Ke Manakah Semangat Itu?

 


Selalu berupaya mencari tahu hal ikhwal yang sedang dicintainya. Begitulah di antara pertanda orang yang sedang jatuh cinta. Saat perjaka sedang jatuh cinta pada seorang gadis atau sebaliknya, pasti ia akan mencari tahu berbagai hal tentang si dia yang telah membuatnya jatuh hati.  

Dalam kehidupan ini perkara jatuh cinta atau jatuh hati, ternyata tak hanya soal asmara semata. Jatuh hati mempunyai wilayah yang sangat luas. Seluas urusan kehidupan yang digeluti oleh manusia di alam raya ini. 

Orang yang jatuh cinta pada bidang politik, maka seluruh hidupnya dicurahkan untuk berfikir dan berjuang memenangkan jabatan politik. Mereka berupaya memperdalam ilmu politiknya, berfikir soal intrik, serta membangun relasi yang mendukung perjuangan politiknya. 

Orang yang jatuh hati pada bidang sosial, maka mereka akan menghabiskan sebagian  besar waktunya untuk kegiatan-kegiatan sosial. Mereka akan berada di garda terdepan saat suatu masyarakat menunggu bantuan sosial. Tak jarang mereka lupa urusan mereka sendiri, karena pikiran dan hatinya berada dalam nafas masyarakat yang membutuhkan. 

Orang yang cinta dengan seekor kucing, ia kan mampu berbicara berbagai hal tentang hewan jinak nan menggemaskan itu. Sebagian waktunya ia gunakan untuk memahami dunia kucing, bagaimana cara merawat dan membahagiakannya. Meluangkan waktu untuk membangun keintiman dengan kucingnya. Walaupun tak saling  mengerti bahasanya, mereka seakan telah saling memahami. 

Demikian juga orang yang sedang menyenengi dunia literasi. Sebuah aktifitas yang akhir-akhir ini pecintanya sedang bertumbuh pesat. Pandemi Covid-19 yang disikapi dengan penerapan Social Distancing dan Work From Home telah menjadi momentum tumbuhnya kebiasaan baru (new normal) dalam bidang literasiMungkin juga karena banyak orang merenungi fenomena kehidupan di akhir zaman ini, hingga hasil perenungannya tersebut dituangkannya melalui tulisan. Entahlah, yang pasti akhir-akhir ini, subur sekali kegiatan belajar menulis. Buku-buku baru karya penulis pemula pun terbit meramaikan pustaka Indonesia. 

Dalam kesempatan ini saya akan mengungkapkan sedikit hasil pengamatan saya terhadap perilaku orang yang baru menambatkan hatinya pada aktifitas literasi (baca dan tulis). Lingkup pengamatan saya ini, hanya terbatas pada aktifitas profesi di mana saya berada di dalamnya, yaitu komunitas pendidikan. 

Sebagai penonton dari geliat lierasi (menulis) yang sedang ramai di kalangan tenaga pendidikan saat ini, berikut kami gambarkan sebagian dari perilaku mereka-mereka yang sedang gandrung dengan dunia menulis;

Pertama; Senang mengikuti grup menulis. Bisa dipastikan grup WhatsApp baru, yang saat ini terbentuk di smartphone nya kelompok profesi guru adalah grup menulis. Satu orang tak mustahil mempunyai beberapa grup menulis, selaras dengan bermacam komunitas Guru yang didiami. 

Guru biasanya banyak terlibat dalam berbagai kelompok dan organisasi. Misalnya, kelompok guru mata pelajaran, MGMP, KKG, kelompok guru kelas, kelompok guru di bawah naungan organisasi tertentu (PGRI, PERGUNU, AGPAII, PGSI, IGI, dan sebagainya). Kelompok-kelompok seperti ini sangat bermanfaat bagi anggotanya karena selalu menyuguhkan program dan kegiatan penguatan profesionalisme guru. 

Komunitas profesi guru tampak aktif meramaikan berbagai kegiatan di masa pandemi saat ini. Hampir semua organisasi profesi guru menyelenggarakan pelatihan literasi (menulis). Hal ini wajar, karena program yang diselenggarakan suatu organisasi selalu didasarkan pada basic needs (kebutuhan dasar) anggotanya. 

Seusai pelatihan literasi, para peserta memang bubar dari kelas. Tetapi sebenarnya mereka sedang pindah ke kelas yang baru, yaitu dari kelas tatap muka menjadi kelas tatap maya. Mereka bersepakat membentuk grup di WhatsApp dalam smartphone genggamnya. Mereka beramai-ramai mempraktikkan ilmu menulisnya dan membagi link blog menulisnya di ruang bersama (WhatsApp Group). 

Grup menulis saat ini merupakan fenomena positif baru khusunya bagi profesi guru. Karena itu, dapat dikatakan, "kurang sempurna profesi anda (guru) hari ini, jika anda belum menjadi bagian dari group menulis." 

Kedua; Senang browsing ilmu kepenulisan di internet. Semangat menyenangi sesuatu biasanya dibarengi dengan besarnya rasa ingin tahu. Demikian juga dengan menyenangi ketrampilan menulis.  Para penulis pemula yang sedang bersemangat tinggi, akan selalu berupaya memperbaiki kualitas tulisannya. Mereka akan mencari tahu bagaimana teknik menulis yang baik, macam-macam tulisan, istilah-istilah penting terkait ilmu kepenulisan, penggunaan tanda baca, penulisan ejaan yang sesuai dengan KBBI, PUEBI dan seterusnya. 

Internet menjadi sumber belajar sekaligus tempat belajar baru yang mengasyikkan. Karena semua hal bisa ditanyakan, dan pasti akan memperoleh jawabannya dengan cepat.  Selain informasi berupa teks juga dapat membuka video tutorial terkait dengan spirit menulis dan bahkan ilmu menulis dari para penulis ternama.

Ketiga; Senang mencuri ilmu dengan membaca buku. Penulis pemula biasanya kembali menyenangi kegiatan membaca buku. Buku-buku lama yang jarang disentuh, dicari dan dibuka lagi. 

Membaca bagi penulis adalah mengisi nutrisi. Membaca buku dari penulis-penulis besar sebenarnya adalah proses mencuri ilmu. Bukan hanya ilmu pada isi buku, akan tetapi juga ilmu tentang gaya kepenulisan pada buku tersebut. 

Para penulis pemula kembali membangun hubungan baik dengan buku. Lemari bukunya ditata-tata ulang, buku-buku ditelusuri satu per satu seakan menyapa teman lamanya. Buku-buku yang tempo hari terlupakan, yang entah di mana rimbanya kembali dirindukan. 

Kegiatan pergi ke toko buku pun dirancangnya kembali. Mulai membayang-bayangkan, "jika nanti ada uang, akan pergi ke toko buku untuk menambah koleksi bukunya." Mereka meyakini bahwa setiap penulis hebat pasti mempunyai gaya menulis yang khas. Karena itu dengan membaca buku-buku mereka dapat mencuri ilmu kepenulisannya. Semakin banyak yang dibaca, makin kaya pula ilmu menulisnya.

Keempat; Suka mengikuti kelas menulis. Kelas menulis yang saya maksud di sini adalah kelas menulis daring. Biasanya kelas ini berada di grup WhatsApp. Ada kelas menulis yang adanya karena inisiatif anggota grup, ada pula yang dari inisiatif narasumber/pelatih menulis. Ada yang gratis, dan ada pula yang berbayar. Jika pun berbayar biasanya untuk membiayai proses penerbitan buku hasil karya bersama (antologi).

Narasumber/pelatih/tutor, mengawali bimbingannya dengan membagikan teknik-teknik kepenulisan, alur, penggunaan tanda baca dan lain-lain. Anggota kelas melakukan proses menulis, dan kemudian menyetorkan hasilnya kepada narasumber. Berikutnya narasumber menelaah dan meneliti kesalahan-kesalahannya, menandainya untuk diperbaiki lagi oleh penulisnya. Proses ini biasanya berulang lebih dari satu kali. Wajar, namanya juga belajar. Jika telah dinyatakan fixed, maka kemudian masuk ke ruang layout untuk dilakukan proses menuju penerbitan buku. 

Kelas menulis untuk para pemula biasanya mempunyai target hasil. Semacam ada kontrak untuk menerbitkan buku karya bersama (antologi). Buku karya bersama adalah karya tulis yang paling ringan dilakukan. Walaupun demikian, cukup efektif memotivasi menuju karya mandiri. Melalui bimbingan dari pelatih, dapat ilmu dapat pula buku hasil karya bersama. 

Kelima; Perilaku penulis pemula cukup unik. Dalam diamnya, ketika ia absen tidak menulis, sebenarnya bukan karena "trauma" telah mencoba menjadi penulis. Tetapi, diamnya merupakan aktifitas senyap yang ia manfaatkan untuk membaca buku, menambah pengetahuan dengan berburu ilmu dari berbagai sumber. Karena sebenarnya ia sedang membangun mimpi besar untuk menghasilkan karya yang lebih baik, lebih focus dari tulisan-tulisan sebelumnya. Kira-kira begitu, semoga!

Kegiatan menulis tidak mengenal istilah "kapok/trauma," yang ada adalah ingin dan ingin untuk terus bisa menulis, forever, apapun keadaannya

Keenam; Penulis pemula menyenangi quotes tentang motivasi menulis. Setiap kali menemukan quote tentang motivasi menulis ia catat di sembarang tempat, di buku, kertas, laptop, handphone dan bahkan di dinding tembok kamarnya.

Para penulis pemula menyadari bahwa aktifitas menulis dipengaruhi oleh semangat, mood dan suasana batin. Semangatnya kadang pasang dan kadang surut. Hem ..., tampaknya banyak surutnya. Karena itu perlu terus dihadirkan suntikan motivasi untuk menggerakkannya kembali. 

"Tuhan telah memberi kita segalanya, untuk kita menjadi luar biasa," kata Asma Nadia. Demikianlah di antara contoh quote motivasi berkarya dan berprestasi, termasuk di dalamnya untuk menyemangati menulis. 

Ketujuh; seorang penulis "anyaran" biasanya terserang penyakit aneh, ia sering tersenyum sendiri. Baginya segala hal adalah materi yang bisa ditulis. Karena itu, di setiap keadaan ia selalu berfikir, "wah ini bisa menjadi tulisan menarik," kemudian ia pun tersenyum, seakan menemukan lembaran uang di dalam perjalanan mimpinya. 

Kedelapan; Rasa malu pun kadang menyerangnya. Penulis pemula, kebanyakan adalah alumni pelatihan literasi. Bisa diilustrasikan, mereka ini telah dibimbing oleh tutornya hingga berhasil membuka pintu pertama dari suatu perjalanan yang panjang. Di dalam ruang pertama ini, biasanya masih dalam pengawasan sang Tutor. Dorongan, peringatan, dan bahkan tagihan-tagihan karya sering dilontarkan oleh sang Tutur yang baik hati. Yang merasa bahagia jika murid-murid terus mencoba berkarya. Yang selalu ikhlas hati saat diminta  memberikan kata pengantar sebuah buku yang akan diterbitkan, buah karya muridnya. 

Tutor menulis sebagaimana profil di atas, sungguh nyungkani. Keikhlasan dan ketulusannya mendampingi, membuat para muridnya sering terserang rasa malu dan tak enak hati.  Saat dua, tiga dan empat hari lima paragraf pun tak terbit, tak sebagaimana saat mula-mula memasuki gerbang pertama. 

"Ke mana semangat menulis itu pergi?" Begitulah di antara kalimah peringatan dari Sang Guru, DrNgainun Naim, saat para muridnya sedang tiarap dari kebiasaan berbagi tulisan. [...]

Comments

  1. Sangat menarik dan memotivasi pak. Semoga antologi berikutnya, saya bisa salah satunya di dalamnya.. aminn

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah, tulisan yang menambah semangat menulis yang semakin menurun..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia