Lapar dan Haus Adalah Rahmat
Lapar adalah berasa ingin makan karena perut kosong. Sedangkan haus adalah berasa kering kerongkongan dan ingin minum. Hadirnya dua rasa ini dalam diri kita sering menimbulkan rasa baru, di antaranya perasaan perih, sakit, cemas dan menderita.
Bagi makhluk hidup, makan dan minum difahami sebagai suatu kebutuhan pokok. Hingga kebutuhan makan dan minum bagian dari ciri makhluk hidup. Karena itu untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya siapapun butuh makan dan minum. Demikian juga manusia. Secanggih apapun dirinya, ia tetap butuh makan dan minum sebagai bahan bakar untuk menyalakan hidupnya.
Orang yang terlambat makan dan terlambat minum, ia akan menderita. Semakin lama semakin menderita, semakin lemah, bahkan serasa mau mati. Karena itu, manusia berupaya menimbun-nimbun makanan dan minuman supaya selamat dari derita kelaparan dan kehausan.
Bahkan sejak zaman dahulu, sejarah perjalanan manusia tak lepas dari dinamika berebut sumber-sumber makanan. Semua berkeinginan menguasai keberlimpahan makanan. Karena hidup dan makan tak bisa dipisahkan. Mungkin mereka berfikir, semakin banyak timbunan bahan makanannya semakin bahagia dan panjang umurnya.
Memang ada benarnya, seseorang yang di dalam rumahnya tersedia bahan makanan yang bertumpuk-tumpuk, ada rasa tenang di hatinya. Semakin menipis timbunan makanan, ia semakin gelisah. Setiap waktu selalu menghitung-hitung simpanan bahan makanannya. Tinggal sekian, berarti hanya cukup untuk menyambung hidup sekian hari.
Ketergantungan manusia kepada makan dan minum bersifat alamiah. Lapar dan haus adalah keinginan yang bersifat instingtif. Tak perlu menggunakan daya pikir, rasa ingin makan dan ingin minum tiba-tiba muncul dari dalam diri seseorang.
Pada akhirnya tiada hari tanpa makan dan minum. Kreatifitas manusia menemukan dan mengolah bahan makanan berkembang pesat, seiring dengan pesatnya ilmu dan teknologi hasil budaya manusia. Berjuta jenis makan dan minuman pun ditemukan. Makanan tidak lagi sekedar untuk menyambung hidup, tapi telah menjadi fasion bagi manusia modern. Mereka para pecinta makanan itu menyebut hobinya tersebut sebagai wisata kuliner.
Selera makan minum manusia ternyata tiada batas. Tuhan rupanya benar-benar memanjakan manusia. Dengan akal ia bisa menemukan dan menciptakan sesuatu yang ia inginkan. Bahkan menemukan beribu varian rasa makanan dan minuman.
Untuk menambah sensasi makan, makanan dan minuman itu disesuaikan dengan suasana ruang dan waktu memakannya. Dibangun berbagai tempat makan yang indah dan nyaman yang sewaktu-waktu siap melayani konsumen. Seakan mengatakan bahwa nikmati jadwal makanmu senikmat-nikmatnya.
Begitulah, makan minum menjadi kesenangan rutin sehari-hari setiap orang. Setiap rasa lapar dan haus mulai datang selangkah kemudian telah bertatapan dengan makanan dan minuman, baik di rumah maupun di tempat-tempat penjual makanan. Makan menjadi agenda yang tak boleh ditunda waktunya.
Lalu agama sebagai syari'at (aturan hidup) yang datang dari Sang Penciptanya manusia, Alloh SWT, mendidik manusia dengan memerintahkan berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Selama sebulan penuh orang yang beriman diwajibkan berpuasa.
Hanya orang beriman, yang dipanggil Alloh, "Hai ...," dalam QS Al-Baqoroh 183, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu semua berpuasa ... ," Mereka yang tidak beriman, Alloh tidak memanggilnya dalam perintah tersebut, tidak termasuk yang dalam, "Hai ... ," tersebut. Dengan demikian, bukankah panggilan ini merupakan panggilan Cinta dari Nya?
Puasa Ramadhan sebagai perintah dari Alloh SWT, harus diyakini sebagai bentuk kasih sayangNya (Rahmat) kepada hambaNya yang beriman. Karena itu sejak semula, menyambut datangnya Ramadhan umat muslim telah menggelorakan rasa suka cita. Mereka menyebut penyambutan itu dengan, "megengan". Berkumpul membawa, dan berbagi makanan. Membaca kalimah-kalimah thoyyibah memuji Alloh serta mendo'akan para leluhur supaya juga mendapatkan berkah serta kemurahan di Bula Ramadhan yang dimuliakan.
Menyambut Ramadhan dengan kegembiraan bagi sebagian orang terkadang dinilai paradoks. Bagaimana mungkin memasuki hari-hari, sebulan penuh dengan derita lapar dan haus tak terperi, disikapi dengan kegembiraan? Bukankah kebiasaan orang, ia bergembira jika mendapatkan kabar besok diundang acara pesta?
Perlu pemikiran yang sedikit mendalam, untuk sampai pada kesadaran bahwa rasa lapar dan haus merupakan hal yang harus disikapi dengan kesenangan. Di antara caranya adalah dengan berfikir terbalik.
Coba banyangkan, jika suatu hari dalam hidup kita tiba-tiba tidak hadir rasa lapar dan haus. Tiada keinginan dan selera untuk makan dan minum. Jangankan ingin memakannya, melihat makanan dan minuman apapun, rasanya seperti melihat benda-benda mati yang tak punya daya tarik. Melihat sepotong roti, perasaan sama seperti melihat spon, sama-sama tidak terbangun keinginan memasukkannya ke mulut. Melihat jus buah alpukat, sama seperti melihat cat tembok yang kental kuning kehijauan. Tak tergerak untuk mengambilnya apalagi meminumnya.
Teruskan, dan perdalam berfikir terbalik seperti itu. Maka kita akan berjumpa pada sebuah kesadaran bahwa hadirnya rasa lapar dan hauslah yang menjadikan kita tergerak untuk makan dan minum. Dan dari gerakan itu kita merasakan nikmatnya makanan dan minuman.
Sampai di situ mungkin anda belum sepenuhnya percaya. Bahwa rasa lapar dan haus itu justru nikmat dan berkat dari Tuhan. Baiklah, coba anda makan makanan yang anda sukai. Misalnya sepuluh tusuk sate kambing, semangkuk gulai, dan sepiring nasi. Anda memakannya di suatu siang yang paginya tidak sempat sarapan. Sudah pasti makan anda akan terasa nikmat tak terkira.
Janganlah berhenti sampai di situ. Coba anda menambah makan satu porsi lagi, rasakan nikmatnya, adakah perubahan atau tetap nikmat seperti makan di porsi yang pertama? Dan kemudian anda dipaksa oleh teman anda menambah makan dua porsi lagi, dengan diberi hadiah sejumlah uang. Kemungkinan tantangan yang terakhir ini tidak akan anda lakukan.
Walaupun makan makanan enak dan gratis, pun juga berhadiah, tapi jika rasa lapar telah tiada, dan yang ada rasa kenyang yang berlebih, maka saat diminta makan anda pasti akan angkat tangan. Memohon-mohon kepada orang lain untuk memaklumi atas tiadanya selera makan itu.
Pada kasus yang lain, seseorang merasa nikmat tak terperi saat makan nasi hangat, dengan tempe bacem goreng dan sambal bawang. Ia makan di saat serangan rasa lapar itu menderanya. Baginya, tiada yang lebih nikmat dari hidup ini kecuali acara makan yang sedang ia nikmati itu. Pada titik ini, kita akan sadar bahwa, ternyata nikmat makan/minum itu bukan karena jenis makanan/minumannya, tapi karena hadirnya rasa lapar dan haus pada diri kita.
Puasa, dengan seharian menahan diri dari segala yang membatalkan, termasuk menahan diri dari makan dan minum, pasti lapar dan haus yang dirasakan. Akan tetapi, jika cara berfikir mendalam dan penuh kesyukuran di atas dipraktikkan, maka kita dapat menyambut rasa lapar dan haus itu sebagai Rahmat Alloh SWT.
Hal ini memang tidak mudah. Diperlukan latihan (riyadhoh) dan kesungguhan hati (mujahadah). Hingga pada akhirnya mampu berdamai dengan rasa haus dan lapar, bahkan penuh syukur atas Rahmat haus dan lapar tersebut. Bukan mengeluhkannya sebagai penderitaan. [...]
Disarikan dari ngaji bareng Gus Sauqi malam sabtu PJP2.
Lauk ternikmat adalah lapar Pak Nur....
ReplyDeleteSate pak Pri..saat lapar..
Delete