Tradisi Pulkam Tersandra Corona



Akhir tahun 2020, hampir semua wilayah menunjukkan grafik konfirmasi positif Covid-19 meningkat tajam. Demikian pemberitaan media dan gugus tugas yang kita baca sehari-hari. Pengetatan dan social distancing kembali diberlakukan. Banyak daerah yang mensecreening pendatang luar kota yang masuk ke wilayahnya.  

Sebagaimana biasa, masyarakat kita umumnya menikmati liburan nataru dengan pulang kampung. Lebih-lebih hari raya idhul fitri pada bulan Mei 2020 yang lalu juga tak diijinkan mudik. Nyaris tradisi pulang kampung (mudik) tak dapat dilaksanakan semassif biasanya. 

Di era ini, kebutuhan komunikasi dengan keluarga di kampung halaman memang tak banyak kendala. Media online telah menyiapkan segala perangkatnya. Tapi apakah silaturrahmi cukup dengan sambungan jarak jauh? Jika hanya soal berbagi kabar mungkin dengan smartphone sudah teratasi. Tapi sambung rasa, sambang sanak saudara dan tetangga di kampung halaman tak mampu dilakukan hanya dengan tatap maya. Perlu jiwa dan raga hadir untuk bertatap muka secara langsung. Sambung secara lahir dan batin. 

Kemarin, seorang teman beserta keluarganya telah menyiapkan segala keperluan untuk mudik ke kampung halaman. Kendaraannya telah diservis, dompetnya diisi, hadiah dan jajanan untuk keluarga pun telah dibelanjakan.  Daerah tujuannya tak jauh, hanya beda kabupaten saja.

Sambil bercerita ia menarik nafas panjang. Perjalanannya terhenti, karena ada pemeriksaan untuk kendaraan pendatang dari luar kota. Pemudik dari luar kota wajib mengikuti rapid test antigen dan atau swab test PCR. Jika hasinya reaktif, maka prosedur berikutnya adalah wajib isolasi sekian hari. Pasti repot, pikirnya. 

Akhirnya ia beserta keluarganya memilih opsi kembali ke rumah, alias gagal pulang kampung (pulkam). Hadiahnya urung diberikan, jajannya tetap dalam kemasan, angpaonya tak jadi beredar, rencana empat hari jajan di kampung halaman tinggal rencana. Biasanya sedikitnya 2 juta dana silaturrahmi di kampung halaman ia siapkan dan habiskan. 

Kawan, satu contoh ini sebearnya mewakili sekian ratus orang yang punya kebiasaan sama. Maka kita bisa membayangkan jika ada seratus orang yang gagal mudik/pulang kampung seperti itu, maka setidaknya ada uang 200 juta uang dari kota gagal beredar di suatu desa. Uang-uang itu tak jadi mampir di toko jajan, toko mainan, warung serta tak jadi masuk ke sakunya keponakan serta mbah-mbah sepuh yang dulu ngemong mereka. 

Logika metematis di atas, bolehlah dipakai untuk mengestimasi berapa jumlah uang yang semestinya masuk dan beredar di desa-desa dalam satu kecamatan.  Tentu saja jika situasi baik-baik saja tanpa adanya hambatan pulkam bagi keluarga yang mengais hidup di luar kota (urban). 

Begitulah roda kehidupan. Semua akan berputar jika arus distribusi manusia berjalan lancar. Laksana peredaran darah, lancarnya distribusi adalah indikasi kesehatan jasmani. Karena itu tidak berlebihan jika dikatakan bahwa silaturrahmi punya hikmah memanjangkan umur dan meluaskan rizki.[...]

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia