Susah Payah Mencintaimu
Sebuah pertanyaan mengampiriku, dan mungkin juga kita semua. Tentang bagaimana remaja kekinian (milenial) mencintai bangsanya, Indonesia. Pertanyaan ini muncul saat bangsa ini sedang mengulang pesta bahagia tahunan, HUT kemerdekaan yang ke 76. Perayaan tahun kedua yang terjadi di masa pandemi.
Para melenial terkesiap, sambil memegang smartphone. Sebuah benda yang selama dua tahun ini tak pernah lepas dari tangan lembutnya. Hampir dua tahun mereka tak lagi duduk-duduk di bangku sekolah, tak berjumpa dengan guru dan teman-teman sekolahnya. Tak terbimbing budipekertinya. Tak bersaing dengan teman-temannya menuntaskan materi-materi pelajaran.
Mereka, para milenial itu kini hidup damai dengan guru sekaligus teman barunya. Sebuah benda yang serba tahu selera kaum muda. Aneka permainan yang tak punya kamus waktu buka dan tutup. Kapanpun dan di manapun selalu siap melayani. Mereka seakan tahu, tangan dan mata milenial tak kenal lelah jika bermain game online. Sendirian pun asyik, apalagi mabar (main bareng), sudah pasti lebih seru. Berteriak, meledak-ledak, menghardik, mengancam, membinasakan lawan-lawannya. Menambah histeria suka cita, hingga lupa segalanya.
Jangankan peduli dengan yang jauh, dengan perkara dekatpun ia tak lagi peduli. Di sinilah awal dari sulitnya menjawab pertanyaan di atas tadi. Bagaimana cara mereka mencintai bangsanya? Sungguh pertanyaan yang tak mudah dijawab. Cinta dan perhatiannya dikuras habis oleh sebuah benda yang memanjakan adrenalinnya.
Bukankah cinta itu hadir Karena pengetahuan? Seseorang mencintai sesuatu karena ia tahu apa yang ia cintainya itu sesuai dengan yang ia ingini dan butuhkan. Pengetahuan itu datang dari mata, dengan melihat, dari telinga dengan mendengar, serta dari indera lainnya. Selanjutnya masuk ke dalam otak dan pikirannya. Membentuk perubahan perilaku, sikap dan membangun rasa.
Dunia bocah sering disebut sebagai dunia dunia bermain. Karena mereka belum matang dalam memikirkan kewajiban dan hak, serta belum matang memilah dampak baik dan dampak buruk.
Di sisi lain otak bocah adalah otak yang masih segar yang subur untuk di tanami informasi apapun. Otak bocah belum banyak terisi aneka macam urusan dan kerumitan hidup. Otak yang masih segar akan mudah menerima, mengingat, dan menghafal informasi. Karena itulah, jika diusia bocah ia tak sekolah, kemungkinan akan lebih susah memahami dan mencerna sesuatu di usia dewasa/tua.
Sebagian bocah milenial itu hari menjejali otaknya dengan berbagai produk yang tak mereka tahu siapa pembuatnya. Yang pasti mereka membuat produk itu semata-mata untuk menghisap keuntungan materi. Tak pernah peduli berju-juta bocah menjadi korban. Tak peduli usia emas bocah-bocah itu terampas waktunya, enggan dengan belajar, abai pada kewajiban. Hidupnya melulu memelototi layar gawai. Mulutnya aktif berbicara, bahkan hingga berteriah histeria penuh emosi. Semua itu menggambarkan betapa ngegame telah menjadi dunia terpentingnya. Kepada mereka janganlah kau bertanya padanya tentang bagaiman engkai mencintai bangsamu?
Comments
Post a Comment