Balada Si Juned

Entah dari mana Juned berasal. Tempat tinggalnya kinipun, tiada yang tahu. Lebih-lebih statusnya; masih lajang atau sudah duda ataukah ia sedang minggat karena  terusir dari keluarganya. 

Kini ia sering terlihat mondar-mandir di suatu kampung yang tenang dan damai. Berjalan mengendap, menyelinap di antara tempat-tempat yang sepi. Matanya tak lurus memandang ke depan. Mengintai dengan teliti suasana kanan dan kiri. 

Di kampung ini ia sadar sebagai pendatang. Tatapan penduduk asli yang penuh curiga pun telah ia rasakan. Karena itu Juned mesti pandai-pandai memilih kesempatan. Kapan ia harus berjalan dan kapan ia harus berlari. Berpapasan dengan penduduk asli, dan di tanya anda siapa dan mau ke mana? bisa menjadi awal dari sebuah bencana. Juned pasti akan berbohong, menyembunyikan jati dirinya. Dengan berlari, luputlah dari selidik penduduk asli, pikirnya. 

Lama-lama Juned makin berani. Ia lebih sering datang ke kampung ini. Bahkan tak canggung lagi berjalan melewati kerumunan penduduk asli yang sedang begadang di sebuah gardu. Juned tak menyadari bahwa namanya mulai digunjingkan beberapa penduduk. Ada yang bertanya siapa lelaki itu, rumahnya di mana, dan kenapa sering mondar mandir di kampung kita ini? Adakah hubungan keluarga dengan warga sini? 

Suatu pagi, saat penduduk belum banyak yang terbangun Juned beraksi. Mendekati gadis yang sedang keluar rumah, sekedar untuk menghirup udara subuh. Gadis itu terkejut tiba-tiba ada pria berwajah asing di depannya. Tubuhnya tak terawat, kurus tapi wajahnya tegas. 

Tak buang waktu, Juned ingin segera merayu. Sebelum matahari terbit gadis ini harus berhasil kuajak berkenalan, pikirnya. 


Comments

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia