"Sarapan" Jangan Talbis !
Pagi ini Kamis 02 Juli 2020, mengawali aktifitas pagi dengan diperjalankan oleh Alloh untuk sarapan di tempat kuliah. Tempat kuliah satu ini bukanlah kampus, sebagaimana tempat mahasiswa berguru pada dosen.
Entah muasalnya dari mana, kegiatan pagi buta ini disebut "kuliah subuh". Penelusuran saya dari glosarium.org, menurut KBBI kuliah subuh adalah ceramah agama yang diberikan sehabis sholat subuh.
Kali ini (sejak dua tahun lalu) saya mengikutinya di PP Al-Fattahiyah Miren Boyolangu, yang diasuh oleh Kyai Agus Moh. Anang Muhsin (Gus Anang). Kegiatan di pondok pesantren ini telah berjalan beberapa tahun, setiap kamis dan jum'at pagi.
Pagi ini adalah kuliah subuh yang ke lima, setelah pondok turut diliburkan karena pandemi covid 19, sejak akhir Maret 2020 yang lalu. Tanggal 17 Juni para santri pondok masuk kembali dengan penerapan protokol kesehatan sebagaimana anjuran pemerintah.
---------------------
Pada kuliah subuh pagi ini (02/07/2020) saya ingin menyebutnya sebagai "sarapan jangan talbis!". Itulah sarapan pagi yang dihidangkan oleh Gus Anang kepada santri, wali santri dan jama'ah kuliah subuh pagi itu yang dihadiri tak kurang dari 400 orang.
Dinasehatkan oleh Gus Anang dari Al-Habib Abdulloh 'Alawi Bin Muhammad Al-Hadad dalam Kitab Risalatul Mu'awanah, kurang lebihnya sebagai berikut :
Diantara jalan menuju kemuliaan di sisi Alloh SWT adalah; mengajari orang yang belum mengerti, memberikan petunjuk orang yang tersesat, dan mengingatkan orang-orang yang sedang lupa. Hendaknya kita benar-benar takut jika meninggalkan tiga aktifitas di atas. Terlebih dengan mengatakan "sebenarnya orang yang berhak mengajar, menunjuki dan menasehati adalah kewenangannya orang-orang besar (mulia). Sedangkan aku tidak pantas mengajar, memberi petunjuk dan menasehati".
Perkataan yang menyebutkan bahwa aku tidak pantas mengajar, memberi petunjuk dan mengingatkan sebagaimana tersebut di atas, merupakan talbis dari setan (wahada kulluhu talbisun minassyaithoni). Karena sesungguhnya mengajar dan mengingatkan orang lain merupakan bagian dari mengamalkan ilmu; orang-orang besar itu tidak ada kecuali karena mendapat Fadhilah dari Alloh SWT.
Perasaan tidak ahli atau tidak pantas mengajar dan mengajak ke perkara kebaikan merupakan suatu keburukan, dan mengacaukan perjuangan kebaikan/ kebenaran.
------------------
Belajar dari nasehat di atas, beberapa pelajaran yang bisa diambil adalah :
Pertama, talbis adalah perasaan "ngendon-ngendoni" (menghalang-halangi) untuk berbuat baik. Talbis merupakan bagian dari perangkap dan tipu daya setan. Talbis adalah musuhnya orang beriman yang sedang berupaya taqorrub untuk memperoleh derajad mulia di sisi Alloh SWT.
Demikian juga dalam hal ibadah dan kebaikan lainnya. Lemahnya semangat menyempurnakan ibadah dan amal kebaikan diantaranya karena munculnya bisikan-bisikan alasan yang merasionalkan untuk menunda dan menyederhanakan ibadah dan kebaikan yang akan kita laksanakan tersebut. Itulah tanda bersemayamnya sifat talbis di pikiran dan hati kita.
Kedua, Bila sifat talbis dimiliki orang yang beriman maka dipastikan akan melemahkan semangat dakwah Islam. Karena dakwah adalah perjuangan yang membutuhkan himmah.
Bayangkan jika para wali penyebar Islam Indonesia dahulu (wali songo) mempunyai sifat talbis di hatinya, maka tidak akan ada perjuangan menyeberangi samudra untuk mendakwahkan Islam. Si talbis gagal membisikkan kepada para wali ucapan "biarlah mereka mengurusi nasib mereka sendiri".
Jika serangan talbis pada jaman itu berhasil, maka dimungkinkan saat ini Indonesia dan kita semua belum tentu bisa ber Islam seperti saat ini. Demikian Gus Anang mengandaikan.
Ketiga, mengajar dan mengajak ke jalan kebaikan, merupakan kewajiban semua orang beriman. Bukan monopoli orang besar dan orang yang punya kuasa. Tetapi semua orang harus berikhtiyar mengamalkan pengajaran, menunjukkan jalan kebaikan dan memberikan nasehat yang baik, sesuai dengan kemampuan dan konteks lingkungannya masing-masing.
Hal penting untuk dimiliki oleh pengajar dan pendakwah adalah bahwa hanya pengajaran dan nasehat yang dibarengi Rahmad dan Hidayah Alloh sematalah yang akan membawa perubahan, manfaat dan keberkahan.
Keempat, talbis sebagai musuh dan penyakit hati harus diperangi dan dibersihkan melalui laku mujahadah dan riyadhoh. Serta meningkatkan spirit dalam bergantung (tawakal) kepada Alloh SWT. Menyandarkan seluruh daya dan kekuatan hingga mampu beribadah dan berbuat baik semata-mata karena Rahmad dan Pertolongan Alloh SWT. Wallohu a'lamu bisshowaf. [...]
KangNoer, 02 Juli 2020

KULIAH gratis, sungguh memotivasi pendakwah.
ReplyDeleteIlmu yang bermanfaat. Matursuwun..
ReplyDeleteTop...barokalloh
ReplyDeleteAamiin..
DeleteLuar biasa....
ReplyDelete