Diantara Mereka Yang Saling Berbeda
ALAT ITU BERNAMA MEDSOS
Pada hakekanya tujuan akhirnya adalah sama. Sama-sama mencita-citakan sebuah tatanan kehidupan yang damai, dan bahagia. Bila diilustrasikan kedua kelompok ini sama-sama menuju suatu tempat di barat. Yang satu mengambil jalan selatan dan kelompok satunya lagi mengambil jalur utara. Sepanjang jalan keduanya saling membenarkan diri mereka sebagai penempuh jalan yang paling benar, dan menghukumi kelompok yang lain pasti salah, bahkan tersesat.
Jagad medsos (media sosial) benar-benar menguasai dunia manusia dewasa ini. Di jaringan maya semua bertanding menampilkan eksistensinya masing-masing. Berbagai potensi diri di gali, ditata sedemikian rupa hingga jadilah sebuah informasi menarik yang disebut konten (content). Konten yang telah matang, siap dijajakan melalui medsos berbasis internet, masuklah ke sebuah pasar besar yaitu jaringan komunikasi internasional (internet). Sejurus kemudian akan didapatkan sebuah predikat disukai atau tidak disukai oleh khalayak netizer.
Keampuhan medsos dalam menyebarkan sebuah konten sangat menguntungkan bagi penjual talenta. Akan menjadi madu bagi tatkala talentanya terjual di pasar dan menjadi trending topik. Pintu-pintu keuntungan materi pun telah terbuka lebar. Sebaliknya, di era ini banyak lapak harus gulung-tikar karena terlambat menyesuaikan diri dengan teknologi informasi.
Era teknologi informasi adalah era tumbuh-suburnya nya media sosial. Semua aspek kehidupan wajib beradaptasi untuk berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK). JIka tidak, siap-siap menjadi terasing di jaman ini.
DUNIA POLITIK DI JAGAD MEDSOS
Tidak hanya barang dan jasa yang diperdagangkan. Konten politik juga tampil tak kalah meriah di dinding-dinding medsos. Tak terkecuali dua kelompok seteru yang --tak abadi-- saling beradu benar. Tiada waktu tanpa berdebat dan bertukar argumentasi. Di antara mereka tak pernah ada hal yang benar dan baik , selalu kurang dan bahkan salah. Itulah kacamata politik. Apapun fenomena yang terjadi hari ini, selalu disikapi dengan gegara penguasa. Bagiku dan bagimu, menurutku dan menurutmu. Dua kelompok yang bersepakat menempuh jalan yang berbeda walaupun tujuan akhirnya sama. Perkara apapun yang keluar dari persekutuan jalur selatan, pasti salah besar di mata persekutuan jalur utara. Kritisnya bisa jadi abadi, tetapi persekutuannya akan bongkar pasang sesuai dengan drama kepentingan yang mereka mainkan.
Kedau kelompok itu sama-sama memiliki team khusus. Mereka bekerja keras menguasai jagad medsos. Meyakinkan kelompoknya masing-masing dan orang lain, akan kesalahan dan kesesatan kelompok lain.
Kerasnya pertarungan membuat mereka tak mampu melihat sisi kesamaan hakekat tujuan akhir kehidupan yang sama-sama diperjuangkan. Lupa bahwa yang berbeda hanyalah jalannya. Lupa betapa jalan itu sejatinya memang plural dan lurus. Lupa bahwa mereka sedang berada di sebuah jalan, masih jauh dari tujuan yang dituju. Belum waktunya mengibarkan sebuah bendera kemenangan sembari meneriakkan ejekan kekalahan pada lawannya.
Diantara dua kelompok berkonflik tersebut sebenarnya ada kelompok ketiga, keempat dan seterusnya. Posisi mereka beragam. Ada yang sebagai pononton, penikmat dan bahkan pendulang manfaat. Kelompok penonton sekuat tenaga mereka menahan diri dari mengeluarkan statemen ini dan itu, karena kawatir dituduh sebagai bagian dari salah satu kelompok. Sekali waktu mereka mengekspresikan dirinya dengan tersenyum dan gemas melihat perang sengit, berebut benarnya sendiri itu. Kelompok penikmat punya kesenangan tersendiri saat dua kelompok wayang itu makin sengit beradu logika dan pembenaran. Adapapun kelompok pendulang manfaat, ia selalu kebanjiran keuntungan saat kedua kubu itu makin beringas dan energinya terkuras.
Tak tahu pasti kapan situasi runyam ini akan berakhir. Atau mungkin telah menjadi kesengan baru penghuni negeri ini. Yang pasti, pasar besar informasi dan komunikasi selalu butuh isu untuk memenuhi lapak-lapak mereka.
Bersambung...
Penuh misteri...
ReplyDeleteArah dan topik tulisan yg bikin penasaran dan penuh teka teki...
Yaa.... Itulah seni menulis....
Menunjukkan pikiran penulisnya sedang bingung...hhh
DeleteSepertinya seri berikutnya akan lebih menarik
ReplyDeleteTak tahu kenapa satu paragraf itu kini begitu berat p pri...hhh
Delete