Kutilang "Keramat ?"


Kegiatan berjalan empat puluh menit. Sekitar pukul 06.45, tiba-tiba burung kutilang terbang melintas di atas satir, papan pemisah antara jamaah putra dan putri. Mendarat tepat di sisi kiri Gus Anang yang sedang memberikan kuliah subuh, mengkaji kitab Nashoihuddiniyah juz empat tentang kemuliaan jalan amar ma'ruf nahi munkar.

Hanya berjarak kurang dari satu meter dari Gus Anang duduk. "Lo..burung kok,.. gumam para jama'ah, yang kemudian direspon Gus Anang "Alhamdulillah,... burung nya juga ingin ikut ngaos". Seraya beliau melanjutkan mengaji dan berusaha tak terpengaruh kedatangan santri baru , si burung kutilang. 

Semua jamaah kuliah subuh Masjid Syariful Muttaqin Boyolangu pagi ini (Ahad,19/07/2020) sontak terpana keheranan dengan kehadiran se-ekor burung kutilang yang tiba-tiba ramah dengan Sang Kyai. Tak sedikitpun burung itu menampakkan sikap ragu untuk melangkahkan kakinya mendekati Gus Anang. Berjalan semakin mendekat, seperti sedang bertemu dengan teman lamanya. Bermain-main, di bawah bangku (dampar) di depan Gus Anang yang bersila menghadap kitab. Paruhnya memetuk-matuk sesuatu menandakan kesantaian dan kebahagiaan. Saking akrab dan dekatnya, dari jauh terlihat seakan paruhnya mematuk jari-jemari  suku (kaki) Gus Anang yang terlihat sedikit di sela kain sarungnya.

Cukup lama kutilang itu mondar-mandir di bawah dampar. Kemudian ia bergeser ke sisi kanan Gus Anang. Ada nampan kecil tempat unjuk-an suguhan Gus Anang. Di atas nampan itu ada segelas kopi, dan segelas air putih. Kutilang pun beraksi. Andai kita tahu apa yang ia ucapkan mungkin ia mengatakan "bolehkah minta kopinya sedikit?". Buktinya, paruhnya dipatuk-patukkan ke gelas yang berisi kopi hangat tersebut. Berulang kali hal itu ia lakukan, dan tetap gelas berisi kopi yang dipatukinya. Sesekali tampak menaruh ujung paruhnya ke bawah gelas, mungkin ada tetesan air di bawah gelas kopi tersebut. 

Setelah kurang lebih tujuh menit bermain-main di atas nampan wadah gelas kopi, ia bergeser lagi ke bawah dampar di mana Gus Anang duduk bersila. Kutilang "kamanusan" itu tampak telah berhasil mendapatkan yang ia cari. Buktinya ia dengan tenang duduk menghadap ke jamaah sambil  didis. Paruhnya menyisir-nyisir bulu sayapnya. Kegiatan paling santai dan nyaman yang dimiliki oleh bangsa burung dan unggas. Semacam leyeh-leyeh bagi manusia.  

Beberapa saat kemudian, si kutilang berjalan ke sisi kiri, sambil melongok longokkan lehernya memandangi Gus Anang yang tetap mengaji.  Tepat pukul tujuh lewat tujuh menit kutilang terbang  meninggalkan kami tanpa sepatah katapun. 

Gus Anang, dan semua jamaah mengantarkan kepergian burung kutilang dengan memandangnya saat menghambur terbang. Kemudian Gus Anang dawuh "burungnya sudah kembali pulang, dan memang ngajinya telah selesai, pas nggih?". Kuliah subuhpun ditutup dengan do'a, pukul 07.10 Wib. Apakah ia "Kutilang Keramat ?"

Comments

  1. Alhamdulillah, burung kutilang berbunyi.

    Nyuwun tambahan barokah hikmah kang Nurhadi

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia