Tiara

 


Duhai ..., Tiara, begitulah sejatinya malam. Hitam, gelap dan dingin. 

Baiknya kau tak mengutuk kedatangannya. Seribu kali kau mengutukinya, ia kan tetap datang. 

Menghampirimu, membersamai dalam separo hidupmu. 

Lebih baik kau nyalakan lilin. Untuk memperindah gelap dan hitam yang menyelimutimu. 

Mereka tak perlu melihatmu. Biar sinar lilin itu yang bicara, menarik hati mereka. 

Tiara ..., gelap dan terang itu bukan untuk dipilih. Keduanya dihadirkan dalam latar kehidupan.

Supaya kedua kakimu seiring melangkah. Supaya kedua tanganmu saling meraih.

Tiara ..., terus melaju dan raihlah. Bukankah dalam gelapnya malam, lilin itu menjadi indah. 


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia