Ku Nasehatkan Kepadaku Tentang Hari Minggu
Hari minggu atau ahad bagi sebagian orang bermakna istirahat, dan sebagian lain bermakna bersenang-senang. Setelah hari-hari sebelumnya "bukan miliknya," tapi milik aktifitas. Karena suatu profesi tertentu yang mewajibkan ia mengerjakannya. Orang jenis ini biasanya menunggu hadirnya hari minggu. Untuk menikmatinya dengan aktifitasnya sendiri, yang ia sukai tanpa ada yang mengintervensi.
Tempat-tempat bersantai pun dipenuhi orang-orang yang sedang memanjakan diri. Berbagai hobi dilakukan beramai-ramai. Yang hobi bersepeda, melepas rindu akan hobinya itu. Bersama keluarga mengayuh sepedanya ke sembarang tujuan, menikmati pemandangan melepas kejenuhan. Ada yang bersama teman sebaya, memecah tantangan ke tempat-tempat yang menantang. Tertawa bersama mengukir cerita demi cerita. Melupakan kepenatan hari kemarin, dan kepadatan agenda hari esok. Berpuas hati saat keringat membasahi sekujur tubuh. Mensugesti diri mendapat hadiah sehat, dari menggerakkan otot-otot dan sendi-sendi.
Sambil menyaksikan foto-foto mereka di grup WA, Aku berfikir begitulah hari minggu yang seharusnya. Sambil membayang-bayangkan, lain waktu ku kan bergabung dan ada dalam foto-foto itu bersama mereka. Berdiri mengangkat kedua tangan, di belakang sepeda berlatar pemandangan yang memesona. Memanjakan diri dengan mampir di warung kopi. Sederhana, tapi nikmatnya luar biasa. Begitu ku membayangkannya.
Minggu ini aku menikmati penuh waktuku di dalam rumah. Sehabis sarapan pagi diriku bimbang. Apa gerangan yang akan ku lakukan. Mengayuh sepeda dekat-dekat saja ataukah tetap stay di rumah. Mondar-mandir antara kamar dan teras depan tempat sepeda anakku bersiaga.
Hampir ku meraih celana yang biasa kupakai olah raga. Tapi tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah buku. Buku yang beberapa hari ini selalu ada di tas kecilku. Beberapa kali kubaca, tapi seakan tak bergerak halamannya. Buku yang sungguh padat dan berisi dari penulis yang sangat saya kagumi.
Buku itu berjudul, "Memahami Bahasa Agama, Sebuah Kajian Hermeneutika." Profesor Komarudin Hidayat adalah penulisnya. Dari penanda di belakang sampulnya, buku ini ku beli sembilan belas tahun yang lalu, tepatnya tanggal 31 Maret 2001. Entah berapa kali aku telah membacanya, banyak jejak-jejak berupa coretan tinta di tiap ku membuka halaman demi halaman.
Di antara kalimat dan paragraf yang ku garis bawahi, Komaruddin Hidayat dalam buku ini menuliskan;
"Ketika disuguhi sebuah teks, buku ataupun kitab suci, muncul pertanyaan di benak kita, siapakah sesungguhnya subyek yang berbicara dan siapakah obyek yang hendak disapa oleh teks itu?" Disadari atau tidak, ketika seseorang membaca sebuah buku sedikitnya di sana terdapat tiga subyek yang terlibat dalam membangun makna yang masing-masing mempunyai dunianya sendiri. (hal.1)
"Terhadap persoalan yang saling terkait antara dunia teks, dunia pengarang, dan dunia pembaca itulah pembahasan dalam buku ini akan diarahkan." (hal.3)
"Ibarat udara yang selalu kita hirup, bahasa bisa juga terkena polusi yang pada urutannya akan mendatangkan polusi dan penyakit pada sistem berfikir baik pada level individu maupun sosial." (hal. 3)
"Sepanjang sejarahnya manusia selalu terlibat dalam petualangan intelektual karena didorong rasa ketidak tahuan di satu sisi dan keingintahuan pada sisi yang lain. Perjuangan ini melahirkan dinamika sejarah yang ditandai dengan trial and error, selalu mencoba dan menggali hal-hal baru dan harus siap untuk menerima kegagalan. Setiap generasi yang lahir meneruskan kegelisahan intelektual generasi berikutnya sehingga horizon pengetahuan dan pengalaman manusia selalu melebar dari zaman ke zaman. Proses pelebaran batas pengetahuan inilah yang kemudian di sebut, "re-search", yaitu menggali dan menggali lagi khazanah pengetahuan yang masih tersembunyi. Manusia memang mengakui adanya "frontier" (garis perbatasan) dari khazanah pengetahuan yang telah diraihnya, namun selalu yakin dan menyadari bahwa "frontier" bukanlah "limit" (garis akhir) sehingga di balik perbatasan ilmu masih banyak lagi sumber ilmu pengetahuan yang bisa digali. Kesadaran akan perbedaan antara garis perbatasan dan garis batas ini analog dengan kesadaran bahwa akal manusia terbatas, tetapi tidak tahu persis sampai di mana batas akhir kemampuan akal untuk berfikir dan memproduksi pengetahuan baru. (hal. 22-23)
"Berbagai prestasi dan imajinasi manusia sepanjang sejarah akan hilang kalau tidak diawetkan dalam simbul-simbul kebahasaan. Bahkan wacana suci Tuhan dengan para Rasul pun memerlukan simbul-simbul bahasa yang berlaku pada masing-masing bangsa. Dengan bahasa manusia membangun dunia makna dan kemudian mewariskannya kepada generasi di belakangnya." (hal.25)
Dan seterusnya ...,
Demikianlah, berbagai aktifitas "bebas" di hari minggu. Dan di antara semua itu, rebahan di rumah sambil membaca buku adalah aktifitas yang paling murah, dan paling pas untuk para pemalas. Tak kehilangan apapun, termasuk tak kehilangan keringat. Yang terakhir ini tentu tak berhadiah sehat.
Maka ku pesankan pada diriku sendiri, "Segera menabung, supaya bisa membeli sepeda!" Supaya hari minggumu ..., tak di rumah melulu. [...]
Segera menulis agar bisa jadi buku pak, hehe
ReplyDeleteMasih tertatih2 membaca...bacaan juga terbatas...belum pernah blanja buku k jogja...pak Geng
DeleteNulis harianpun blum blum bs se istiqomah njenengan...
Pangestune tadz..
Dengan menulis berarti sudah menginfak kan ilmunya, tanpa beliau sadari.
ReplyDeleteMenulis ternyata kegiatan yang menyenangkan
ReplyDeleteAlhamdulillah...
DeleteTulisan yang sangat memotivasi.👍👍👍
ReplyDelete