Spiritualitas Libur Bagi Anak
Akhir-akhir ini kita sering menjumpai orang tua yang mengeluhkan susahnya mendisiplinkan ibadah anak-anak nya. Kebanyakan orang tua mengkonfirmasi bahwa HP (smartphone) telah menjadi segalanya bagi anak-anak. Entitas yang awalnya sebagai alat komunikasi ini, kini makin canggih, makin lengkap dan telah menguasai kehidupan anak-anak. Lebih-lebih saat libur atau tidak sedang di sekolah seperti saat ini (physical distancing).
Kecemburuan orang tua karena anak lebih dekat dengan smartphone nya telah menjadi wabah baru. Apa yang menjadi kesenangan anak (permainan), tersaji sangat mudah dan melimpah ragamnya. Mereka sangat betah berlama-lama bercengkerama menikmati aneka permainan.
Orang tua pun telah paham, dampak buruk fisik (mata) dan psikisnya. Tapi apalah daya. Mungkin telah menjadi zamannya. Zaman dimana anak-anak tidak lagi menyenangi permainan gobaksodor, engklek, lompat tali, petak umpet, egrang, kelereng, dan layang-layang.
Kebersamaan dengan orang tua dengan membantu dan berbagi peran pun mulai minim terjadi. Dulu anak biasa disuruh orang tuanya belanja sayur, bumbu memasak dan keperluan dapur lainnya. Sekarang penjual sayurnya yang datang ke rumah-rumah. Atau sekali belanja untuk kebutuhan berhari-hari. Adalagi keluarga yang jarang memasak karena tak punya waktu, atau memilih beli makanan siap saji.
Nyaris aktifitas anak-anak hari ini hanya belajar dan bermain. Dua aktifitas itu memang sesuai dengan rekomendasi para ahli pendidikan, demi tumbuh kembang sang anak. Tetapi kebersamaa dan berbagi peran dengan orang tua di rumah, sebenarnya kaya nilai pendidikan. Mendidik sikap dan perilaku tanggungjawab, kerjasama, peduli, gotong-royong, kebersamaan dan disiplin.
Urusan cuci piring misalnya, tanpa dibiasakan sejak anak-anak, pekerjaan yang sangat ringan dan sangat pribadi ini akan berat dilakulan. Orang kota mungkin berfikir, kan ada asisten rumah tangga ? Tetapi apa buruknya jika sudah punya asisten rumah tangga tapi masih mau mencuci piringnya sendiri sehabis makan?
------------------
Kembali ke topik mendisiplinkan ibadah. Saya berpikir, orang tua jaman android sekarang ini, yang mengeluhkan sulitnya anak untuk lebih giat beribadah termasuk orang tua yang istimewa. Orang tua yang sadar akan pentingnya mendidik anak menjadi sholih/sholihah. Orang tua yang tidak hanya menyerahkan pendidikan anak-anaknya pada sekolah/madrasah.
Mengeluhnya otang tua terkait perilaku agama anak-anaknya adalah sebuah perbuatan hati. Semacam refleksi diri. Refleksi berupa keluhan ini mengandung nilai tanggung jawab, harapan dan cita-cita. Lebih lanjut jika nilai ini makin kuat, maka akan memunculkan aksi-aksi untuk muwujudkannya.
Misalnya saat anaknya sedang bermain HP, bukan hanya menyuruh anak dengan mengingatkan "nak.. waktunya sholat" tetapi dengan mengatakan "nak ayo bersama ayah/ibu sholat". Bukan hanya menyuruh-nyuruh anak untuk mengerjakan, tetapi dengan mengajaknya melakukan bersama-sama. Yang demikian ini adalah bentuk nyata dari praktik pendidikan agama dalam keluarga.
Saat ini, anak mampu melaksanakan kewajiban (sholat fardhu) dengan disiplin termasuk anak yang istimewa. Untuk mewujudkan hal ini, khususnya bagi anak yang sudah nyandu (adiksi) dengan smarphone memerlukan kontrak kerja/kontrak belajar dengan orang tua. Sebuah poin-poin komitmen yang disepakati anak dan orang tua. Misalnya bermain boleh, tetapi sholat adalah kewajiban yang tidak boleh dikalahkan dengan apapun. Misalnya.
Di musim libur seperti ini, alangkah baiknya juga, anak diajak untuk berburu ibadah sunnah. Bukankah jika ibadah sunnahnya makin bagus, ibadah wajibnya juga menjadi makin sempurna?
Lagi-lagi aksi orang tualah kuncinya. Orang tua membuat sebuah slogan di dalam keluarganya. Misalnya slogan itu berjudul "spuritualitas libur". Apa itu spirituslitas libur ? Spiritualitas libur yang dimaksud adalah "mumpung libur, ayo ibadah sunnah nya dibanyakin. Mumpung libur, yuk sholat dhuhanya disempurnakan, mumpung libur yuk, baca Qur'annya di seringkan dan dilebihkan. Mumpung libur, yuk tahajjudnya ditambah". Dan seterusnya.
Spirit menjalankan ibadah sunnah perlu di tanamkan sejak dini. Diawali dengan membangun pemahaman baru. Apa itu ? Selama ini, kita dan anak-anak kita memahami ibadah sunnah itu adalah "ibadah yang jika dikerjakan mendapat pahala, dan jika ditinggalkan tidak apa-apa (tidak berdosa). Pemahaman ini tidaklah salah. Karena memang demikian guru-guru kita dulu mengajarkannya.
Pemahaman tentang pengertian ibadah sunnah seperti di atas, menawarkan dua opsi yang kurang seimbang, dan bagi anak kurang mengandung unsur yang menyemangati (motivasi). Mengerjakan mendapat pahala, tidak mengerjakan tidak apa-apa. Maka dijaman krisis spiritualitas seperti ini, yang dipilih adalah "tidak mengerjakan kan tidak apa-apa?". Dipilihlah tidak mengerjakan.
Karena itu perlu adanya pemahaman baru, untuk mendorong tumbuhmya spirit mengerjakan ibadah sunnah. Dengan tidak merubah definisi asli menurut ilmu fiqih.
Anak diberi pemahaman yang lebih logis, lebih memberi rangsangan dan masuk dalam alam pikirannya. Misalnya ibadah sunnah adalah "ibadah yang jika kita kerjakan maka Alloh akan senang dan cinta pada kita". Komunikasikan statemen ini kepada anak, "inginkah kita disenangi dan di cintai Alloh?"
Lanjutkan dengan memberikan ilustrasi, akibat anak yang disenangi dan dicintai orang tua, akibat dari disenangi dan dicintai teman. Akibat dari disenangi dan dicintai presiden umpamanya. Kemudian luncurkan pertanyaan "apa yang terjadi kira-kira jika Alloh SWT yang punya alam semesta ini menyenangi dan mencintai makhluk Nya (kita)?".
Jika anak telah tertanam spirit akan pentingnya memeroleh cinta-Nya Alloh, maka insyaa Alloh, hal itu akan menjadi modal yang baik, bagi tumbuh subur nya rasa keimanan di hati anak-anak kita. Hingga makin tambah semangat memperjuangkan ibadahnya. [...]
Tema yang bagus, sesuai kondisi yang ada kang Noer... Kira-kira untuk masalah smartphone orang tua bisa apa tidak ya memberi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Umumnya orang tua sekarang juga kecanduan smartphone....
ReplyDeleteLeres sanget pak Pri... Kacang ikut lanjarannya nggih.. Hhhh
Delete