Melukis Mimpi di Halaman 2021
Tepat pukul 24.00 tanggal 31 Desember kalender tahun 2020 ditutup. Lembaran baru berjudul tahun 2021 pun telah tiba untuk membersamai kita setahun lamanya. Ia punya tanggal, pekan dan bulan. Ia menyediakan diri bagi siapapun untuk melukis impiannya di halaman 2021. Lukisan itu di serahkan sepenuhnya pada sang pelukis, mau dibuat seindah dan secerah apa.
Pergantian tahun kali ini berlangsung cukup hening, tak ada hingar-bingar dan euforia. Berbagai instruksi baik dari pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan bernada sama. Tak memperkenankan adanya kegiatan keramaian dan perkumpulan. Tempat-tempat yang biasanya di malam pergantian tahun penuh orang, malam tadi di jaga polisi, untuk menegakkan peraturan jam malam. Tak ada hujan kembang api, adanya hanya gerimis letusan mercon di sana sini secara sporadis, terdengar fals. Kegiatan bakar-bakar makanan dilaksanakan di gang-gang rumah bersama tetangga dekat saja.
Perayaan pergantian tahun di tahun ini, lebih banyak diwarnai nasehat-nasehat untuk masyarakat agar lebih banyak merenung, dan berdo'a. Sepertinya pandemi Covid-19 masih akan menjadi momok warga dunia di tahun 2021. Dalam situasi yang sulit seperti ini diperlukan sebuah kesadaran baru membangun perilaku lebih baik dan bijaksana kepada semesta. Sadar bahwa kehadiran kita di atas bumi ini karena dihadirkan oleh Tuhan. Dan hanya Dia yang sejatinya punya kuasa atas segala sesuatunya.
Betapa sibuknya manusia menghadapi serangan Covid-19, kehidupan benar-benar penuh dilema. Suatu yang unpredictable. Tak terkira sebelumnya bahwa nikmat hidup ini bisa tercerabut sewaktu-waktu di luar rencana. Manusia yang selama ini merasa gagah, tampak lemah.
Memasuki lembaran bari hidup di tahun 2021 mesti dengan sikap dan perilaku yang berbeda. Hadirnya makhluk baru yang telah dinyatakan oleh para ilmuwan sebagai ancaman bagi keberlangsungan hidup manusia. Makhluk yang lebih kecil dari mikro organisme yang tak tertangkap oleh mata biasa, maunya hidup dan berkembang biak di dalam tubuh, menginfeksi organ vital manusia hingga jutaan orang layu, sakit dan bahkan tumbang.
Yang 'mngkin" selamat dari wabah ini, adalah orang yang tidak pernah berinteraksi dengan orang lain, mengunci diri di dalam ruangan. Dan itu mustahil dilakoni oleh manusia yang kodratinya sebagai makhluk sosial, tak bisa hidup tanpa bersinergi dengan orang lain.
Tahun 2020 yang lalu, tiga bulan berjalan, kita kedatangan tamu. Jika boleh memilih, pasti kita akan memilih tak menerima tamu tersebut. Tapi memang hal itu bukanlah suatu pilihan, ia adalah perkara diluar kuasa manusia. Dan kini tamu itu masih ada di sisi kita, ikut menjadi saksi pergantian tahun 2020 menjadi 2021.
Muncul sebuah pertanyaan ilustratif, "Bagaimana seandainya tiba-tiba dinyatakan bahwa di dekat kita, ke manapun kita bergerak dan pergi selalu di ikuti oleh hantu jahat yang sewaktu-waktu bisa menyakiti kita?" Pernyataan ini diperkuat, dengan adanya korban berjatuhan setiap hari. Mengerikan bukan?
Lalu, apa yang mesti kita perbuat setiap waktu? Pasti akan terbangun kesadaran bahwa sehat, aman sentosanya diri menjadi hal yang paling berharga. Implikasinya adalah terbangunnya niat-niat, rencana-rencana dan impian-impian positip di hadapan kita yang akan kita tuju dan raih. Karena kesempatan untuk melakukan itu ternyata sungguh terbatas. Kita tak punya banyak waktu, dan sejatinya kita memang tak benar-benar memiliki waktu.
Kesantaian dan sikap abai kita terhadap berharganya waktu selama ini (kemarin) tak lain karena kita merasa punya banyak waktu. Niat baik ada, tapi selalu terkalahkan dengan, "ah, nanti saja, besok saja, jika ada waktu luang saja," dan seterusnya. Padahal pernyataan itu adalah awal dariasuknya seseorang ke jurang kegagalan.
Tahun 2021 adalah medan perjuangan yang benar-benar nyata. Menguji setiap manusia untuk mampu eksis di medan kehidupan. Eksis hidup dalam sehat adalah perjuangan, dan lebih dari itu eksis dalam berkarya nyata untuk kemaslahatan semesta juga harus diperjuangkan. Kita memang pernah ada di hamparan luas semesta ini, tapi apa bukti keberadaan kita itu? Inilah yang wajib dijawab, di lembar kehidupan halaman 2021 ini.
Memasuki sebuah dunia baru selalu diawali dengan sebuah harapan. Setidaknya untuk memandu, jalan mana yang akan ditempuh untuk menggapai harapan tersebut. Karena sudah pasti luasnya perkara dan urusan dalam kehidupan ini, merangsang munculnya beragam motivasi diri. Suatu waktu kita ingin begini, tapi di waktu yang lain kita tergona untuk begini. Hal seperti ini tidaklah salah, tapi fokus pada sebuah mimpi akan membulatkan energi, sehingga suatu impian akan lebih gampang tercapai.
Resolusi diri di awal tahun 2021 sangat diperlukan. Berangkat dari pengalaman selama tahun 2020 dan bahkan tahun-tahun sebelumnya. Diminta atau tidak, ditunggu ataupun diabaikan, ternyata waktu terus berjalan tiada berhenti, apalagi kembali ke belakang. Tahu-tahu lembaran itu telah ditutup dan berganti lembaran yang baru. Padahal lukisan mimpi di tahun kemarin belum jadi atau bahkan belum kita mulai. Ternyata waktu telah habis, menyisakan penyesalan.
Ada baiknya, di awal tahun ini kita banyak-banyak memegangi dada kita sambil mengucapkan, "oh ternyata ..., jika saya mencoba sedikit bersungguh-sungguh dalam hal ini dan itu ..., hasilnya indah dan membanggakan," atau "oh ternyata, jika saya santai-santai saja seperti itu, hasil nihil, zonk dan kerugian." atau "oh ternyata, saya sebenarnya telah diberi segalanya untuk menjadi luar biasa, tinggal kemauan mengeksekusi saja, " dan seterusnya.
"Oh ternyata ...," adalah ekspresi batin yang obyektif, ia hadir saat kita bercermin pada lembar kehidupan yang telah kita lalui. Sering kita mendengar ungkapan, "experience is the best teacher." Masa yang telah lewat menuliskan jejak-jejak pengalaman sebagai rambu yang membimbing perjalanan kini dan ke depan.
Kurang lebih tiga tahun lalu, pernah bermimpi dan berupaya mewujudkan impian itu. Bagi saya cukup mahal harganya untuk sebuah jalan menuju hasil yang membanggakan dan membahagiakan. Walaupun demikian ternyata upaya itu tak sesuai rencana, alias belum sukses. Satu pelajaran berharga pun didapat.
Tahun lalu (2020), adalah tahun yang bisa dikatakan tak seindah angkanya. Hadirnya wabah corona, menyebabkan berbagai urusan penuh ketidakpastian. Walaupun demikian semua orang tetap berupaya menemukan bahagia dalam perih. Jiwa dan raga harus tetap digerakkan seiring dengan nafas kehidupan.
Belajar dari sebuah lagu karya "the godfather of broken heart", Didi Kempot yang polpuler di tahun 2020, "ambyar". Bahwa kegalauan bisa menjadi keindahan baru, jika kita mampu mendudukkan dan kemudian menyanyikannya. Melalui kreatifitas nya itu, jutaan orang bersorak suka cita seolah mengatakan akulah pengikutmu yang siap bahagia walau dalam perih. Mereka tersadarkan bahwa kegalauan dan kebahagiaan itu adalah soal bagaimana menghadirkan dan mengelola rasa.
Belajar dari semua itu, di tahun 2021 ini, tahun yang menyendiri itu lebih baik, ku nasehatkan kepadaku dan sahabat-sahabatku untuk terus bermimpi. Impian tak harus besar dan mahal, yang murah dan bahkan gratis pun ada. Yaitu mendisiplinkan diri untuk menulis. Laksanakan sepanjang tahun, dan bukukan. Rasakan hadirnya kebahagiaan besar dalam waktu yang panjang, bahkan saat kita telah purna dari dunia. Ia akan tetap hidup menebar manfaat, mengabadi, menyemai inspirasi. [...]
Mimpi sekaligus asa tuan guru besar. Luar biasa
ReplyDeleteAmin Tadz, smg resolosinya terwujud di tahun ini..amin
ReplyDeleteAamiin... Smbhnuwun bu kunjunganipun...
DeleteIkut mimpi juga ah...
ReplyDeleteSiip pak Pri...
Delete