Pak Lurah Yang Filantropi
Usai berkegiatan bersama dari jam 08.00 sampai 12.00 wib, kami bergegas menunaikan sembahyah duhur di masjid dekat kantor. Sepulang dari masjid, sambil berkemas kami merasakan seakan ada yang memanggil-manggil dari dalam perut. Kompak, rupaya ada faktor U yang membuat kami saling pandang untuk menjawab panggilan tersebut. Maklum waktu sudah melangkahi pasal dua belas. Ada kebiasaan yang sudah menjadi pengadatan. Dahar siang.
Tak jauh dari tempat kami berkegiatan ini, ada beberapa warung makan bercita rasa kelas premium. Kami tak ragu menyebutnya begitu karena beberapa kali makan bareng di tempat-tempat itu, hasil akhirnya selalu memuaskan. Harganyapun cukup bersahabat. Jikapun terkadang ada sedikit gangguan, itu pasti bukan karena rasa makanannya, tetapi karena kehabisan tempat duduk. Rupanya tempat-tempat yang kami ceritakan ini sudah menjadi jujugan para pecinta kuliner.
Siang ini, kami berempat bersepakat menuju warung sebelah timur kantor. Warung ini selain lebih dekat dengan kantor, juga lebih premium dibanding yang lain. Tak pernah sepi, motor dan mobil selalu memenuhi tempat parkir.
Sedikit kikuk saat memilih tempat duduk untuk kami ber-empat. Susah mencari meja yang belum ada penduduknya, terlebih saat jam maksi (makan siang) seperti ini. Kamipun duduk di tempat yang tidak simetris, di sisi-sisi sudut meja, di samping orang yang sedang lupa diri menikmati maksinya. Tak tama kemudian kami dapat duduk berdekatan, karena penikmat maksi sebelumnya telah undur diri.
Saat kami sedang menunggu penjual membakar makanan yang kami pesan, kami mengamati ada laki-laki gagah berseragam atasan putih celana gelap. Tampaknya ia sudah selesai makan. Duduk membelakangi meja, sambil sesekali memasukkan tusuk kecil ke mulutnya. Rupaya ada serpihan-serpihan daging bakar yang menyelinap di sela-sela giginya. Ia tampak menikmati ritual menusuki sela-sela gigi itu.
Rupaya salah satu di antara teman kami mengenali bapak yang ku ceritakan di atas. Spontan mereka berdua bertatap pandang dan saling menyapa. "Lo Pak Lurah?!", seru temanku. "Lo Pak Guru,..." jawab pak Lurah. Sambil bersalaman mereka rupaya saling menjelaskan sedang dari mana dan berkegiatan apa?
Empat porsi makanan telah siap di meja kami, melengkapi minuman yang lebih dulu datang. Tanpa berbasa-basi, makanan langsung kami serang. Khusyu' sekali, lupa perkara apapun termasuk anak dan bini.
Di tengah kami sedang menikmati proses maksi yang khusyu' itu, mendekat ke kami si Mbak Pelayan. Dengan sopan ia berkata, "Pak dahare sedoyo sampun dicekapi Pak Lurah." Indah sekali suara itu merasuk di telinga kami. Suara itu rasanya gurih, segurih sate kambing hangat, tusuk yang nomer pertama.
Dua detik dari ucapan merdu mbaknya itu, kami berempat mendongakkan kepala seraya mengarahkan pandangan ke arah pak Lurah. Kami melihat pak lurah sudah melangkah keluar dari warung, berjalan membelakangi kami. Sambil berjalan bersama sopirnya, tangan pak lurah bersusah payah memasukkan dompet ke saku celananya. Entah karena sakunya yang sempit atau karena dompetnya yang terlampau tebal. Beberapa langkah kemudian pak lurah sedikit melambaikan tangannya saat teman kami meneriakinya dengan ucapan "matursuwun Pak Lurah."
Tak seperti biasanya, melanjutkan separo kedua proses makan ini rasanya semakin nikmat. Laksana jiwa-jiwa yang merdeka dari intimidasi. Tak ada sedikitpun rasa ragu apalagi khawatir. Indera perasa bekerja makin sempurna. Saat seperti ini, perkara yang kurang nikmat saja terasa nikmat, apalagi yang sudah nikmat. Mungkin hal begini bisa menjadi ilmu, bahwa hati dan jiwa merdeka perlu dihadirkan untuk menyempurnakan suatu kenikmatan.
Pak lurah sudah melaju dan semakin menjauh dari kami. Sementara kami masih gemulai dengan kebahagiaan makan siang. Bersautan ekspresi mengungkapkan kenyataan bahwa temanku itu benar-benar punya lurah. Sikap filantropi pak lurah memang sudah mafhum di lingkungannya. Rupaya bisnis wisata air (kolam renang) yang dimiliki pak lurah laris manis, terlebih di musim liburan sekolah seperti saat ini.
Bisnis halal yang dimiliki seorang pejabat bersimbiosis secara manis dengan tugas kedinasannya sebagai pelayan masyarakat. Dapat dikatakan pak lurah satu ini telah selesai dengan dirinya sendiri. Artinya, tanpa gaji dari jabatannyapun hidupnya sudah lebih dari cukup. Sikap filantropi yang melekat pada pak lurah semakin memantapkan ia sebagai "bapak" dari masyarakat yang dipimpinnya.
Sikap filantropi yang dimiliki oleh seseorang, menunjukkan indikator kebahagian dari orang tersebut. Karena itu "memberi" sering dikonotasikan dengan istilah "berbagi kebahagiaan". Maknanya, sang pemberi punya banyak kebahagiaan, yang bisa dibagi-bagi. Ajaibnya kebahagian yang dibagi-bagikan bukannya akan habis, tetapi justru akan menghadirkan kebahagiaan baru yang lebih banyak. Mungkinkan ini yang orang sebut sebagai "miracle of giving?".
Sumbergempol, 07/07/2022
Comments
Post a Comment