Dari Lima Paragraf, Menuju Keajaiban Dunia

 

Pak Suprianto, Penulis pemula yang ajaib.

Judul di atas terasa utopis. Menyangkut pemahaman umum bahwa keajaiban dunia itu telah selesai. Tersemat pada benda-benda besar hasil karya sejarah peradaban manusia tempo dulu yang spektakuler. Manusia hari ini cukup menyaksikannya dengan kegaguman yang tak terjelaskan. Tentang  bagaimana karya-karya itu dibuat oleh manusia jaman dahulu yang berteknologi entah seperti apa. Karena teknologi canggih diklaim hanya ada di zaman modern. 

Yang pasti, semua hal besar tak tepas dari sebuah usaha kerja keras yang terus menurus dan pantang menyerah. Mengalahkan kesantaian dan kemalasan. Menaklukkan ketidak mungkinan menjadi mungkin. 

Sebuah keajaiban dapat diartikan sebagai sesuatu yang luar biasa dan tidak umum. Tentu saja jumlahnya tidak banyak. Mungkin hanya satu sedunia atau beberapa gelintir saja adanya. Ia tidak hanya lahir dari pikiran dan tangan khusus, tetapi juga dari sebuah keajegan (istiqomah) yang menetap. 

Tetesan air yang lembut sekalipun akan melubangi batu yang keras, jika terus menetes tak lekang waktu. Fakta ini cukup menjadi pelajaran yang sangat absah untuk diyakini kebenarannya. Maka, sebenarnya siapapun punya potensi untuk melahirkan hal besar, asalkan punya jiwa istiqomah dan pantang menyerah. 

Seorang teman yang bukan siapa-siapa. Bukan anak raja, bukan pula si kaya raya. Hari-harinya ia habiskan membersamai bocah-bocah bermain dan belajar. Menjadi guru dan Kepala Madrasah di bawah naungan Ma'arif NU Tulungagung. Tak banyak yang mengenal dirinya juga kiprahnya. Aktivitas profesinya ya, begitu-begitu saja. Sudah ada prosedur tetapnya.  Jikapun berkreasi dan berinovasi tak boleh melampaui kewajaran. 

Kini temanku itu punya dunia baru di sisi tugas profesinya. Menjadi penulis pemula. Bermodal sedikit ilmu menulis yang ia perolah dari seorang guru/dosen dan tokoh  literasi, Dr Ngainun Naim. Ilmu yang terbatas, berpadu dengan semangat membara yang tanpa batas. Pada awalnya menetapkan dirinya sendiri berhukum wajib untuk menulis minimal  lima paragraf setiap hari. Setelah beberapa waktu muncul perubahan besar, ia mulai menyenangi kegiatan menulis lima paragrafnya. Ia pun menyesali dulu kegiatan menulis itu dilakukannya dengan keterpaksaan. 

Kini rasa berat dan terpaksa itu telah lenyap tak tersisa. Bertumbuh kesenangan dalam menulis, yang makin hari makin kokoh. Bahkan ia lupa bahwa altifitasnya menulis setiap hari itu, telah laksana air yang menetes tak lekang waktu. Tak lagi peduli apakah tetesannya itu punya dampak atau tidak, yang panting terus menetes setiap waktu. 

Tetesan tulisan itu, dalam setiap bulan kemudian diikatnya dengan sebuah judul. Diterbitkan menjadi sebuah buku. Dan buku-buku baru buah karyanya terus lahir silih berganti. Berjajar, mencatatkan diri menjadi salah satu di antara keajaiban dunia literasi. Di dunia tersebut, temannya tidaklah banyak, hanya berisi orang-orang hebat yang tak kenal lelah berkarya dengan pena-pena ajaibnya. 

Selamat atas terbitnya buku yang ke sekian kalinya. Ku tahu,  Pak Suprianto tak butuh motivasi dari siapapun. Karena motivator nomor satu, dan paling ampuh tidak lain adalah diri sendiri. [...]

Comments

  1. Sebenarnya yang luar biasa itu jenengan Pak Nur. Selain enak dibaca, gaya bahasanya lugas, runtut, meliuk-liuk dan menghujam hati. Ini penilaian yang jujur. Saya hapal dengan karakter tulisan jenengan, meski tidak tertera penulisnya sekalipun. Untuk artikel jenengan di atas saya sangat suka paragraf yang kelima, "Seorang teman........

    ReplyDelete
  2. Terima kasih Pak Nur aoresiasinya, semoga jenengan juga istiqomah lagi menulis.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia