuk menaklukkan lima paragraf setiap hari sungguh tak gampang. Lebih-lebih jika dilakukan sendiri tanpa provokasi dari teman dan pemandu yang sudah ahli. 

Ada banyak sebab runtuhnya semangat menulis bagi penulis pemula. Misalnya secara tiba-tiba menghakimi hasil tulisannya sendiri. Menilai karyanya sendiri sebagai kurang bermutu, seakan-akan ia mewakili orang lain sedang mengatakannya seperti itu. Pena pun akhirnya tumbang. Mengobati hal itu, di meja makan siang hari ini Dr. Ngainun Naim menjawab "tidak perlu risau dengan penilaian orang yang tidak berkarya".  Kemampun berproses mewujudkan sebuah karya (tulisan) jauh lebih mulia dari pada penilai yang karyanya tak pernah terbukti.

Tak tahu kenapa, menyaksikan karya demi karya komunitas ini terbit ikut kebandang bahagia dan bangga. Minimal diri ini bisa berkata bahwa dia ini dan dia itu adalah sahabat saya di ruang belajar menulis. Sambil meyakin-yakinkan diri bahwa tak mustahil siapapun termasuk diri ini, bisa mengikuti jejak-jejak mereka yang telah sukses membukukan karyanya. Aamiin...

------o0o------


Comments

  1. buku panjengan pasti lebih tajam menukik dalam pembahasannya.

    ReplyDelete
  2. Tulisannya seperti puisi, cermat memilih diksi dan terangkai dengan bagus.

    ReplyDelete
  3. Sepakat dengan pak pri,.. mantab pak nur,.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia