(1) Tugas webinar PBL, Belum ada judul (bersambung)

 


Di sebagian "derita" bocah ringkih yang sehari-hari merumput, tak jarang kebahagiaan kecilpun datang menyapa. Tepatnya kebahagiaan semu. Seusai kerangjang wadah rumput penuh, kami berlima istirahat sejenak sekedar menghela nafas dan menghibur diri. Mengais-ngais  kebahagiaan. Memandangi dua keranjang yang telah penuh rumput kehijauan adalah kebahagiaan tersendiri. Ternakku pasti akan menikmatinya nanti. Demikian itu berlangsung setiap hari, selama berahun-tahun. Tiada libur-liburnya kecuali merumput seharian penuh untuk cadangan esok hari.  

Keranjang-keranjang penuh rumput itu kami bariskan di tepian jalan setapak di atas bukit yang kami sebut lunguran. Lunguran adalah puncak gunung yang menjadi titik pisah sisi kanan dan sisi kiri sebuah gunung Di sini, jika menghadap ke timur sisi kanannya (selatan) adalah laut jawa yang tak terjangkau mata memandang saking luasnya, dan sisi kirinya (utara) adalah persawahan luas. Tampak jauh di ujung utara sana seperti pulau yang berisi rimbunan pepohonan adalah kampungku. Jika pandangan itu dilepaskan sejauh pandang ke utara, yang tampak adalah gunung megah bernama gunung  plaosan. Saking besarnya gunung itu, ia menghentikan pandangan warga kampung kami ke arah utara.

Kami duduk-duduk di lunguran itu membelakangi samudra menghadap jurang di sisi utara. Kami semua sedang menahan dahaga tak terperi, dan tak pernah berandai-andai alangkah nikmatnya jika ada air yang bisa diminum. Mengapa? Karena kehausan dan dehidrasi telah menjadi pasangan tak terpisahkan dari profesi kami sebagai pencari rumput. Entahlah, di masa itu, sekitar tahun 1989 desa kami belum dijamah mafia penjual air mineral dalam kemasan (botol). Air minum, adalah air sumur yang direbus sampai mendidih, didinginkan dalam panci dan dituangkan ke wadah berupa ceret atau kendi (teko terbuat dari tanah). 

Kami mulai menghayal dan berimajinasi liar. Pikiran kami menari-nari bebas di atas sebuah pertanyaan. Begini pertanyaannya, “Kira-kira apa yang paling membahagiakan dalam hidup ini?” Sambil menatap jauh ke depan. Dengan cepat adikku, Lu’adi memulai bualannya, “Aku ingin punya suatu alat seperti sayap bertenaga mesin yang bisa dipasang di tubuh. Kemudian bisa digunakan terbang dari pucuk gunung ini, melesat ke puncak gunung sana, dan kemana-mana.” Kami terkagung-kagum dengan imajinasi liar adikku itu. Teman seprofesiku yang lain langsung menyambar dengan imajinasi liarnya, setengah berteriak ia berkata “Aku ingin puncak gunung ini dibentangi kawat yang kuat sampai di desa kita, sehingga kita dan keranjang-keranjang rumput itu, dapat meluncur ke rumah tanpa harus berpayah-payah berjalan kaki.” 

Gila bukan imajinasi teman-temanku si tukang rumput ini. Aku mengakhiri adu bualan itu dengan keinginan yang sederhana, “Aku ingin punya kuda.” Aku sedang membayangkan, menunggang kuda menuruni gunung dan melewati pematang sawah dengan membawa keranjang rumput di kanan dan kiri punggung kuda, alangkah gagahnya. Rupanya imajinasiku ini terinspirasi oleh cerita sandiwara radio yang setiap pagi, sore dan malam mengumandang dan kami tak ingin sedetikpun ketinggalan kisahnya. Sandiwara radio, Tutur Tinular buah karya S Tidjab. Tak terkira rasa kagumku mendengar derap kuda yang ditunggangi sang pendekar pilih tanding Arya Kamandanu, saat berjuang menyelamatkan kekasihnya Mei Xin. Sungguh, indah tiada terperi.

Tak ada yang mau mengalah, semua merasa bualan cita-cita dan imajinasinya paling gila. Tawa pun pecah saat suatu cita-cita (lebih tepatnya imajinasi) dihujat habis-habisan. Semangat balas membalas, silih berganti seakan tak ada hari esok. Tertawa selepas-lepasnya dipuncak gunung tersebut menjadi ritual pengusir lelah. Dan tenaga kami pun terasa pulih. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah, dehidrasi kami semakin parah. Karena cerita hayal berbusa-busa tersebut hanya membuat tenggorokan semakin mengering. Tapi kebahagiaan sesaat itu telah berhasil melupakan lelah dan dahaga serta penderitaan baru yang sebentar lagi akan hadir. Yaitu perjalanan pulang, memikul dua keranjang.

Seiring memerahkan mega di ujung langit sebelah barat, kami beranjak pulang. Penderitaan barupun dimulai. Yaitu memikul dua keranjang rumput yang bobotnya melebihi berat badanku. Menuruni gunung, melintasi persawahan, merambat di atas jembatan kayu seadanya nan licin.  Berjalan berkilo-kilo meter tanpa alas kaki. Terantuk batu, meremukkan jemari kakiku yang kecil. Sakitnya sampai ku ulu hati. Tak ada di kamus kami, "mengeluh" apalagi "mengiba".  Memangnya mau mengeluh kepada siapa? Karena, semua dari kami berlima telah bersusah payah menanggung derita kami masing-masing. 

Tak terhitung lagi berapa duri yang pernah singgah di telapak kakiku. Terkadang saat sedang menahan beratnya perjalanan sambil memikul, ku biarkan duri itu tetap di situ, di kakiku. Ku tahan, ku alihkan perhatian seakan tidak terjadi apapun, sampai perjalanan itu finish. Sampai dua keranjang itu turun dari pundakku di terminal pemberhentian, yaitu kandang sapi kesayanganku. Baru kemudian ku mengambil jarum untuk mengelaurkan duri yang telah masuk semakin dalam di telapak kakiku. Bahagia berikutnya pun hadir, yaitu saat berbangga telah berhasil mengeluarkan benda ajaib yang tak lain adalah duri di telapak kaki. Amboi, inikah bahagia dalam perih yang sesungguhnya? [...]

Bersambung....


Comments

  1. Sepertinya masa kecil panjenengan sama dengan saya Pak Nur. Angon Wedhus dan ngarit. Mengisahkan masa kecil dulu begitu membahagiakan, tapi dulu menjalaninya biasa-biasa saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Leres to pak pri...masa kecil kulo remuk redam pak pri...hhh

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia