Kopdar Literasi LP Ma'arif NU Tulungagung Bersama Prof Ngainun Naim.


Daging semua. Demikian yang selalu saya rasakan saat berkesempatan mengikuti mentoring menulis Prof Dr Ngainun Naim. 

Hari Sabtu, 05/11/2022 bertempat di Kantor LP Ma'arif NU Tulungagung. Kami (Kamad MI, LP Ma'arif, Pergunu, BTQ) yang selama ini berada di kelas virtual (WA) "Ma'arif Menulis" difasilitasi oleh Pengurus LP  Ma'arif  untuk kopdar bersama Prof Naim. 

Memang diam-diam kami sangat rindu suntikan motivasi menulis dari Sang Mentor Prof Ngainun Naim. Kerinduan ini sepertinya ditangkap dengan baik oleh pembina kami Ketua dan Sekretaris LP Ma'arif NU Tulungagung, H Kozin, M.Pd.I dan Dr Ahmad Supriyadi, M.Pd.I

Beliau berdua adalah saksi. Bahwa komunitas virtual "Ma'arif Menulis" pernah berjaya di awal pandemi tahun 2020 an yang lalu. Komunitas yang didirikan para kamad MI (Kepala Madrasah Ibtidaiyah) ini, pernah mengalami masa puber menulis yang luar biasa. 

Mengawalinya dengan meng-iyakan dawuh Prof Naim, perlunya komitmen menulis minimal lima paragraf setiap hari. Belasan dan bahkan puluhan tulisan setiap hari muncul di grup WA tersebut. Dan beberapa bulan kemudian buku demi buku solo karya komunitas ini pun terbit. Sungguh membanggakan. 

Akhir-akhir ini, spirit itu melemah. Hanya beberapa tulisan saja yang hadir memberikan tanda kehidupan di grup. Satu dua tulisan dari penulis teristiqomah. Penulis yang saya maksud ini memang luar biasa. Beberapa buku telah mereka terbitkan selama menjadi anggota grup. Ia adalah Pak Suprianto, Kepala Madrasah Ibtida'iyah Miftahul Huda Pakisaji Kalidawir. 

Selain Pak Suprianto, ada beberapa anggota yang juga masih cukup aktif menulis, misalnya Ibu Dr Eti Rohmawati, Om Sugeng Riyadi, Pak Ansori, Pak Subadi, dan masih ada lagi yang lain. Terhadap mereka ini, Prof Naim turut memberikan apresiasi. Karena mereka masih berusaha menjaga komitmen menulisnya. 

Prof Naim menyadari bahwa mentradisikan menulis setiap hari itu memang berat. Karena itu,  dunia menulis ini tak banyak penghuninya. Hanya sedikit saja yang mampu melakukannya secara istiqomah. 

Kopdar kali ini dimaksudkan untuk menyuntik kembali gairah menulis yang mulai melemah, demikian dikatakan oleh Dr Supri, usai acara sambutan H Kozin.

Dengan gayanya yang santai serta kaya humor Prof Naim pun memulai menatar kami. Beliau menangkap, telah terjadi masalah pada motivasi internal kami, yang perlu dilurus-luruskan kembali. 

Katanya, jangan lupa berdo'a "Allohumma, niat ingsun mekso awak marang kesaenan". Jadi, diri ini memang harus kita paksa untuk suatu kebaikan yang sekilas tak ada keuntungan materinya secara langsung, seperti menilis ini. Biasanya kita ini bergerak melakukan sesuatu karena ada motivasi dari eksternal. Misalnya tugas, kewajiban, dan lain-lain. Jika hal itu tidak ada, maka kita cenderung menikmati kenyamanan. Itu tandanya motivasi internal (niat) kita lemah. Karenanya perlu dipaksa. 

Mendengar suntikan pertama dari Prof Naim, kami semua tersenyum, meng-iyakan. 

Sejurus kemudian Prof Naim mengajak kami untuk meyakini bahwa menulis dan tulisan itu sungguh ajaib. Hasil tulisan kita yang kemudian kita medsoskan atau kita bukukan, kemudian dibaca orang akan bergerak melakukan kerja interconnected. Banyak teman dan relasi di berbagai tempat, banyak panggung, dan banyak kemudahan akan kita dapatkan. Percayalah!

Sampai-sampai saya (Prof Naim), muncul ide menulis buku yang berjudul "Terbang Bersama Tulisan". Katanya, berbagai komunitas di luar kota, dan bahkan di luar pulau mengundang dan memfasilitasinya untuk menyampaikan ilmu dan pengalaman menulisnya. 

Perjanalan demi perjalan dan acara demi acara itu  tak lain karena mereka mengenali kita sebagai penulis yang konsisten. Pengalaman itu kemudian membuat mereka mengundang kita untuk bertemu langsung untuk berbagi cerita. 

Berbicara menulis, tidak usah berfikir yang serius dan berat, sebagaimana dulu kita menulis skripsi atau tesis. Jika kita membayangkan itu, hanya traumatis menulis yang kita dapatkan. Dan lagi-lagi kita tak kunjung berangkat memulai menulis.

Awali dengan menulis kisah perjalanan hidup kita sendiri. Semua kita punya  pengalaman unik yang sayang jika tidak kita abadikan dalam tulisan. Bukankan hidup dan kehidupan ini anugerah terindah? Karena itu syukuri dengan mengabadikannya dalam tulisan. Kelak orang lain dan generasi setelah kita akan tahu, betapa hidup ini terus berubah dan berkembang begitu cepat. Jadi, dalam konteks ini menulis itu adalah legasi dan aktualisasi syukur. 

Kawan, ilmu kita begitu sedikit. Begitu banyak kawan-kawan kita yang berkesempatan bersekolah, mondok serta kuliah di lembaga-lembaga yang berkelas. Benar bukan?  Akan tetapi jika kita menekuni dunia menulis, personal branding kita tak mustahil akan menutupi dan bahkan akan melampauhi sedikitnya ilmu yang kita miliki.

Begitu banyak, yang Prof Naim nasehatkan kepada kami hari itu. Menyirami jiwa kami yang mulai gersang dari semangat menulis. Membangunkan kembali gairah menulis kami yang hampir terlelap. 

Terimakasih Prof Naim, terimakasih PC LP Ma'arif NU Tulungagung serta terimakasih PERGUNU.  

Kegiatan kopdar ini semakin syahdu karena diakhiri dengan penyerahan 3 buku yang baru saja terbit buah karya anggota grup Ma'arif Menulis yaitu; 1) Seratus Sajak Untukmu, 2) Jejakku Menulis,  keduanya karya Filzatun Nafsi dan 3) Novel 'Jejak-Jejak Teracak", karya Nurhadi. [...]

Comments

  1. Selalu syahdu tulisan P. Nur

    ReplyDelete
  2. Selalu menarik membaca tulisan Kang Nur. Dan yang membuat penasaran karya yang baru saja terbit. Ini semakin menambah motivasi saya untuk terus menulis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya belum bisa nututi panjenengan pak Pri...sat set..dan istiqomahnya menulis tiap hari.

      Delete
  3. Catatan rinci dan keren. Mantap Pak Nur.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia