Mundur Yang Terpuji
Pukul 10.00 lewat 24 detik tiket antrian untuk menghadap Customer Service (CS) sebuah bank itu tercetak. Informasi lain menyebutkan nomor antrianku adalah B073 CS, jumlah antrian 46. Menjelaskan bahwa setelah 46 nomor dipanggil, maka sejurus kemudian nomorku baru mendapatkan giliran panggilan.
Setelah mendapatkan tiket antrian, puluhan orang termasuk diriku duduk di depan pintu masuk bank, di bawah sebuah tenda berukuran lebih kurang 3x6 meter. Dari atas memang bisa dikata telah teduh dari sinar matahari, tapi dari samping kiri dan belakang, terik matahari siang memantul dari halaman paving block, panas dan ungkep. Berulang kali ku sentuhi pipi dan telinga kananku, terasa hangat. Keringat terasa membasahi kulit yang tertutup jasket.
Jarak antar kursi antrian kurang lebih satu meter menandakan penerapan new normal social distancing. Dan tentu saja hanya mereka yang beruntung yang bisa duduk di kursi terbatas tersebut. Beberapa orang berdiri sambil bersedekap, ada yang duduk di atas jok motor di tempat parkir, ada yang duduk di undakan teras dan ada yang mondar-mandir tak jelas mau duduk di mana. Mereka semua adalah para nasabah/pengguna jasa sebuah bank. Bermacam keperluan yang ingin diselesaikan. Berbagai urusan dengan lembaga ini biasanya seputar menabung/setor, menarik uang, mengajukan pinjaman dan mungkin juga ada yang akan membuka buku rekening baru.
Hari itu, Senin 28/12/2020 keperluanku adalah menuntaskan urusan lima hari yang lalu, yang ternyata belum tuntas karena human error. Yaitu mencetak jejak transaksi (print out) buku tabungan, beberapa bulan di tahun 2020. Saat itu, sukses dalam bersabar mengikuti antrian panjang dan berjumpa dengan CS, pun dilayani dengan baik. Tapi sesampai di rumah saat ku periksa hasilnya, ternyata ada satu bulan yang mungkin terlupa belum dicetak. Karena itu, hari ini mau tidak mau harus mengulang proses itu lagi, bahkan lebih panjang perjalanannya karena di hari Senin.
Mengantri bersama banyak orang, dengan pergeseran yang lambat bisa dikatakan sebagai berkerumun. Suatu situasi yang di masa pandemi ini sebaiknya dihindari. Tentu saja penentu kebijakan yang memikirkannya supaya kerumunan itu tak terjadi. Karena konsumen dalam hal seperti ini ibarat "wayang" mereka akan mengikuti apapun prosedur yang diberlakukan oleh suatu lembaga yang sedang "melayaninya"
Tepat di belakang saya duduk, ada dua orang bapak saling bercakap. Rupanya salah satu di antara mereka ada yang pernah terpapar Covid-19. Panjang lebar ia menjelaskan kepada mitra bicaranya tentang pengalamannya tersebut. Kebetulan suaranya cukup lantang, hingga beberapa orang sempat melirik dan mungkin membatin, "kurangi sedikit pak, volumenya!" Wajar, karena semua pengantri hanya ingin mendengar suara dari mulut petugas memanggil nomor antriannya. Panggilan demi panggilan itu terjadi rata-rata setiap 15 menit sekali. Indah sekali saat suatu nomor dipanggil, pemiliknya langsung melompat dari tempat duduknya. Mungkin sambil batinya beteriak, "merdeka."
Si Bapak tampak cukup semangat memberi penjelasan ke Bapak yang satunya, tentang gejala-gejala yang ditimbulkan dari serangan virus corona. Mulai dari hilangnya indra perasa, hilangnya indra penciuman serta berbagai rasa tidak enak di badan. Lebih dari satu jam acara berbagi pengalaman di belakang saya itu berlangsung, rasanya seperti belum juga habis. Dan ternyata mendengar cerita pilu di suasana kejenuhan dan panas, menambah diriku makin kelimpungan seperti ikan di kolam yang airnya mengering. Tanpa aktifitas bicara sepatah katapun, tenggorokanku terasa gersang. Aku kehausan!
Tepat pukul 12.36 nomor antrianku dipanggil. Secara resmi diriku dinyatakan boleh berpindah dari antarian perama di halaman yang panas, ke ruang antrian kedua di dalam gedung yang ber AC. Sambil berjalan menuju kursi yang kosong kuamati sisi dan sudut ruangan. Ku sempat melihat seorang yang berpenampilan cukup mewah duduk menunggu di sudut ruangan dingin itu. Melihat ia berhias dari ujung kepala sampai ujung kaki, rasanya kurang panas memang jika ia harus menunggu dua jam di luar yang panas itu. Rupanya ia telah berhasil menaklukkan disiplinnya security dengan keterampilan manjanya. Entahlah, semoga pikiranku salah.
Lima menit menikmati kursi dingin, tiba-tiba nomorku dipanggi untuk menghadap ke CS-2. Dan satu menit kemudian urusanku pun tuntas. Menunggu yang nikmat, tapi waktunya kok cuma sebentar, pikirku!
Apa yang ku rasakan dalam 2.5 jam di bawah tenda hangat hari itu, ku pastikan juga dirasakan oleh puluhan nasabah lainnya yang se kelas denganku, dari kaum jelata. Kaum yang sehari-hari berjibaku dengan panas dan hujan. Dan hari ini rasa panas itu hampir tak kami hiraukan, karena tertimbun oleh rasa jenuh menunggu dan kekhawatiran virus corona yang beterbangan.
Selama menunggu C073 mengumandang dari mulut petugas, ada sedikit rasa senang yang hadir. Yaitu ketika ada nomor dipanggil berulang kali, orangnya tak menampakkan diri. Mungkin ia telah mendiskualifikasi dirinya, mundur dari arena mengantri. Orang-orang ini, tanpa ia sadari mendapatkan banyak ucapan terimakasih. Termasuk dariku.
Saya membayangkan jika mereka semua lempeng, tak ada yang mundur dari medan antrian yang panas nan menjenuhkan itu, mungkin 2.5 jam dudukku itu, baru separo dari perjalanan yang mesti ku tempuh menuju kursi customer cervice. Maka, menurutku diskualifikasi diri dari mengantri, termasuk perbuatan yang sangat terpuji. [...]
Ya Allah Pak Nur....sblm aq sakit, aq antri dr antrian 30..ke antrian 122...jam 17 .15 aq dan bndahara msh smpe cs...ktk nyairkan bos ba bun...sungguh luar biasa...
ReplyDeleteAhhh..trnyt 132 p.nur
ReplyDeleteUjian kesabaran nggih bu...
DeleteHal sederhana tapi disampaikan dengan menarik. Salut pak nur
ReplyDeleteTrimakasih pak pri...apresiasinya.
DeleteApapun selalu menjadi tulisan menarik di tangan maestro...
ReplyDeleteSaget mawon yai... Pripun yii.. Bukune panjngan sampun dugi pundi proses ipun...?
Delete