KEHENDAK

Foto; Noer & Haji Topo

Jauh-jauh hari Proposal Program Kegiatan Ramadhan 1444 H itu telah beres. Dan pada kegiatan KKG PAI tanggal 02/03/2023, program Ramadhan yang sudah disahkan oleh para pemangku Pendidikan Tingkat Kecamatan itu disosialisasikan oleh Pak Haji Topo.  "Menuju hari H, masih ada dua puluh lima hari untuk menyiapkan segala sesuatunya!" Seru Pak Topo.

Pak Haji Topo, selaku Ketua KKG PAI dengan jelas dan urut membacakan poin demi poin rangkaian kegiatan Ramadhan Kecamatan Sendang. Program ini merupakan program rutin tahunan. Selain untuk menghidupkan majelis ilmu di bulan suci Ramadhan, kegiatan ini berhasil mempererat tali silaturrahmi pendidik dan tenaga kependidikan se Kecamatan Sendang. Guru PAI sudah pasti menjadi tuan rumah yang sangat berkepentingan terhadap suksesnya kegiatan ini. Karena itulah Pak Haji Topo berupaya keras, memberi pemahaman dan membagi peran kepada  Guru PAI untuk mensukseskan kegiatan ini. 

Beberapa judul kegiatan dibacakan. Mulai dari ta'aruf/penyambutan datangnya Bulan Suci Ramadhan, pengajian umum menghadirkan muballigh dari luar kota, kultum menjelang buka puasa bersama, buka puasa bersama dan sholat tarowaih berjama'ah. Siapa bertugas mengerjakan apa, dijelaskan hingga tuntas. Ternyata,...termasuk diriku, 

Namaku tiba-tiba disebut sebagai pengisi kultum menjelang bukber. Hem,... Indah sekali, betapa tidak? Kultum menjelang bukber adalah kultum yang sangat menantang. Berceramah di waktu jasmani mengalami cobaan terberat. Detik-detik akhir keluar dari derita lapar dan haus. Tentu saja fokus panca Indra hanya pada satu tujuan. Yaitu makan dan minum. Telinga tak mau mendengar kecuali berita perihal makanan, mata tak mau melihat kecuali wujud makanan, hidung tak mau mencium kecuali aroma makanan. Dan kaki tak mau beranjak kecuali menuju tempat makan. Pada situasi seperti itu, akankah kau akan memaksakan dirimu  menceramahi mereka? Kalaupun mereka tampak tenang, itu bukan berarti sedang senang mendengarkan ceramahmu. Akan tetapi sedang mendo'akan mu supaya segera menutup kultummu dan cepatlah rupa-rupa takjil itu di keluarkan. 

Di situlah posisi tugasku. Di tempat yang paling tidak dikehendaki. Di saat semua berkehendak makan, aku berceramah mengajak mereka merenungi iman-iman mereka. Laksana mengalirkan air ke dataran tinggi. Jikapun bisa, itu hanyalah cipratan belaka, yang hanya sedikit jumlahnya. Ku jawab dengan "Bismillah," saat Pak Haji Topo meminta kesediaan ku. 

Sesuai dengan Program di dalam proposal yang dibacakan dua puluh hari yang lalu, tanggal 29/03/2023 inilah hari H nya. Itu artinya tiga hari lagi tiba waktuku bertugas. Mengisi kultum menjelang bukber. 

Pagi-pagi HP ku berdering-dering. Pak Haji Topo rupanya membawa misi penting. Selaku penanggungjawab lapangan, biasanya melakukan cheking sana sini. Memastikan semua telah ready pada tugas dan jadwalnya. Aku pun tak luput dari monitor Pak Haji Topo. 

Setelah kata-kata pembuka, aku memulai pembicaraan dengan sebuah pertanyaan setengah berbasa-basi, "acaranya yang itu jadi tanggal 29 nggih pak haji?". Pak Haji Topo, tampak tersenyum kecut. Beliau memulai jawabannya dengan mengatakan, "Anu Pak,"  Saya penasaran menunggu beliau menjelaskan, "Pangapunten pak, karena ada surat edaran larangan bukber, maka acara njenengan dan bukbernya ditiadakan, surat edarannya baru kami terima kemarin." 

Kawan, dua hari ini publik Indonesia  diramaikan dengan adanya pro-kontra, isi surat edaran pemerintah yang konon melarang ASN atau pejabat pemerintah menyelenggarakan buka puasa bersama. Edaran ini sontak mengagetkan sebagian khalayak muslim. Dan sampai detik ini aku tak berminat larut dalam pro-kontra itu. Yang kutahu, Pemerintah sebagai atasanku sedang punya kehendak. Dan dengan suka hati aku harus mengikutinya. 

Walau dari situ "beban" kultumku lenyap, seiring ambyarnya jadwal bukber yang telah ditata begitu rupa oleh Pak Haji Topo.

Andai kultum itu jadi digelar, aku akan mengajak diriku sendiri untuk meneliti bermacam-macam kehendak. Dan mungkin aku akan menemukan 3 macam kehendak;
1) Kehendak diri, 
2) Kehendak luar diri, dan 
3) Kehendak Nya.
Aku akan menasehati diriku sendiri bahwa puasa adalah pelatihan mengendalikan kehendak diri, untuk memenuhi KehendakNya. Karena tiada sesuatu pun yang lebih baik bagi seorang hamba kecuali menenggelamkan diri dalam Kehendak Penciptanya.[...]


Ahad, 26/03/2023
Penulis;
Noer_PPAI_KanKemenag Tulungagung. 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia