Dibuka Dengan Broiler Parent Stock

 


Broiler Parent Stock (BPS) kami menyebutnya. Jenis ayam ras pedaging afkir yang sempat selamat dari masuk transaksi pasar sayur pada usia empat puluh hari, sebagaimana biasanya. Mendapatkan bonus; kesempatan hidup bebas selama kurang lebih satu tahun. Tubuhnya bongsor, kekar ber-otot, padat berisi. Bobotnya membengkak empat kilogram dari biasanya yang rata-rata hanya satu setengah kilogram saat memasuki masa panen. Kebebasan hidup benar-benar dinikmatinya dengan memakan segala rupa makanan yang tersedia. Memang hanya itu saja tugasnya, makan dan tidur. Sambil menunggu masanya tiba. Sebuah hari dimana sang pemilik mengantarkannya ke kehidupan berikutnya, surga. Karena telah berhasil menjadi bermanfaat bagi kebutuhan pangan manusia.   

Sore itu, Jum'at 04 September 2020. Dua kantung plastik kiloan berisi daging broiler parent stok bersih yang telah dipotong-potong. Diantar kerumahku, dipasrahkannya untuk  dimasak sekehendakku. Dijadikan uborampe , melengkapi kegiatan nanti malam. Kegiatan belajar bareng, di serambi Musholla kecil Perumahan Puri Jepun Jermai 2 Tulungagung.

Lebih dari dua tahun sejak Bulan Syawal 1440 H / 2018 M. Kemudian diliburkan semenjak mewabahnya covid-19 bulan Maret 2020. Kerinduan untuk memulai kegiatan jum'at malam sabtu terus menguat, disaat  upaya perang melawan covid-19  tak kunjung menunjukkan kepastian kapan berakhir.  

Dua jam air mendidih bertabur garam, bawah putih, jahe, kunyit,  dan bumbu racik. Merebus daging broiler tua. Menguapkan aroma sedap nan gurih. Proses ini sungguh penting untuk mematangkan sekaligus meng-empuk-kan, otot-otot daging broiler tua yang padat. Jika proses ini gagal maka tak kan mampu gigi menaklukkannya. Sebaliknya jika sukses, maka sensasi rasanya laksana daging lembu, tak jauh berbeda. 

Begitulah sebagian istiadat menyertai kegiatan serambi musholla di malam sabtu selama ini. Semata-mata untuk semakin memperkokoh paseduluran. Menyadari bahwa satu lingkungan kecil yang terbentuk menjadi komunitas baru. Bermula dari kesamaan memilih membeli tempat singgah sederhana yang kemudian menjadi sebuah rumah tempat tinggal.  Perumahan; adalah lingkungan baru berkehidupan bersama. Dari berbagai asal daerah dan latar belakang. Bersepakat membangun paseduluran. 

Sebuah tatanan perumahan baru seperti ini adalah sebuah tantangan. Akankah memilih jalan hidup individual ataukah membuka diri untuk menciptakan kebermaknaan hidup bersama dalam bertetangga. Dan kami yang ada dalam cerita memilih bahwa saudara terdekat itu adalah tetangga. Saling membuka diri dan bekerjasama menciptakan swasana kekeluargaan yang hangat dan bermanfaat. 

Siang hari kami semua berhambur keluar, menjalani laku kehidupan masing-masing. Berburu rizki yang ditebar Sang Maha Pemurah. Kami memungutinya dari tempat dan cara yang berbeda-beda. 

Malam hari mestinya kami beristirahat di dalam kamar rumah masing-masing. Rasanya ada yang kurang, jika hanya seperti itu-itu saja. Siang bekerja malam tidur, berangkat kerja lagi pulang tidur lagi dan seterusnya. Sampailah suatu waktu secercah cahaya itu hadir. Tentu saja kami menyambutnya untuk menjadi lentera penerang jiwa. Hasrat dan kerinduan belajar ternyata masih tersisa di dalam jiwa-jiwa kami. 

Laksana air hujan turun di tanah yang gersang. Saat mendengarkan nasehat, ilmu dan kalimah-kalimah bijak dari seorang guru spiritual (Mursyid). Merasa menemukan sesuatu yang sedang bersusah payah di cari. Merasa menemukan sumber air di tengah gurun gemurun pasir.  Kami menikmatinya, kami terus merindukannya. Kesempatan ini adalah sebuah cahaya di dalam kegelapan. Kesempatan ini adalah setetes air yang hadir dikehausan.

Jujur harus kami akui, hidup kami belum sepenuhnya benar. Belum sepenuhnya mengenali siapa diri ini yang sebenarnya. Siapa diri ini sejatinya, mengapa dan untuk apa Sang Pencipta menghadirkannya di dunia ini? Pertanyaan inilah yang sedang kami cari jawabannya.  Dan ternyata jawabannya benar-benar panjang kali lebar, tak ada habisnya. Semua jawaban tersimpan dalam ilmu dan wahyu Nya. Sementara ilmu kami sangat tipis, apalagi memahami wahyu-wahyu Nya, masih jauh panggang dari api.

Karena itulah kami (15 bapak-bapak muda) bersepakat membuat suatu sekolah. Mendaftarkan diri sendiri, sebagai murid-muridnya. Pasti Dia telah menyiapkan gurunya, untuk mendidik dan menuntun hamba-Nya yang memohon di beri Petunjuk. Untuk membukakan pintu-pintu kesadaran (conscious) yang menggiring kepada jalan yang makin lurus.

Ilmu yang sangat sedikit, tapi telah membuat kami begitu sombong dan sok tahu. Tentang hidup yang baik dan benar. Karena itulah Gus Sauqi (guru kami) pada dua tahun yang lalu memulainya dengan mendedah perihal niat. Sebuah aktifitas batin yang harus dihadirkan di tempat yang tepat. Aktifitas ini sekaligus menegaskan posisi siapa kita dan kepada siapa perjalanan hidup ini dipersembahkan. Kepada siapa keseluruhan karunia hidup ini di gantungkan. 

Kesalahan dalam berniat sama dengan salah tempat dalam menggantungkan sesuatu. Jika itu yang terjadi maka kerugian lah yang diperolah. Karena "Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya seseorang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang diniatkannya".... (Al-Hadits)

Niat yang benar adalah menyandarkan dan menggantungkan sesuatu kepada Dzat Yang Maha Tinggi, lillahi ta'ala

Malam itu kami mendapatkan sebuah nasehat tentang pentingnya ilmu dan adab (akhlaq). Ilmulah yang mengantarkan manusia mampu mengenali siapa dirinya, dan lebih-lebih siapa Tuhannya. Ilmu lah yang membedakan satu manusia dengan manusia lainnya, terlebih dengan makhluk yang lain. Ilmu merupakan bagian dari Hidayah yang diberikan oleh Alloh. Dengan ilmu manusia mampu membedakan kebaikan dan keburukan, aman dan berbahaya, benar dan salah. Dengan ilmu pula manusia mampu menaklukkan sesua yang menjadi hambatan dalam hidupnya. 

Adapun ungkapan al-adabu fauqol 'ilmi, adab itu lebih utama dari pada ilmu, maksudnya bukan untuk membandingkan orang ber-adab dan orang berilmu. Ungkapan ini menjelaskan bahwa "jika kita tidak beradab, sedangkan kita adalah orang yang berilmu, maka ilmu yang kita miliki itu tidak ada harganya sama sekali". Karena ilmu yang kita miliki itu tidak mendidik (mentarbiyah) diri kita menjadi orang yang semakin baik, semakin ber-adab. Ketinggian ilmu harus berbanding lurus dengan kerendahan hati di hadapan manusia dan Tuhan. Karena setinggi apapun ilmu seseorang, dibanding ilmu Nya hanya seujung pena dibanding air di luas dan dalamnya samudra. 

Dengan ilmu kita menjadi kenal diri, kenal Alloh dan ber-adab. Karena itulah, supaya semakin kenal diri, semakin dekat dengan Alloh dan makin rendah hati, maka tidak ada alasan untuk tidak "mengaji". Bahkan semakin berkurangnya usia ini, mestinya semakin khusyu' dalam mendalami ilmu untuk bekal perjalanan di hari kemudian [....]

Tak terasa sudah pukul 24.00 Wib. Bismillah, ijinkan kami menikmati Broiler Parent Stock Goreng, plus sambal bawang.  Allohumma bariklana... Aamiin. 


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Profesor Ngainun Naim, Yang Dari Dulu Sudah Dipanggil Prof

Mimpi Millenial, dan Fenomena Fiki Naki Dayana

Menua, Berguru Pada Usia