Refleksi Hari Pahlawan Nasional
Pahlawan Nasional. Dua kata yang jika dibaca seharusnya menggetarkan jiwa. Mengapa demikian? Tak perlu bersusah payah untuk menjelaskannya. Hanya perlu ketenangan hati seraya berfikir lebih dalam dan lebih dalam lagi tentang sebuah peristiwa di balik sebuah gelar kehormatan "Pahlawan Nasional".
Ada tokoh pahlawannya, tentu ada peristiwa perjuangannya. Peristiwa yang pernah dialami oleh Sang Pahlawan Nasional bukanlah peristiwa yang biasa-biasa saja. Tapi sungguh-sungguh peristiwa yang serius, penting dan genting.
Pahlawan Nasioanal, telah berperang sedari melawan penjajah sampai mempertahankan proklamasi kemerdekan. Mereka telah mewakafkan jiwa dan raganya untuk harkat dan martabat Bangsa Indonesia.
Mereka para pahlawan itu tak pernah tersirat secuilpun di kalbunya bahwa jiwa raganya akan tersia-sia. Hanya ada satu keyakinan bahwa generasinya nanti pasti generasi yang kuat dan hebat. Generasi yang mewarisi jiwa kepahlawanan, yang pantang menyerah melawan kebodohan dan ketidak adilan, yang cinta pada tanah airnya.
Besarnya jasa perjuangan Pahlawan Nasional tak bisa dinilai dengan apapun. Juga tak bisa dibarter dengan harga apapun. Perjuangan yang suci dari pamrih materi. Bahkan mereka --Para Pahlawan-- itu tak pernah berprasangka buruk sedikitpun kepada generasi penikmat kemerdekaannya nanti. Apakah mewarisi kesucian perjuangannya ataukah akan menjual harga diri bangsanya. Prasangkanya ditumpahkan habis pada keyakinan bahwa bangsanya akan jaya sepeninggalnya.
Kini dan hari ini, kita sudah berpuluh-puluh tahun merdeka dan aman-aman saja. Kenikmatan merdeka telah membuat kita tidur terlampau pulas. Membuat kita makan terlampau kenyang. Dan membuat kita begadang terlampau lama. Sehingga terkadang kita kesulitan meresapi pahit dan getirnya sejarah perjuangan para Pahlawan Pendiri Bangsa.
Tentang apa yang kini terjadi setelah 77 tahun merdeka?
Aku tak kuasa membayangkan. Andaikan mereka para Pahlawan Nasional itu menyaksikan, tiap detik anak bangsa ini saling mengolok-olok karena beda pandangan dan pilihan. Mungkin mereka akan gemas hatinya, melihat kualitas anak bangsa yang sekelas itu.
Hari ini, 10 November 2022, kita sedang memperingati Hari Pahlawan Nasional. Tantangan kita adalah mampukah kita meresapi maknanya. Mustahil kita mampu menyerap makna dari perjuangan para Pahlawan, jika kita gagal merasakan getirnya perjuangan para pahlawan kala itu. Pengorbanan mereka untuk berdirinya Bangsa ini sungguh sempurna.
Coba kita tengok sejenak. Apa yang dilakukan anak-anak bangsa ini saat peringatan Hari Pahlawan Nasional, tanggal 10 November?
Saat ini --kita para generasi penerus-- tinggal memperingatinya saja. Mengingat kembali pahit getirnya para syuhada pejuang bangsa. Yang telah mendirikan dan membebaskan bangsa ini dari penindasan keji para penjajah yang tak berperikemanusiaan. Yang menghisab darah para pendahulu kita. Yang tak menghargai hak asasi manusia.
Peringatan atas sejarah perjuangan itu kebanyakan dilakukan dengan bersukaria. Tidak ada lapar dan hausnya. Tidak ada bercucur keringatnya. Tidak ada bersembunyi-sembunyi dan tercekam ketakutan. Tidak ada merangkak-rangkaknya sebagaimana dulu para pejuang lakukan. Memang tidak ada yang mengharuskan seperti itu. Akan tetapi, bagaimana caranya supaya suasana kejuangan itu merasuk ke dalam jiwa anak-anak bangsa ini?
Saat upacara bendera 10 November misalnya, sering kita jumpai komandan upacara bersusah payah meminta para peserta bersikap sempurna. Para peserta sibuk berlindung dari sinar matahari yang memanasi kita beberapa menit saja.
Di antara bentuk kegiatan memperingati hari Pahlawan Nasional 10 November Pemerintah Pusat sampai Daerah, bahkan RT, bersusah-payah meminta warganya untuk mengibarkan berdera Merah Putih sebagai bentuk penghormatan. Nampaknya hanya sedikit saja yang melaksanakan.
Dan dari yang sedikit itu mungkin sebagian saja yang melakukannya dengan sepenuh jiwa. Sepertinya makna juang kepahlawanan belum sepenuhnya terinternalisasi ke dalam jiwa sebagian anak bangsa ini.
Jika pandangan itu benar, mungkinkah dulu tidak ada pengalaman belajar tentang nilai kepahlawanan dan rasa nasionalisme yang berhasil ditanamkan oleh sekolah kita? Setidaknya ironi ini menjadi kritik bagi pendidikan dan kita semua.
Pahlawan Nasional sampai kapanpun harus menjadi sumber keteladanan karakter bangsa. Semangat pantang menyerah, berani berkorban dan tanpa pamrih adalah modal tertinggi kekuatan Bangsa ini. Jika nilai itu terus dimiliki oleh bangsa ini, maka Indonesia akan menjadi Bangsa yang kuat tak tergoyahkan.
Marilah sejenak kita resapi sebuah Pesan Pahlawan Nasional Moh Hatta yang pada hari ini, 10 Nopember dibacakan dihadapan peserta upacara. Demikian pesannya:
"Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan dibuat dikenang namanya, tetapi semata-mata untuk membela cita-cita".
"Jatuh bangunnnya negeri ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Jangan mengharap bangsa lain respek terhadap Bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan ibu pertiwi".
Pesan yang sungguh menggetarkan jiwa dari Moh Hatta di atas, akan berlaku sepanjang perjalanan Bangsa ini. Seakan membisiki kita semua; 1) Jangan keras-keras engkau bicara, jika bicaramu itu hanya untuk kepentinganmu dan kelompokmu semata. 2) Jangan berbangga-bangga atas capaianmu, jika pedulimu bukan untuk bangsamu, dan 3) Usahlah engkau bergagah-gagah, jangan-jangan kekayaanmu itu dari memperdaya kawan sebangsamu atau dari merusak dan mencuri kekayaan yang dikandung ibu pertiwi. Mari camkan! [...]
Membaca, memahami, mengimplementasikan.....☺️☺️👍🙏
ReplyDeleteSuper sekali, pahlawan sejati terus berjuang membela kebenaran.
ReplyDeleteSelamat hari pahlawan, semoga kita dapat meneladani semangat juang dan pengabdiannya terhafap negeri
ReplyDeleteSiip bu Kus, Abah Darwi, Gus Pri...syukron.
ReplyDeleteSuper sekali.. Mantap...
ReplyDelete