Bahasa Dan Kohesi Sosial

 


Akhir-akhir ini sering kita mendengar ungkapan, "Anak jaman sekarang tidak punya tata krama." Ada dua hal yang terjelaskan dalam ungkapan tersebut. Pertama, "anak jaman sekarang," rupanya subyek (pembicara) sedang berusaha membandingkan sikap anak jaman dulu dan gaya anak jaman kini. Kedua,"tidak punya tata krama," rupanya pembicara sedang menilai bahwa anak yang sedang dilihatnya sebagai anak yang tidak punya adab dan kesopanan. 

Peristiwa yang melatari munculnya ungkapan di atas antara lain, saat seorang anak berjalan melewati orang yang lebih tua sedang duduk. Anak tersebut lewat begitu saja tanpa berucap (bahasa) apapun dan tanpa melakukan gerakan apapun. 

Dalam kultur jawa, telah menjadi tradisi bahwa jika seseorang melewati suatu majlis dan atau melewati orang yang lebih tua sedang duduk maka lakukan sikap "ngapurancang, sambil berucap nuwunsewu atau amit." Ngapurancang adalah meletakkan telapak tangan kanan di atas tangan kiri, sembari badan dan kepala merunduk. Hal ini merupakan bahasa adab dan kesopanan bagi masyarakat jawa. Jika perkara ini dilanggar maka orang tersebut dianggap sebagai tidak beradab dan tidak punya kesopanan. 

Tradisi ngapurancang dan berucap nuwunsewu merupakan contoh tindakan berbahasa yang akhir-akhir ini mulai ditinggalkan anak milenial. Tradisi ini menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara bahasa dengan nilai yang menyertai suatu bahasa. Pergeseran penggunaan bahasa jawa ke dalam bahasa Indonesia oleh anak-anak milenial turut menjadi andil terjadinya pergeseran nilai yang melekat pada bahasa daerah tersebut. Walaupun mungkin nuwunsewu telah diganti dengan permisi, tetapi secara rasa tidak seratus persen mewakili. Contoh ini bukan bermaksud membandingkan derajad dari dua bahasa tersebut. Tetapi untuk menjelaskan bahwa; bahasa, pikiran dan emosi serta nilai moral tidak bisa dipisahkan.  

Fenomena yang akhir-akhir ini menggejala adalah maraknya pertarungan tak sehat berbagai kelompok beda pendapat di masyarakat kita. Pertarungan itu tentu saja menggunakan bahasa sebagai media, untuk menunjukkan isi pikiran, emosi dari orang atau kelompok yang sedang saling tak sependapat dan saling tidak suka. Saling mengubur nilai kasih sayang antar sesama. Mereka dengan sesukanya memenuhi media sosial tempat semua khlayak mendulang informasi. Jadilah masyarakat pembaca dan pendengar sebagai pihak ketiga, yang menerima bahasa secara taken for granted sebagaimana orang menghirup udara. Semuanya masuk ke dalam tubuh dan pikiran tanpa saringan.  

Masyarakat dan bahasa, ibarat makhluk hidup yang setiap detik menghirup udara. Udara yang selalu kita hirup tak selalu bersih dan menyehatkan, adakalanya telah tercemari polusi. Demikian juga dengan bahasa. Ujaran kebencian, provokasi, hinaan, celaan, kebohongan, hoax, serta  caci maki adalah partikel polusi yang mengkontaminasi bahasa.  

Akibat dari polusi bahasa lebih berbahaya dibandingkan dengan polusi udara. Polusi udara hanya menyebabkan gangguan pisik pada saluran pernafasan, tetapi polusi bahasa menyebabkan sakit non pisik yang bermacam jumlahnya. Jiwa pun melayang akibat bentrok pisik antar individu, antar kelompok, bahkan kelompok masyarakat dengan aparat, kebanyakan bermula dari polusi bahasa. 

Demikian juga penyakit hati seperti, saling benci, marah dan dendam, juga bersumber dari pikiran kurang bijak yang dieksternalisasi dalam sebuah bahasa, baik bahasa tulis maupun lesan.

Bahasa sebagai medium komunikasi memiliki fungsi yang penting dan komplek. Karena itu kita harus bijaksana dan kritis, karena ancaman polusi pada bahasa jauh lebih berbahaya ketimbang polusi udara. Keduanya sehari-hari kita hirup tanpa jeda. Ibarat udara yang selalu membutuhkan oksigen, maka bahasa memerlukan muatan makna yang baik, benar dan indah. Jika Ketiga nilai itu menyertai bahasa, maka masyarakat sebagai konsumen bahasa akan ikut menjadi baik dan sehat cara berfikirnya. Jauh-jauh hari, agama telah mensyari'atkan, "Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, bicaralah yang baik atau diam," (Al-Hadits). 

Demikianlah, bahasa memiliki kaitan yang sangat erat dengan perilaku dan respons sosial. Kualitas bahasa yang membanjir di media sosialnya masyarakat Indonesia, mempunyai andil yang sangat besar terhadap membaik dan memburuknya kohesi sosial kita. [...]


Comments

  1. Mantab Kang Noer...saatnya kita memperhatikan pengajaran bahasa tepat untuk anak-anak kita...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Leres pak Ans... Bahasa yg baik disertai senyum orang yg sedang berbahasa/bicara mungkin juga termasuk rizki nggih??

      Delete
  2. Sangat setuju, betapa pentingnya berbicara dengan bertutur kata yang baik,

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia