Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof
Banjir Tahniyah Di Awal
Tahun 2022.
Sebuah
nama tiba-tiba menjadi perbincangan hangat di media sosial WhatsApp. Pada beberapa
grup WhatsApp, yang semestinya saat itu bertukar ucapan selamat tahun baru 2022
tiba-tiba dibanjiri tahniah pada seseorang
yang namanya termaktub pada lampiran SK pengukuhan Guru Besar. Nama itu adalah Prof. Dr. Ngainun Naim, M.HI. Pada
kolom berikutnya tersebut asal Perguruan Tinggi tertulis UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.
Anugerah tertinggi
bidang keilmuan yang diterima Prof. Ngainun Naim ini bagi saya dan komunitas
pegiat literasi di Tulungagung dan sekitarnya cukup exited. Banyak alasan mengapa rasa senang dan bangga itu begitu
menggelora. Di antaranya adalah perasaan kedekatan dan chamistry antara seorang guru
dan murid. Bukan hanya guru/dosen di kampus. Lebih dari itu beliau adalah guru
sekaligus mentor yang telah berhasil menebarkan virus literasi di jiwa kami, murid-muridnya.
Pentingnya Personal
Branding.
Siapa
yang tak kenal Prof. Ngainun Naim? Dosen muda ini, selain dikenal sebagai dosen
teladan di kampus UIN SATU Tulungagung, nama beliau telah malang melintang di
dunia literasi (menulis). Bukan hanya di Tulungagung dan sekitarnya, tetapi
semenjak salah satu bukunya yang berjudul “The Power Of Writing” viral,
undangan mengisi pelatihan literasi lintas pulau pun pernah dihadirinya.
Mudah bagi saya
membayangkan mengapa beliau begitu laris diundang sebagai narasumber literasi. Daya
istiqomahnya menulis dan produktivitasnya menerbitkan buku tidak banyak dimiliki
orang (akademisi) lain. Karena itulah kampanye berliterasinya, memiliki
kekuatan ajaib tersendiri. Benar-benar sebuah teori yang telah dipraktikkan,
atau ilmu yang telah diamalkan. Dari pengalaman dan berbagai karyanya, mudah
bagi peserta mengikuti jejak suksesnya dalam berliterasi (menulis).
Personal
Branding Pak Ngainun Naim sebagai “provokator” literasi
dapat ditelusuri dari banyaknya alumni pelatihan yang berhasil menulis buku
solo maupun antologi. Saya berani menjamin, usai mengukuti motivasi literasinya
Pak Ngainun Naim, semangat berliterasi setiap peserta pelatihan menyala-nyala.
Tersengat energi untuk segera mewujudkan karya.
Kekuatan Pak Ngainun
Naim dalam membangunkan semangat literasi yang selama ini tertidur pulas, menjadikan
Beliau disemati panggilan “Prof” oleh kolega dan murid-muridnya. Sampai-sampai, dalam suatu forum
Beliau sering mengklarifikasi bahwa dirinya belum bergelar Profesor yang
sesungguhnya. Karena memang (saat itu) gelar tersebut diberikan oleh komunitas
penulis pemula sebagai hadiah atas semangat dan keberhasilannya menggerakkan
budaya literasi.
Akademisi Yang
Merakyat.
Begitu
banyak jumlah akedemisi di dunia kampus hari ini, dengan berbagai keilmuan yang
dimiliki. Akan tetapi nama besar mereka hanya bersinar di lingkungan kampus.
Masyarakat luar yang sebenarnya tak berhenti belajar, seperti guru, aktivis
sosial, aparatur pemerintah, dan seterusnya, seakan tak punya akses untuk
menjangkau dunia akademis. Sehingga masyarakat pembelajar (community develovment) berjalan melambat.
Prof. Ngainun Naim
adalah contoh akademisi kampus yang keluar dari budaya umum di atas. Kepribadiannya
yang bersahaja, kreatifitasnya menulis, dan gaya-nya yang enak dalam
menyampaikan ilmu-ilmu menulis telah membawanya dekat dengan khalayak pembelajar.
Pada masa pandemi dua
tahun yang lalu (2020-2021), gambarnya selalu muncul di banner-banner, dan flyer-flyer pelatihan dan seminar
literasi. Mulai dari kantor pemerintah, kelompok kerja guru, sekolah, pondok
pesantren, organisasi masyarakat, kepemudaan, dan lain-lain. Prof. Ngainun Naim
juga dengan senang hati berada di kelas-kelas sederhana, grup-grup WatsApp untuk membersamai mereka para penulis pemula
mewujudkan karya tulisnya.
Banyaknya kegiatan pendampingan
keilmuan yang beliau lakukan, saya sebut sebagai akademisi yang merakyat (populis). Saya kemudian membayangkan
jika banyak akademisi kampus yang melakukan hal yang sama, maka pembangunan
sumberdaya manusia (human resource) akan
berhasil semakin cepat.
Yang menjadi pertanyaan
bagi saya adalah, apakah kehangatan bersama di kelas-kelas sederhana yang dulu
itu bisa terulang? Saat jubah kebesaran sebagai guru besar telah disandang?
Saya menduga beliau akan menjawab seperti ini, “biarlah suasana dulu itu
dilanjutkan oleh yang muda-muda”
Pengalaman Pribadi
Bersama Prof. Ngainun Naim.
Sudah
cukup lama saya mengenal beliau, yaitu sejak kuliah di STAIN Tulungagung, di
mana saya adalah adik kelasnya. Yang saya tahu beliau adalah mahasiswa penghobi
membaca dan menulis. Sebuah modalitas wajib bagi seorang calon akademisi dan
ilmuwan. Perkenalan itu hanya sebatas saling mengenal saja. Dan setelah itu
hanya beberapa kali bertemu di kegiatan pelatihan karena profesi dan tempat
bekerja yang berbeda.
Pertemuan berikutnya terjadi
secara virtual, saat itu beliau berinisiatif mengajak para penulis pemula menulis
buku antologi “Geliat Leterasi dari IAIN
Tulungagung” yang dikeroyok penulisannya oleh dosen, mahasiswa dan alumni.
Saya termasuk di antaranya.
Sebuah moment yang tak
kan pernah saya lupakan ketika bersama beliau dalam grup whatsapp “Ma’arif Menulis”. Di ruang virtual ini kami dituntun
untuk menulis sehari minimal lima paragraf, dan diyakin-yakin keajaibannya di
kemudian hari. Grup ini, saya sebut sebagai grup paling berfaedah selama saya
bermedia sosial whatsapp. Mengapa? Karena dengan suntikan motivasi yang beliau
berikan, saya berhasil memberanikan diri belajar menulis. Pada Bulan November
2020 sebuah buku ISBN pun akhirnya terbit berjudul “Melukis Mimpi di Masa Pandemi,
Pengalaman Hidup, Gagasan dan Nasehat Diri”. Buku solo perdana 248 halaman yang saya tulis di masa pandemi ini,
semakin istimewa karena diberi Kata Pengantar oleh Dr. Ngainun Naim dengan judul “Pandemi dan Kreatifitas Berliterasi”.
Tulisan pengantar Beliau tersebut, merupakan sebuah apresiasi yang tak ternilai
harganya bagi saya sebagai penulis pemula, sekaligus muridnya.
Menulis
itu Mudah. Sekilas statemen tersebut sederhana.
Semua orang bisa mengatakannya. Tapi tentu bobotnya akan berbeda, tergantung
siapa yang mengatakannya. Bagi Prof Ngainun Naim, mengatakan bahwa “menulis itu
mudah” tidaklah berlebihan. Pengalamannya sebagai penulis yang produktif dan
keberhasilannya mendampingi banyak orang menerbitkan buku adalah bukti yang tak
terbantahkan.
Menulis itu mudah,
kemudian menjadi sebuah judul buku yang berhasil diterbitkan awal tahun 2021.
Semua jurus menulis yang pernah Prof. Ngainun Naim praktikkan, dikupas tuntas
dalam buku tersebut. Ada 40 jurus jitu yang secara gamblang dapat dibaca dan dipraktikkan
jika ingin mewujudkan sebuah karya buku. Di antara 40 jurus itu, yang ke 21 misalnya, beliau
menyebutkan bahwa untuk sukses menulis maka,
“Luangkan Waktu, bukan Menunggu Waktu Luang.” Setujukah anda dengan jurus
tersebut? Masih ada 39 jurus jitu lainnya yang menarik untuk dibaca pada buku
inspiratif tersebut.
Saya masih ingat, bagaimana
kehebatan Prof Naim dalam memberikan suntikan motivasi menulis. Saat itu seorang
peserta diklat literasi yang disilelenggarakan oleh PC PERGUNU Tulungagung,
dengan rendah hati mengadu. Ia ingin sekali menulis, tapi setelah mencoba, ia
merasa tulisannya kurang baik dan bermutu. Mendengar kegalauan peserta tersebut,
Prof Naim tersenyum seraya menembakkan kalimah motivasi dengan mengatakan
bahwa, “Tulisan yang baik dan bermutu hanyalah bonus dari kebiasaan menulis, jadi teruslah menulis, menulis dan menulis!” Sungguh
jawaban berkelas, dari guru yang cerdas.
Menjadi
Guru Besar Yang Sesungguhnya. Di usia yang masih
muda, belum genap 50 tahun dan telah menjadi seorang Guru Besar adalah prestasi
akademis yang membanggakan. Sudah pasti sebuah perjalanan yang tak mudah,
memerlukan modalitas ilmu, semangat, ketekunan, kedisiplinan serta jiwa yang
pantang menyerah. Keberhasilan puncak akademik ini tak mungkin diperoleh dengan
laku yang biasa-biasa saja. Prof. Ngainun Naim telah berhasil mengalahkan
berbagai kemalasan dan pesimisme. Dan atas semua ikhtiyar itu, jubah kehormatan
sebagai Guru Besar pun tersemat.
Pada akhirnya, selamat sukses
kepada Prof. Ngainun Naim, M.HI, sebagai
Guru Besar Filsafat Islam UIN SATU Tulungagung. Perjalanan indah panjenengan membuktikan sebuah dawuh ulama bahwa, “Laisal Karomah illa Bil
Istiqomah.”
tulisan nya mas nurhadi selalu Enak dibaca...
ReplyDeletesyukkaaaa
Luar biasa Pak Nur
ReplyDeletebetmatik
ReplyDeletekralbet
betpark
tipobet
slot siteleri
kibris bahis siteleri
poker siteleri
bonus veren siteler
mobil ödeme bahis
7WCRS
dijital kartvizit
ReplyDeletereferans kimliği nedir
binance referans kodu
referans kimliği nedir
bitcoin nasıl alınır
resimli magnet
4UZD3
ardahan
ReplyDeleteartvin
aydın
bağcılar
balıkesir
0LW
ataşehir
ReplyDeleteistanbul
çeşme
uşak
samsun
AJYZ0