Katakan saja, "siap dan bisa"
Jangan ragu untuk mengatakan "siap dan atau bisa" jika kita dimintai pertolongan oleh orang lain. Lebih-lebih yang berhubungan dengan permintaan bantuan tentang, "bagaimana caranya, ... ?" Mengapa demikian percaya diri sehingga kita berani menjawab, "siap atau bisa". Tak lain karena sembarang hal yang dipertanyakan oleh siapapun tentanh apapun saat ini, semua telah tersedia jawabannya.
Saya maklum mungkin anda tak lihai memasak. Bahkan membedakan merica dan ketumbar pun tak lulus. Atau mungkin tak suka berurusan dengan dapur. Tapi saat ini, itu semua bukanlah alasan untuk berkata, "maaf saya tidak tahu" saat teman meminta saran bagaimana caranya membuat masakan rendang, rawon ataupun pizza.
Jangan. Sekali lagi jangan anda menjawab, "tidak tahu" ketika seorang teman bertanya, di mana ya bisa membeli dan berapa harga helm sepeda, jersey, crank, pedal dan teman-temannya. Jawab saja, "saya tahu semua itu." bahkan benda yang lebih aneh dan remeh-temeh sekalipun.
Jawablah dengan penuh keyakinan bahwa anda tahu bagaimana caranya menjadi miliarder dalam hitungan bulan. Tak perlu berkecil hati dengan merasa anda bukan miliarder, bukankah yang ia tanyakan soal, "bagaimana caranya?" Yakinlah anda pasti bisa menunjukkan cara jitu yang membuat mereka terkagum-kagum, karena anda bisa menjukkan berbagai cara yang brilian.
Lebih-lebih jika ada yang meminta dibantu urusan tugas sekolah anaknya. Misalnya, bagaimana cara menghitung volume segi tiga sama kaki, bagaimana cara mengukur kecepat maling motor yang dalam hitungan detik berhasil membongkar kunci dan melesat pergi.
Semua pertanyaan di atas, anda bisa menjawabnya. Tak perlu mendatangkan teman yang mahir matematika, pakar wirausaha atau tukang reparasi sepeda. Cukuplah anda berteman dengan satu nama, Google. Karena kepakaran dan kedermawanannya dalam menjawab segala pertanyaan; banyak orang menyebutnya mbah google. Saking baiknya, jika pun anda salah berucap atau menulis "segitiga" dengan "sebitiga" mbah google dengan senanghati akan mengingatkan anda dengan membalas, "mungkin yang anda maksud segitiga, atau hasil penelusuran tentang segitiga ..." kemudian mbah google pun menjawab dengan bijak pertanyaan anda sampai tuntas.
Kawan, hari ini, di hadapan mbah google semua ada dan mudah didapat. Bahkan mungkin lebih sulit mencari gajah di kebun binatang dari pada mencari resep dan cara memasak rendang di dapurnya mbah google.
Kemarin saya ditanya sekaligus diminta oleh seorang teman untuk mengajari anaknya cara membaca puisi yang baik dan handal. Tentu saja permintaan itu seakan mengada-ada, karena siapapun tahu diriku tak punya bakat akting apalagi berpuisi. Memang dulu waktu SD pernah membaca puisi, dan itupun ditunjuk hanya karena dianggap paling lancar membaca saat kelas tiga. Sama sekali bukan karena berbakat membaca puisi.
Walau demikian, saat sang teman meminta melatih anaknya cara membaca puisi tak ada salahnya kita bergaya laksana mantan juara pembaca puisi. Yakinkan diri dapat memberikan bimbingan cara membaca puisi untuk mengikuti lomba. Segera keluarkan jurus sakti, hubungi mbah google, masuk ke youtube, ketik di pintu percarian, "juara nasional pembaca puisi anak-anak". Maka dipastikan anda akan disuguhi beberapa video para juara pembaca puisi tingkat nasional dari tahun ke tahun.
Lagi-lagi kebaikan mbah google berpihak kepada siapa saja yang meminta bantuan. Tak pandang suku agama dan ras, bahkan usia. Siapapun akan diperlakukan sama. Ditumpahi pelayanan dengan sepenuh jiwa. Dipersilahkan memilih, mengirim atau cukup sekedar ditonton saja. Dan tak perlu membayar mahal untuk ilmu-ilmu yang mahal itu.
Akupun memilih beberapa video para juara baca puisi tingkat nasional dan provinsi. Ku kirimkan ke WA temanku yang sedang menunggu aksiku melatih anaknya. Dipanggilnya anak itu, untuk bersiap mengikuti pelatihan cara membaca puisi. Dengan sedikit sok tahu, aku bicara tentang ilmu membaca puisi. Bahwa tak ada ilmu yang baku dalam berekspresi, maka mari kita menonton para juara lomba baca puisi di hp kita. Hp di buka, video diputar. Si Anak kontan terkesima melihat anak perempuan cantik berhijab seusianya, membaca puisi yang menggetarkan jiwa. Satu video telah menggugah semangatnya, ternyata berpuisi itu indah sekali. Video-video berikutnya pun ditontonnya. Terinspirasi, terbayang ingin mencoba, mempraktikkan ilmu dari sang guru. Guru itu adalah sebuah tayangan, yang menampilkan secara nyata cara membaca puisi yang sesungguhnya. Yang telah menyita apresiasi para juri, hingga ia dinyatakan sebagai juara.
Saat ini, di genggaman kita sumber belajar begitu melimpah ruah. Informasi apapun tersedia dengan mudah dan murah. Tinggal bagaimana pikiran kita mau dan mampu mengkoneksikannya dengan semua itu. Kenyataan di lapangan masih cukup memprihatinkan, dimana belum menjadikan smartphone dan internet sebagai sumber belajar untuk mencari tahu bagi anak-anak, tapi lebih sebagai media bahkan teman bermain semata. [...]
Keren iki.
ReplyDeleteSepakat Pak Nur... eyang google memang menjadi rujukan banyak pertanyaan.
ReplyDelete