Negeri Yang Ramai

Ramai sekali negeri ini. Tapi bukan canda apalagi tawa. Jerit anak mengejar ibunya yang berlari diburu tanah dan batu. Sejak tadi langit gelap munumpahkan hujan. Mengajak serta tebing-tebing kokoh di atas pemukiman. Ketenangan mereka punah. Kehangatan perapian mereka sirna. Banjir merendam. Longsor menimbun tanpa ampun. 

Ramai sekali negeri ini. Tapi bukan canda apalagi cengkerama. Jalanan disesaki kendaraan, saling berkejaran. Memburu apa, ku tak tahu. Mengirim apa, ku tak mengerti. Antar mereka tak saling peduli. Hanya berfikir urusan sendiri. Menyalip kanan dan kiri. Yang kuat ia cepat. Yang lemah, lambat bersusah payah. 

Ramai sekali negeri ini. Berdagang jasa, menumpahkan tenaga. Memukulkan palu, menggergaji, menumbuk besi. Mencedoki pasir dan memecah batu.  Memutar bor menggali sumur. Menggelandang gerobak, menyapu jalan-jalan kota. Membuka pagar dan toko-toko para juragan. Menunggui dan melayaninya sepanjang hari. 

Ramai sekali negeri ini. Muda-mudinya sibuk merias diri.  Hilir mudik memenuhi warung-warung kopi. Membincangkan dunia mereka, bukan dunia ini. Dunia mereka dipenuhi angkringan-angkringan. Berjigang di meja-meja bundar. Membedah tema yang itu-itu saja. Berdiskusi, esok hari menjelajah angkringan mana lagi. 

Negeri ini ramai sekali. Bukan karena pesta panen dan kenduri. Mereka bersusah payah membajak, mengolah sawah. Padi ditandur  enggan bersemi. Pupuk yang konon disubsidi, bersembunyi tak mau dibeli. Gagal panen sudah biasa, tak ada yang sudi berbelasungkawa. Mereka menjerit lemah dan memelas. Sedang mereka yang lain sibuk mengimpor beras. 

Negeri ini ramai sekali. Wisuda sarjana dan pelajar silih berganti. Sekolah dan kampus bergemuruh dan penuh. Para pewaris negeri mengais mimpi. Jadilah profesional ijazahnya berlembar-lembar. Sebagian mereka ada yang janggal. Bekerja profesional tapi ikhlas beramal.  Bertahun-tahun bekerja membantu negara, mencerdaskan anak-anak bangsa. Sepenuh waktu dan jiwa berdedikasi. Meluluskan beribu-ribu alumni. Sering dipuji sebagai pengabdi sejati, tapi namanya tak ada di daftar gaji. Muridnya sudah berkelana mereka tetap di situ-situ saja. Pernah mereka kehilangan kesabaran. Berhamburan ke ibu kota, untuk sekedar berteriak, "bagaimana nasib hamba?"

Negeri ini ramai sekali. Bukan terikan penjual koran asongan. Yang dulu mangkal di terminal dan perempatan jalan. Tapi longlongan buzzer-buzzer siluman. Mendewakan majikan, menelanjangi lawan. Meracik bumbu paling pedas. Menjualnya di lapak berkelas. Dunianya maya, gajinya tak terkira. 

Negeri ini ramai sekali. Bukan karena aksi peduli apalagi berebut empati. Para elit mendirikan mimbar-mimbarnya sendiri. Mempropaganda, atas nama, "demi bangsa."  Mengkavling-kavling kuasa. Memasang topeng, mengibar bedera-bendera. Merangkai butir-butir visi misi. Berdagang lembar-lembar rekomendasi. Tiada hari tanpa mengotak-atik taktik. Semua tentangnya adalah citra. Surganya adalah kuasa.  Nerakanya adalah kudeta. [...]

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia