Semua adalah Belajar

 


Semua adalah belajar. Belajar tentang apa saja. Di mana saja, kapan saja dan kepada siapa saja. Bahkan saat sedang mengajar sekalipun, hati rasanya tak mau lekang dari meniatinya untuk belajar. 

Jika spirit pembelajar itu telah merasuk ke dalam jiwa, maka rasa ingin tahu akan selalu hadir di pikiran kita. Demikian juga rasa ingin menjadi lebih baik, dan lebih baik. 

Ketika cara berfikir, "semua adalah belajar" telah menetap dalam hati seseorang, menghadapi dan melihat apapun, akan dengan pikiran yang positif, dan tak mudah menyerah. Karena ia berkeyakinan, akan selalu ada hikmah dari setiap kenyataan hidup. 

Seseorang yang sedang menghadapi ujian hidup, akan bertambah-tambah berat beban hidupnya, jika ia tak punya jiwa pembelajar. Ia hanya akan fokus pada masalahnya semata. Meratapinya, menyesalinya, dan terkadang menghidup-hidupkan sikap buruk sangka. 

Beban yang ditanggung sudah berat, diperberat lagi oleh pikiran negatifnya. Laksana seorang penggembala yang sempoyongan memikul rumput, dan berjalan di jalanan yang licin. 

Seorang teman menyebut dirinya, ditimpa ujian hidup yang tak tertanggungkan. Ia merasa, mungkin karena dulu telah banyak melakukan dosa. Karena itu, kini ia menyatakan dirinya telah bertaubat. Supaya kepahitan hidupnya segera berakhir. 

Suatu hari ia mengajakku bertemu di suatu tempat. Rupanya ia ingin diriku menjadi saksi bahwa ia telah bertaubat. Ia mengulangi beberapa kali kata-kata tentang tekat taubatnya. Mungkin untuk meyakinkan diriku akan pilihannya itu. Atau, "Sebenarnya untuk meyakin-yakinkan dirinya sendiri," pikirku. 

Tak sekali itu saja, ia bicara perihal taubatnya itu.  Berkali-kali, dan selalu menegaskan bahwa yang terakhir ini sungguh-sungguh, alias serius. Aku cukup senang mendengarkan tekatnya yang menggebu-gebu itu. Tetapi menurutku, selalu berubah seiring situasi ruang dan waktu yang melingkupi kehidupannya. 

Akhirnya aku berfikir sejenak. Ada apa dengan temanku itu. Mengapa ia selalu gagal dalam berubah menuju lebih baik? Aku belum menemukan jawaban pasti dari pertanyaan ini. 

Ku coba membuat jawaban sendiri atas fenomena tersebut. Aku menduga bahwa ia belumlah orang yang bertaubat, tapi sebenarnya ia sebagai orang yang belajar bertaubat. 

Jika dugaanku itu benar, maka hendaknya ia berupaya terus menerus menyempurnakan belajar taubatnya, sambari berusaha menemukan kekurangan-kekurangannya. Mungkin motivasinya yang masih belum tepat, ataukah suasana lingkungannya yang tidak mendukung. Atau, ada sebab lainnya. 

Untuk temanku itu, mungkin lebih tepat mengatakannya "Aku sekarang belajar tobat, bukan aku sekarang sudah tobat." Maka aku mendoakannya semoga belajarnya, berhasil. Aamiin. 

Satu lagi, seorang teman, yang ingin aku melihat dirinya sebagai orang yang paling merana. Hidupnya ia sebut telah hancur, karena orang yang ia cintai dan perjuangkan selama ini meninggalkannya. 

Berhari-hari, berbulan-bulan didera kegalauan. Sikapnya berubah tak seperti biasanya. Entah sampai kapan ia akan dirundung sedih yang berkepanjangan ini. Jika berkomunikasi denganku, selalu situasi perihnya itu yang ia sebut sebagai sebab keterpurukannya. Bersikeras ia menyatakan bahwa orang lain enak, dan dan dirinya tidak. Orang lain bahagia dan dirinya tak bahagia. 

Lagi-lagi, temanku yang satu ini mengajakku bertemu. Sama, ia ingin aku mendengarkan kisahnya. Kisah yang menegaskan bahwa ia telah dirugikan lahir dan batin. Kisah yang getir, sehingga ia ingin orang lain menjadi saksi atas kegetirannya itu. Dengan begitu, ia telah merasa sedikit senang karena orang lain mengerti keadaannya. 

Kasihan sekali temanku yang satu ini. Beban pikiran yang dianggap berat itu dipeliharanya terus menerus. Buktinya, ia juga terlampau fokus pada peristiwa yang menyakitkan itu. Setiap bertemu temannya, berkisah tentang kegundahannya itu selalu diulanginya lagi. 

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, mengapa mengajak teman ngobrol, tapi tidak untuk membicarakan rencana-rencana indah ke depannya saja?  Dari pada terus menerus membuka-buka lembaran kelam masa lalu? 

Kuncinya ternyata, ada pada cara berfikir. Yaitu belum menjadikan hal yang telah terjadi itu sebagai proses pembelajaran. Terlampau fokus pada rasa kecewa, membuat ia sulit dan lama mencapai "move on."

Terhadap temanku yang satu ini, aku teringat dengan nasehat Guru Harfan kepada murid-muridnya. Nasehat ini sebenarnya untuk salah satu murid yang sedang galau hati karena ditinggal pergi oleh cinta pertamanya. Ia kehilangan hampir seluruh semangat hidupnya. 

Seakan tak tahu menahu masalah salah satu muridnya itu, Guru Harfan menyemangati murid-muridnya dengan mengatakan, "Ingat anak-anakku, tak ada satu hal pun di dunia ini terjadi karena kebetulan, semuanya, sekecil apapun merupakan bagian dari rencana Ilahi. Keberhasilan, kegembiraan, kegagalan, kesedihan, akan selalu menjadi bagian dari cerita hidupmu, cerita hidup siapa saja. Apa yang tak dapat membunuhmu, akan membuatmu semakin kuat. Yang kita perlukan hanya sikap tak gampang menyerah. Maju terus, coba terus, berjuang terus. Kau akan jatuh dan kau akan bangkit lagi, kau akan jatuh lagi, tapi kau akan bangkit lagi! Hidup terlalu singkat untuk gampang menyerah." (Andrea Hirata, Laskar Pelangi, Cetakan ke 51, 2020:220)

Tercengang, Ikaludin bin Sulaiman mendengar setiap sendi kalimat dari Guru Harfan itu. Semangatnya yang sempat lumpuh, pelan-pelan bangkit lagi. Guru Harfan berhasil menyakinkan bahwa setiap serpihan perjalanan hidup ini sebagai suatu pelajaran, untuk modal meraih masa depan yang lebih baik.  

Jiwa pembelajar adalah jiwa yang tak gampang menyerah. Indah dan mendidik sekali kalimat ini, "Apa yang tak dapat membunuhmu, akan membuatmu semakin kuat." [...]

Comments

  1. Tulisannya mntap,
    Bs jd motivasi ini buat saya dan teman, apa yang tak dapat membunuhmu,akan membuatmu semakin kuat....apa itu, tentu banyak yg tlh mengantar perjlanan hidup hingga hari ini

    Harus bnyak belajar ini...sahe Pak Nur

    ReplyDelete
  2. Belajar adalah proses yang tiada ujung

    ReplyDelete
  3. semakin kita belajar semakin kita tahu ternyata masih banyak yang belum kita ketahui, sehingga membuat kita akan terus dan terus untuk mencari tahu.
    seperti kecanduan ilmu

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia