Ketika Angin Bersembunyi

Suatu ketika, di hari Rabu 14 Pebruari 2024. Jiwaku ada di sini. Menyepi, menjernihkan hati. 

Tak seperti semua hari yang pernah kulalui. Hari ini begitu sunyi. Tak ada daun yang ramai menari. Tak ada rumput yang bergoyang. Tak ada semilir angin yang datang. 

Ku dengar di luar sana sedang ada pesta. Mereka bergembira ria, atas kemenangan  pertarungan segi tiga. 

Dari dua penjuru ku dengar tangisan pilu. Tangis getir, kehilangan tempat mengadu. Tempat-tempat para pembela itu tiba-tiba pintunya tak dibuka. Karena mereka ikut larut dalam pesta pora.  

Ku dengar berita dari pintu jendela. Kabarnya hari ini ada lomba. Tapi hakim lombanya menghilang entah ke mana. Ternyata mereka ikut larut dalam pesta. 

Hari ini ada yang berbeda. Angin tak terlihat batang hidungnya. Mereka bermandi keringat menunggu Sang penyejuk jiwa raga, yang bersembunyi entah dimana.

Awan tak bergerak, laut tak mengombak. Se isi alam malas beranjak. Bersiul-siul memanggil angin sampai serak. 

Angin? Mungkinkah engkau sedang kecewa? Hingga hari ini enggan menyapa? 

Sebegitukah engkau merasa tak terima, atas ketidakadilan ini. Hingga kau memutuskan tak berhembus lagi? 

Kini aku tahu, dari sifatmu yang kasat mata, engkau ada di mana saja. Aku terjaga dalam sadar, tiada yang lebih dekat dengan siapapun kecuali dirimu. Tiada yang lebih tahu apapun kecuali dirimu. Tiada yang lebih mengikuti kejadian apapun kecuali dirimu. Tiada yang lebih tulus kecuali sentuhan kasihmu. Dengan begitu, aku mencoba memaklumi, keputusanmu hari ini. 

Wahai angin..., tiada hadirmu, membuat para predator penghisap darah meraja lela. Mondar mandir bersiap menerkam dengan penuh percaya dirinya. 

Wahai angin..., tiada hadirmu membuat telingaku mendengar suara-suara di kejauhan. Deru buldozer makin ganas mengeruk isi perut bumi kami. Mesin-mesin penebang pohon makin tak terkendali membabat hutan kami. 

Itukah yang ingin kau beritahu kepadaku? 

Angin ..., cukuplah bagimu aku memahami rasa kecewamu. Ku memohon keluarlah! berhembuslah! berilah sejuk pada pecinta Tuhanmu, yang sementara ini tak menyadari telah tertipu. 

#Menyepi di sudut hari, 14/02/2024

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia