Getar Hati di PENTAS PAI

Pagi itu, Kamis 09 September 2021 di SMP Negeri 1 Tulungagung, digelar beberapa lomba Seni dan Ketrampilan Islami tingkat SMP. Perlombaan ini diberi nama PENTAS PAI, sebutan untuk Pekan Seni dan Ketrampilan Islami. Sebuah kompetisi berbasis Pendidikan Agama Islam yang diadakan setiap dua tahun sekali. Mereka yang terbaik di tingkat Kabupaten akan menjadi wakil PENTAS PAI di tingkat provinsi. 

PENTAS PAI tahun ini (2021) digelar dengan penuh kehati-hatian karena masih dalam masa pandemi Covid-19. Karena itu, untuk menghindari kerumunan, babak penyisihan dilakukan dengan sistem daring. Peserta dari berbagai sekolah (SMP) se Kabupaten Tulungagung mengirim penampilan berbentuk vedio,  untuk dinilai oleh dewan juri. Kemudian sepuluh terbaik ditetapkan sebagai finalis, yang dikompetisikan secara langsung dengan protokol kesehatan. 

Memasuki gelanggang final, yang meminjam tempat di SMPN 1 Tulungagung, suasananya sungguh terasa hangat. Para official dan pendamping lomba duduk-duduk di teras masjid tampak gelisah. Kadang berdiri, kadang berjalan, mondar-mandir, dan kelihatan tidak fokus. Pikiran mereka hanyut pada ketatnya persaingan para kontestan terbaik. Sesekali aku mencoba mengajak mereka mengobrol, dan sudah ku duga, perhatian mereka hanya terfokus pada jagonya masing-masing. Sepertinya mereka menghawatirkan jagonya lupa akan nasehat terakhirnya sebelum naik ke atas podium yang panas. 

Aku segera mengalihkan perhatian saat sebuah mobil warna hitam yang biasa kulihat parkir di belakang Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulungagung datang. Rupanya dugaanku tepat, Bapak Plt. Kasi PAIS bersama rombongan hadir untuk juga memberi semangat. Mereka tak ingin ketinggalan moment final PENTAS PAI SMP Tingkat Kabupaten ini. Segera Ketua MGMP PAI SMP, H. Khoiruddin dan para panitia menyambutnya, seraya memberikan beberapa informasi  tentang apa saja yang sedang berlangsung saat itu. 

Ada dua lomba yang digelar di masjid, yaitu MTQ di lantai bawah dan lomba kaligrafi di lantai atas. Serta dua lomba di kelas dan ruang guru, yaitu lomba pidato (khitobah) dan lomba Cerdas Cermat PAI. Setelah mengambil dokumen lomba MTQ panitia menggiring kami untuk melihat lomba kaligrafi di lantai atas. Gus Ahmad Balya (Plt. Kasi PAIS) terkesima melihat beberapa kaligrafi yang sedang dikerjakan setengah jadi oleh peserta lomba. Panitia menjelaskan bahwa lomba kaligrafi telah dimulai sekitar tiga jam yang lalu dan akan berakhir tiga  jam yang akan datang. 

Saat mereka sedang asyik berdiskusi tentang lomba kaligrafi, aku terkesiap di tepi kiri lantai dua masjid itu. Rasanya aku tak ingin beranjak dari tempat itu. Tiba-tiba kakiku enggan melangkah, dan telingaku, ku buka sebuka-bukanya. Sebuah alunan tilawah yang sungguh indah dari peserta MTQ di lantai bawah. Sungguh dadaku bergetar saat Kalam Nya ditilawahkan dengan seni dan suara yang memesona. Hatiku bergetar. 

Di sela kekagumanku pada mukjizat ayat-ayat Nya ditilawahkan dengan penuh keindahan itu, seiring gemelegarnya jiwaku jatuh hati pada indahnya kalam suci itu, mataku mendaratkan penglihatanku pada sebuah bangunan rumah mewah berlantai tiga yang gagah berdiri 100 meter di sebelah  barat masjid tempatku berdiri. Dan ... , tiba-tiba hatiku berbisik, "Andai diminta memilih; sungguh aku lebih bahagia mempunyai anak yang bisa seperti itu, dari pada mempunyai rumah setinggi itu". 

Keterampilan membaca ayat suci dengan seni (tilawah) yang indah hingga menggetarkan dada, merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya. Keindahan Firman Nya merasuki relung-relung kalbu, serasa membasuh noda-noda hitam yang mengotori hati. Sejurus kemudian serasa ada gerakan lembut hadir di hati yang telah tersirami ayat suci itu, rasa takjub akan keagunganNya, syukur atas nikmat Nya, utamanya nikmat bisa menyebut Asma Nya. Maha Benar Alloh Dengan Segala Firman Nya Yang Maha Agung. 

Semoga Alloh SWT mengaruniai hati kita,  hati yang terus mampu menyemai getar cinta kepada kitab suci Nya. Aamiin. 

#selamat sukses PENTAS PAI 2021


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia