Tapi Nomornya Cantik
Ilustrasi vivo
Sebuah pelajaran berharga disuguhkan padaku pagi ini, Rabu 8 Juli 2020. Saat berangkat ke tempat kerja. Di perempatan jalan ber-trafigh light, dengan pengecualian belok kiri jalan terus.
Sebuah bak sampah hitam terguling, hingga memakan kurang lebih setengah meter badan jalan. Pada saat yang sama, seorang ibu setengah baya bersama pengendara lainnya berhenti karena lampu merah sedang menyala, menunggu hadirnya warna hijau yang kurang beberapa detik lagi.
Ibu setengah baya berbaju putih tersebut, tanpa merasa bersalah memijakkan setengah dari telapak kaki melampaui garis marka sebelah kirinya. Setengah telapak kaki saja, tak lebih.
Tepat di depan saya ada sebuah mobil bernomor cantik, melaju pelan di sisi jalan sebelah kiri. Tujuannya sama denganku, akan belok ke arah kiri hingga tak perlu berhenti. Karena kebiasaan di perempatan ini belok kiri jalan terus.
Tergulingnya bak sampah ke sebelah kanan membuat lebar badan jalan sedikit berkurang, mungkin tak lebih dari setengah meter yang termakan bak sampah malang tersebut. Sepertinya mobil yang besarpun masih bisa lewat, hanya saja kurang luas sebagaimana biasanya.
Menyikapi keadaan sedikit tak biasa itu si sopir mobil dengan nomor cantik tersebut menekan klakson dengan volume yang cukup keras. Membuat gendang telinga orang-orang yang sedang menunggu lampu hijau bergetar, seraya memutar pandangannya ke sumber suara. Gertakan suara klakson pertanda ada hati yang tidak nyaman. Mungkin tidak rela, karena hak sepuluh centimeter aspalnya terinjak oleh seorang ibu yang lugu itu.
Begitu lampu berubah hijau dan semua yang berhenti melaju, pemilik mobil nomor cantik tersebut menyempatkan diri menatap sang ibu dengan tatapan sinis, seakan si ibu itu telah berbuat kesalahan besar, telah merampas haknya yang sangat berharga.
Kurang lebih satu kilo meter saya mengikuti laju mobol plat nomor cantik tersebut karena arah tujuannya nya sama. Sama- sama menuju ke arah barat.
Saya mencoba tidak menghakimi siapa yang benar dan siapa yang salah dari peristiwa yang sedikit mengiris hati tersebut.
Beberapa fakta saya telusuri ulang dalam ruang pikiran netral saya. Fakta-fakta itu adalah:
Pertama, bak sampah yang tertidur ke bahu jalan, sedikit mengurangi lebar jalan, membuat jalan tak semulus dan tak seluas biasanya. Tentu ini bukan kesalahan siapapun, apalagi menyalahkan benda mati, bak sampah. Tentu sebuah kesia-siaan.
Kedua, si ibu yang yang sambil duduk di sadel motor memijakkan separo telapak kaki kirinya ke aspal jalur kiri. Sedang ia tidak merasa bersalah. Mungkin karena menurut perhitungannya sepuluh centimeter itu tidak membuat terhambatnya mobil yang ingin melaju di samping kirinya. Atau mungkin ia merasa hanya beberapa detik saja kakinya ada di situ, sampai lampu hijau menyala.
Ketiga, si sopir mobil bernomor cantik melakukan upaya untuk memenuhi hak nya. Bahwa lajur kiri adalah wilayahnya, hingga seharusnya ia tak perlu mengurangi kecepatannya untuk melaju dan memutar mobilnya langsung belok kiri jalan terus, seperti biasanya.
Hanya saja mungkin bagi sebagian orang cara menuntut hak dengan menekan klakson hingga meraung keras tersebut ditafsirkan sebagai sikap yang kurang bijak. Memang tidak salah, hanya kurang bijak. Karena jika ditelusuri gangguan itu berasal dari bak sampah yang terguling dan sedikit mamakan badan jalan, dan separo telapak kaki seorang ibu yang singgah di luar area jalanya sekitar lima sampai sepuluh detik saja lamanya.
Bunyi klakson tanda protes tersebut jelas dilayangkan oleh sang sopir mobil nomor cantik kepada si ibu pengendara motor. Buktinya, si sopir sempat memandang sinis dari dalam mobilnya, seakan menuduh si ibu itu tak tahu peraturan, hingga mengusik kenyamanan berkedaranya.
Melihat kejadian ini sempat terbersit dalam pikiran saya, mungkin si pengemudi mobil tersebut, sedang tergesa-gesa karena ada kepentingan genting. Pikiran ini terpatahkan, karena selama satu kilometer saya mengikuti di belakangnya, si sopir tak menambah akselerasi kecepatannya, tak terlihat bahwa ia sedang tergesa-gesa. Sayapun akhirnya mendahului mobil nomor cantik tersebut.
-------------------
Saya tidak tahu kejadian semisal ini namanya apa ? Dan saya juga tidak ingin tahu apakah hal semacam ini marak terjadi di jalanan Indonesia.
Jika dalam melihat perkara di atas menggunakan ilmu dan hukum positif -benar dan salah- pasti si ibulah yang patut disalahkan karena menginjakkan sebagian kakinya di tepi ruas jalurnya orang lain. Begitulah jika dilihat dengan ilmu "kepintaran". Dan atas kesalahannya itu mungkin bagi sebagian orang layak dihukumi dengan dikagetkan dengan suara klakson, dan tatapan pahit.
Tetapi ada ilmu lain yang juga bisa digunakan sebagai alat menyikapi perkara remeh temeh tersebut. Antara lain ilmu mengendalikan diri untuk sementara waktu misalnya dengan diam sejenak selama beberapa detik. Ilmu tentang sikap perilaku yang, ilmu tentang rasa. Ilmu yang membuat seseorang bersikap bijaksana. Memang hasilnya bukanlah hal yang "benar" secara matematika, tapi "baik, enak dan indah" menurut rasa.
Ilmu yang mengajarkan perilaku dan rasa seperti ini, akhir-akhir ini diperdebatkan di struktur kurikulum pendidikan Indonesia. Antara perlu dan tidaknya di ajarkan di sekolah. Dan yang terakhir diperdebatkan lagi apakah masuk mata pelajaran utama atau hanya pelengkap saja.
Bagi yang getol mempertahankan pentingnya ilmu perilaku/akhlak bagi manusia supaya punya sikap baik, sabar, bijaksana dan sejenisnya biasanya memegangi sebuah prinsif bahwa adab itu di atasnya ilmu (Al-'adabu fauqol 'ilmi).
Jadi si sopir yang plat nomornya cantik dalam cerita ini, bukanlah orang yang salah. Ia adalah orang "pinter" yang sedang mengamalkan ilmu kepintaran yang dimilikinya.
Dan jika dengan kasus yang sama ada yang menyikapinya dengan "kebaikan", maka mungkin bisa dikatakan sebagai orang baik yang sedang mengamalkan ilmu kebaikannya. [...]
KangNoer, 8/7/2020
Sering menekan klakson, tanda kurang respek terhadap orang lain
ReplyDeleteSering nglaklakson, juga tanda punya mobil p pri.
ReplyDeleteFokus rambu" lalu lintas nya
ReplyDeleteMemadukan akal, hati dan rasa memang sulit, kita sama2 tidak tahu yg terdetik dalam hatinya.
Delete