Semua Sedang Menunggu

m e n u n g g u 

Sejauh mataku memandang dan kakiku melangkah.  Ku temui siapa saja. Adakalanya mereka sedang sendiri. Adakalanya berkelompok-kelompok. Ternyata semua sedang menunggu. 

Seperti sajadah-sajadah yang lusuh berserakan. Debu-debu berhambur menempel di selasar. Jaring laba-laba bergelantungan tak berguna di sudut-sudut musholla. Mereka sedang menunggu tangan-tangan dingin calon penghuni surga. Yang dengan suka cita merapikan rumah para penghamba. 

Seperti bunga-bunga yang layu. Di atas tanah yang semakin mengering. Daun-daunya menguning, berguguran. Mereka sedang menunggu turunnya hujan, dan siraman dari sang tuan. Sebentuk kasih sayang dari Tuhan. 

Seperti tangis bayi di malam hari. Lembut,  mengiba, penuh makna. Menunggu hadirnya dekapan Sang Bunda. Menumpahkan kehangatan kasih sayang tiada tara. 

Seperti ia yang sedang dimabuk cinta. Selalu teringat merdu nada suaranya. Yang semakin tampak ayu saat tersenyum malu. Yang tatapan matanya menembus rasa di dalam dada. Yang membuat jantung berdebar tak menentu saat bertemu. Yang membuat rela berkorban apa saja. Ia tersiksa, terpaku menunggu. Ingin segera bertemu sang kekasih di suatu waktu. 

Begitu juga hari-hari ini. Mereka para abdi negara itu, memandangi angka-angka yang berbaris di kalender meja. Mendesah resah, karena hari melambat pindah. Rupanya mereka sedang menunggu sebuah janji-janji indah dari pemerintah. 

Ku melihat para pekerja. Di toko-toko perkotaan. Di rumah-rumah majikan. Di proyek-proyek bangunan. Dan di mana saja mereka memeras keringatnya. Tak satupun di antara mereka luput dari menunggu. Sebuah hari bahagia sebelum lebaran tiba. Uluran belas kasih dari majikannya.

Semua sedang menunggu...
Yang sekolah menunggu lulus
Yang kuliah menunggu wisuda
Yang magang kerja menunggu SK
Yang sudah ber SK menunggu kenaikan berkala

Semua sedang menunggu...
Yang diberi janji menunggu ditepati
Yang jual menunggu pembeli
Yang kerja menunggu gaji 
Yang murid menggu guru
Yang santri menunggu kyai

Semua sedang menunggu...
Yang menanam menunggu panen
Yang puasa menunggu berbuka
Yang berlayar menunggu berlabuh
Yang sakit menunggu sembuh

Kawan...
Bahagia itu adalah tentang diri kita sendiri
Rasa apa yang kita hadirkan saat ini di sini
Bukan menunggu besok, jika sudah punya itu dan punya ini. 

Untuk menjadi bahagia tak perlu menunggu hari esok dengan syarat-syarat yang menumpuk. Karena hari esok adalah misteri yang belum tentu kita miliki. 

Cobalah sibukkan diri. Menghitung nikmat pemberianNya detik ini saja. Sudah pasti kita tak mampu menghitungnya. 

Bukankah satu tarikan dan hembusan nafas, tak ternilai harganya? Begitulah, betapa kita sangat miskin syukur kepada Nya. Maka tak ada alasan untuk tidak bahagia. Karena Dia sungguh Maha Baik kepada semua makhlukNya.

Pada akhirnya...
Hidup ini hanyalah menunggu mati
Yang sudah mati menunggu diampuni
Demi Surga Yang Diridhoi [...]
______________________________________

Jepun, 06/04/2023

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia